Minggu, 23 Oktober 2016

Tempat Paling Sunyi by Arafat Nur


Novel Tempat Paling Sunyi by Arafat Nur



Ikhtisar

Sebisa mungkin aku menyembunyikan kesedihanku darinya, agar tidak membuatnya tambah hancur… Aku mengintipnya lewat jendela, dan ketika melihatnya kembali dalam kekecewaan, aku pun menangis…

            Mustafa rela mengorbankan dirinya hidup menderita dalam kungkungan Salma, di tengah situasi kacau wilayah yang sedang dilanda perang saudara. Bertahun-tahun dia terus berjuang mewujudkan impiannya, sampai kemudian dia menemui cinta sejati dari Riana yang membangkitkan kembali semangat hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, Mustafa kembali terempas, jatuh terpuruk dalam ketidakberdayaan; di dunia ini dia berjalan seorang diri melalui tempat yang paling sunyi…
***
            Adakah tempat yang paling sunyi?
Arafat Nur mencoba mengajak pembaca menjejakkan diri ke tempat yang paling sunyi yang coba dihadirkannya, melalui jalan kerumitan bernama “novel,” “perang,” “cinta,” dan “penderitaan.”

            Misalkan ini sebuah dongeng, sayangnya bukan dongeng pada umumnya. Karena apa yang membuat takjub ternyata justru membuat terjerembat, keajaiban seolah hanya fatamorgana belaka. Tentu saja, apalagi di wilayah perang saudara. Apa yang ajaib dari peluru ataupun tetes darah ke atas tanah? Tidak ada, namun orang kadang masih punya harapan di tengah jutaan kehilangan. Itu yang dicoba oleh Mustafa, menurut penuturan sang pencerita. 

            Bagaimana pandanganmu terhadap novel?” 

            Sebagaimana umumnya pertanyaan tentu ada harapan akan jawaban, apa yang didapat oleh Mustafa jelas diluar dugaannya, bahwa gadis bernama Salma itu menjawab, “Novel adalah dunia yang tak pernah mati-mati.” (hlm. 19) Bagi Mustafa jawaban gadis polos itu sangat memukau, dan seolah-olah sangat langka terdapat di Aceh. Sehingga menurutnya, kecerdasan dan kedewasaan gadis itu layak menjadi pertimbangan sebagai pendampingnya di kemudian hari.

            Benar memang, pada akhirnya Mustafa menikah dengan Salma. Seiring dengan itu “pintu-pintu neraka” pun mulai membuka dirinya masing-masing, secara nyata, dengan apa adanya. Ini jelas diluar dugaan Mustafa, mengapa Tuhan menakdirkan dirinya harus menikahi perempuan tersebut—padahal dirinya sendiri yang memilih hal itu. Jelas ada konflik psikologis. Memang tidak mudah mengambil keputusan, bukan?

            Seperti dikatakan di awal, melalui tokoh Mustafa pencerita menawarkan arus cerita yang penuh kepiluan, sekaligus prihatin atas kenyataan yang dihadirkan, utamanya atas kondisi yang dihadapi oleh Mustafa, serta kebiasaan yang dibentuk oleh tokoh-tokoh perempuannya, dalam hal ini Salma dan Ibunya—aku nyaris tidak percaya serta jengkel dengan karakter keduanya, sayangnya aku bukan perempuan Aceh jadi tidak bisa bicara banyak soal itu, namun satu hal yang pasti ada pesan bahwa diperlukan “cahaya” atas kerumitan yang ada dalam kegelapan budaya.

            Sebagai novel dewasa, Tempat Paling Sunyi menghadirkan konflik rumah tangga yang tidak biasa, beberapa hal sangat dekat dengan masalah-masalah keseharian. Hanya saja, Mustafa punya kepentingan tersendiri dalam hidupnya, yakni menulis novel. Cinta pun menjadi tidak mudah dipahami begitu saja. Sedangkan penderitaan tak kunjung usai sebagaimana perang yang terus saja berkecamuk. Menghasilkan kekusutan yang tiada hingganya. Tetapi kadang Tuhan punya rencana-rencana tak terduga. Termasuk terhadap Mustafa, yang pada akhirnya menemukan muara lain bernama Riana. 

            Hal itu pun tidak gampang terjadinya. Rasa bersalah atas tanggung jawab yang seharusnya. Serta hal-hal yang menyedihkan lainnya, seperti kenyataan bahwa beberapa kenalannya harus mati sia-sia dalam perpecahan. Belum lagi, kekonyolan atas apa yang dilakukan oleh mertua Mustafa. Serta adanya fakta bahwa barisan yang katanya bertujuan untuk mengamakan, kerap malah membuat ricuh dan cekam pada masyarakat. Ia, Tempat Paling Sunyi tidak lepas dari kritik terhadap politik militeristik. 

            Secara garis besar ada dua kisah dalam Tempat Paling Sunyi ini, tidak bisa dibilang keduanya terpisah, pun tidak bisa dibilang sangat berkaitan. Benang merah jelas ada. Dan aku pribadi lebih suka dengan penceritaan pada kisah belakangan, bukan diawal-awal. Rasanya lebih mengalir saja bagian-bagian di akhirnya itu. Sekalipun kepiluan tidak berhenti, terus menderas dan bikin aku harus menahan napas berkali-kali, dan menghelanya dengan perasaan yang berat. Sehingga aku harus mengulang pertanyaanku sendiri terkait akhir yang harus dialami oleh para tokohnya, baik Mustafa, Salma, Riana, termasuk sang pencerita, “kenyataankah ini?”

            Secara umum, Tempat Paling Sunyi kisah yang unik. Sarat konflik psikologis dan problem mental akibat dari dalam maupun luar, serta ada sedikit kredo di dalamnya. Tekanan di sana sini. Bahasa yang lugas dan “panas”. Tidak “puitik”, sekalipun menawarkan diksi “sunyi” pada judulnya, namun sepanjang cerita tidak lepas dari keharubiruan perasaan yang mencabik-cabik bagai puisi yang menyayat. Gaya bahasa Arafat Nur tetap khas, terasa klasiknya. Namun tetap dapat dipahami maksudnya. Sekalipun, yang agak disayangkan, masih banyak terdapat kesalahan ketikan di beberapa halamannya. 

            Novel yang tidak ringan ini, sangat cocok dikaji lebih lanjut, tidak hanya dibaca. Selamat jika Anda berhasil membaca novel yang “rumit” ini. Tentu setelahnya, sedikit banyak mata kita akan terbuka atas beberapa kenyataan yang nyata namun pahit rasanya ituyang seharusnya tidak dibiarkan. Sekali lagi, jika saja cerita ini sebuah dongeng… Selamat membaca!


IDENTITAS BUKU
Judul Tempat Paling Sunyi
Penulis Arafat Nur
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Tahun 2015, 328 halaman
ISBN 978-602-03-1742-7

1 komentar:

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire