Selasa, 01 Agustus 2017

Bicaralah Kepada Kami Perihal Cinta

Bicaralah kepada kami perihal Cinta. Begitulah pertanyaan seorang peramal bernama Almitra kepada Almustafa. Dan dengan suara anggun ia berkata:



Jika cinta mengajakmu, ikutilah. 
Meskipun jalannya sulit dan curam.

- Kahlil Gibran, dalam Almustafa (2017)

Tanpa cinta, hidup kita barangkali tidak akan punya makna dan tak tentu arah. Sama halnya dengan perjalanan, tanpa panduan, "sampai" tak akan tiba dengan sendirinya. Tetapi panduan saja kadang tidak cukup, kita harus memahami keterangan, penjelas dari panduan yang galibnya berisi simbol-simbol yang butuh penjelas.

Lalu apa jika panduan ada dan keterangan tersedia? Jawabannya, kemauan. Mau untuk mengikuti apa yang sudah diterangkan dalam panduan, sehingga kita bisa leluasa memilah dan memilih secara sadar, bukan karena ikut-ikutan. Apakah ajakan cinta pun serta-merta harus diikuti?

Persoalannya kadang sebatas definisi mana yang kita yakini dalam perkara memandang apa atau siapa itu cinta. Memang definisinya apa? Banyak sekali. Setiap orang bisa punya pengertiannya masing-masing. Namun demikian, jika mengacu kepada baris kedua jawaban Kahlil Gibran dalam Almustafa, maka cinta tidak lepas dari rasa, karena jalan yang ditempuh cinta sulit dan curam.

Di jalan yang sulit dan curam, apatah lagi yang dibutuhkan selain keberanian mengambil risiko? Jawabannya, disampaikan Nicola Yoon, bahwa risiko terbesar adalah tidak mengambil risiko. Maka dari itu, mengambil keputusan atau sikap atas segala pilihan itu perlu apa pun risikonya. Sebab permulaan tidak selalu menggambarkan akhiran. Proses perjalanan itu tidak seperti proses air mengalir sampai jauh melalui paralon. Cinta itu (ber)jalan. Jalan itu bukan sekadar saluran.

Mengapa jalan cinta seperti itu, sulit dan curam? Apakah karena ada kemungkinan bertepuk sebelah tangan? Itu satu soal, dan tidak penting jalan cinta yang kita tempuh itu kondisi bagaimana, sebab fitrah utamanya hanya dua, mencintai dan dicintai. Seseorang yang diajak secara personal itu, bisa leluasa menentukan fitrah yang mana yang hendak didahulukan, sekalipun yang afdal kedua-duanya. 

Pada akhirnya, yang nyata adalah kesungguhan dalam menempuh itu, bukan dalam klaim kesempurnaan. Sebelah tangan, bukan sesuatu yang salah, bukan? Tinggal ikuti ajakannya, dan proses berjalan melalui hukumnya masing-masing.

Apakah ini bicara perihal cinta?

Ah, pertanyaan, kadang tidak untuk dibicarakan. Hanya sekadar tulisan. Tetapi sebail-baik pembicaraan memang yang ada cinta di dalamnya.

Mudah-mudahan ada yang berkenan membaca. Omong-omong, selamat bulan Agustus ya! Insya Allah mulai mengaktifkan kembali Merindu Pagi--Semoga saja bukan sekadar wacana. Hahaha

[] 

2 komentar:

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire