Selasa, 30 Mei 2017

Mengulas Luka Dalam Bara

"Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. Aku mencintainya karena ia menjadi rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan."

 

Untaian kata yang memikat tersebut merupakan blurb pada buku Luka Dalam Bara yang ditulis oleh Bernard Batubara yang diterbitkan oleh Penerbit Noura. Rangkaian yang berkesan itu membuat aku tertarik untuk membacanya. Tetapi karena belum berkesempatan memiliki buku cetaknya, aku memanfaatkan gawai untuk terlebih dahulu membacanya dalam bentuk buku-el dengan cara meminjam melalui aplikasi Jakarta Digital Library atau Ijakarta.id, salah satu aplikasi perpustakaan digital yang mudah diakses, gratis, dan koleksinya banyak. Kegiatan membaca pun menjadi semakin mudah. Mau merasakan hal yang sama? Silakan unduh aplikasinya sekarang!

https://ijakarta.id/download/iJakartaSetup-latest.exe
https://itunes.apple.com/us/app/ijakarta/id1001852406?ls=1&mt=8 https://play.google.com/store/apps/details?id=mam.reader.ijakarta

Luka Dalam Bara kuselesaikan dalam sekali duduk, karena keseluruhan tebal buku ini hanya 108 halaman. Tetapi, karena isi di dalamnya banyak menyoal "luka", aku pun kerap dibuatnya tercenung beberapa lama, larut dalam fragmen-fragmennya yang sangat personalsekalipun buku ini dilabeli "novel" pada sampul belakangnya, untuk mengesankan kefiksiannya yang berdasarkan kisah nyata (?), penulis dalam pembukaannya mengakui kepersonalan karyanya ini, yang semacam diary, buku harian. (hlm. 3) Ini tentu menjadi spesial, khususnya bagi pembaca yang sudah sejak awal mengikuti jejak karyanya, mengingat Luka Dalam Bara merupakan karya kesebelas dari penulis.

Ada pun aku, sebagai pembaca yang belum lama mengenal karya-karyanya dan dari kesebelas bukunya yang sudah terbit aku baru membaca ini serta kumpulan cerpennya bertajuk Metafora Padma, aku cukup terkesan dengan Luka Dalam Bara.

Mengapa terkesan? Karena dari segi teknik penulisan, penyajiannya, novel iniyang menurutku lebih cocok disebut novela, berbeda dengan lazimnya novel pada umumnya, walau begitu inilah yang dinamakan kreativitas dalam menulis yang justru memberikan kesan tersendiri dengan kesegaran yang tidak monoton—lagi pula sejauh unsur intrinsik prosa terpenuhi, sah-sah saja buku ini disebut novel.

Bagaimana dengan kisahnya? Berbicara tentang rasa, yang kemudian disebut cinta tidak lepas dari yang namanya "penderitaan" atau "Luka". Apalagi setiap kita mengimpikan kehidupan yang bahagia, sejak masa pacaran. Namun begitu, hidup memang tidak lepas dari "kecemasan" dan "kesedihan". Dan dua hal itulah yang menjadi benang merah Luka Dalam Bara. Ini kisah, tentang jejak jatuh cinta dan segala persoalan yang dapat muncul di sekitarnya, yang boleh jadi disebabkan ruang, waktu, dan seseorang.

Uniknya, kesedihan dalam buku ini dimaknai lain oleh penulis, yang memberikan sudut pandang baru kepada pembaca, sehingga kita menjadi lebih tabah dan sadar bahwa itu bagian yang niscaya, bahwa dalam cinta, "semakin kentara sedihnya, maka semakin dalam cintanya." (hlm. 8)

Ungkapan yang berparadoks, tetapi bukan tanpa alasan. Itu justru yang memberikan nilai lebih dan otomatis menarik pembaca untuk terus membuka halaman demi halaman buku tersebut. Dalam buku ini, penulis berusaha menuturkan sisi lain cinta—berdasarkan apa yang dirasakannya. Bukan tentang tawa, tetapi tentang derita atau luka, yang ternyata dapat menciptakan senyuman dan kelegaan tersendiri.

Kita ketahui bersama, manusia memang makhluk yang kiranya tidak pernah jenuh atau jemu bercerita tentang cinta beserta lukanya, dan tidak sedikit pembaca suka dengan cerita semacam itu, termasuk aku. Bahkan sekalipun derita itu datang bertubi-tubi, pada akhirnya kita tidak pernah menyerah untuk berharap kembali, mengulang lagi, mencoba terus, menyusuri jalan cinta. Sekalipun, "hati jauh lebih berbahaya dan menenggelamkan." (hlm. 78) serta adanya kemungkinan apa yang kita rasakan tak membuahkan balasan yang setimpal jelas membuat cemas. Untungnya, buku ini tidak secara alay menyoal kegalauan, justru yang tampak adalah proses pencarian makna dari segala hal tentang cinta dan buah lukanya. Termasuk solusi jika masalah kecemburuan terjadi lho.

Betapa! Sebuah bacaan yang menantang dan sayang untuk dilewatkan, bukan?!

 
Sampul Luka Dalam Bara baca via iJak

Secara keseluruhan buku ini terbagi menjadi enam bagian yang masing-masing bagian terdiri dari beberapa fragmen. Adapun bagian-bagian itu berupa: Memo-memo Memori (hlm. 7 - 27), Kronik Sebuah Perjalanan (hlm. 31 - 40), Surat-Surat untuk J (hlm. 43 - 55), Dialog-Dialog yang Tidak Pernah Terjadi (hlm. 59 - 70), Agedan-Adegan yang Tercipta di Udara (hlm. 73 - 83), dan Ingatan-Ingatan yang Hanya Samar (hlm. 87 - 98).

Walaupun berisikan luka, bahasa yang dikreasikan penulis terbilang manis. Sederhana tetapi kaya. Berisi momen keseharian yang ditanggapi secara khas. Dan yang tidak bisa diabaikan, buku ini menghadirkan ilustrasi-ilustrasi yang indah, yang memperkuat bangunan kisah di dalamnyameski begitu bisa dimaknai secara terpisah. Secara pribadi, selepas membaca buku ini, aku merindukan kembalinya pertemuan-pertemuan, tetapi mungkin bukan pertemuan itu sendiri yang membuatku melangut dan membuat hati ditimpa musim basah dan kering secara ekstrim, melainkan rindunya itu sendiri. Sebagaimana penulis katakan (hlm. 74), "... bahwa rindu yang paling hakiki adalah rindu terhadap rindu itu sendiri."

Hanya saja, aku sempat terhenti pada halaman 95, pada baris "Kamu memilih untuk menemanimu seharian.", yang jika aku sambungkan dengan kalimat sebelumnya, rasanya lebih tepat jika ditulis "Kamu memilih untuk menemaniku seharian." Namun, jika dibiarkan begitu pun sebenarnya asyik juga, dan menimbulkan pertanyaan yang menarik, apalagi kita kadang jarang memedulikan diri kita sendiri, jadi sekali waktu kita memang perlu juga menemani diri kita sendiri dengan (hanya) kita sendiri. 

Pendek kata, terima kasih, Bara, untuk sajian lukamu ini. Mudah-mudahan, suasana malam di kota cintamu tidak akan berubah, sekalipun tanpa atau tidak dengan dia lagi.

Semoga, kalian pun berkesempatan membaca buku ini ya. 

Aku berencana membeli buku versi cetaknya, karena aku jatuh suka, dan karena buku ini memberikan warna baru saat aku membacanya.

[]

Sekilas Identitas Buku

Judul: Luka Dalam Bara
Penulis: Bernard Batubara
Ilustrasi sampul dan isi: @alvinxki
Penyunting: Teguh Afandi
Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
Foto penulis: Pundan Katresnan
Penata letak: CDDC/NA
Tahun terbit: 2017
ISBN: 978-602-385-232-1

1 komentar:

  1. Bara yang menyala, membakar kembali luka yang hampir pulih di waktu sebelumnya. *Baper*

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire