Minggu, 16 Oktober 2016

Novel Anak: Misteri Chiroptera Penculik by Sri Widiyastuti



If you want your childre to be intelligent, read them fairy tales.
If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.
—Albert Eisntein

Karya abadi akan terus dikenal lintas generasi.
—Sri Widiyastuti

Novel Misteri Chiroptera Penculik by Sri Widiyastuti (Dok. Pribadi)



Bisa dibilang, ini merupakan novel anak pertama yang kumiliki dan selesai kubaca. Jujur saja, sebagai seorang yang jauh dari tradisi literasi sejak dini, karya fiksi anak memang tidak terlalu banyak melekat di hatiku. Paling bantar, aku memperoleh dongeng fantasi dari layar televisi. Sampai kemudian, aku sadar bahwa tidak ada kata terlambat bahkan bagi mereka yang secara usia bukanlah dalam fase anak-anak. 

Aku pun mulai tertarik dengan buku-buku fiksi anak. Apalagi setelah membaca beberapa cerpennya Rudyard Kipling. Di lain sisi, beberapa buku anak sangat kaya dengan ilustrasi. Hal itu jadi poin tersendiri, yang menarik minatku. Dan beberapa pekan yang lalu, aku berkesempatan membaca novel anak yang kumaksud, dengan judul MISTERI CHIROPTERA PENCULIK Karya Sri Widiyastuti—aku patut berbangga, karena penulis lahir di  Kota Hujan, Bogor—sama sepertiku. 

Cukup lama, sampai aku berhasil menyelesaikan novel tersebut—mengingat ada banyak antrean buku yang harus kuselesaikan. Alhamdulillah, pada akhirnya selesai juga. Terlebih setelah aku sempat bertanya dengan Mbak Novitasari yang sudah lebih dulu menyelesaikan novel tersebut. Rasa penasaranku pun semakin meningkat.

Apalagi sinopsisnya “menjerat” seperti ini:

            Hujan yang mengguyur membuat Sarah nekad bersepeda lewat pohon beringin dekat lapangan. Padahal pohon beringin itu terkenal angker! Dan Nenek bilang, anak gadis tidak boleh berkeliaran di luar saat Magrib. Benar saja, sesampainya di bawah pohon beringin, Sarah merasa melihat sesosok kelelawar raksaksa. Benarkah itu si hantu kelelawar penculik anak-anak, atau khayalannya belaka?

            Sarah, dan kedua sepupu kembarnya, “twin petronas”, berusaha membuktikan kalau hantu kelelawar itu tidak ada. Namun, ketika dua sahabat Sarah, Lisa dan Dian, tiba-tiba hilang di pohon beringin itu, Sarah jadi ragu. Maka Sarah, Adli, dan Azri pun menyelidiki misteri hilangnya Lisa dan Dian, dan mau tak mau, mereka harus berhadapan dengan Sang Chiroptera, Si Kelelawar Penculik!

***

             Anak-anak suka misteri dan teka-teki, yang menguji. Begitupun aku. Jadi, kubaca dengan segera novel anak yang satu ini. Iya, sekalipun di dalamnya tidak disertai ilustrasi, novel ini tetap bikin penasaran. Aku pun mulai menenggelamkan diri ke dalam cerita…

            DUAR!

            Kisah dimulai dengan suasana yang cukup membangkitkan adrenalin dan menguji keberanian. Sarah terjebak oleh cuaca yang tidak bersahabat. Gadis yang suka dengan bela diri ini agak ragu-ragu untuk pulang karena harus melewati suatu jalan dan lapangan yang ada pohon beringinnya. Sedangkan waktu terus bergulir, dan Neneknya pasti khawatir.

            Untungnya ada dua orang Sabam yang menemani perjalanannya. Tetapi rupanya nasib baik tidak terlalu berpihak pada Sarah. Dia melihat sesuatu yang mengerikan di pohon beringin besar. Tetapi kedua Sabam-nya tidak begitu percaya. Sarah merasa bingung, sampai-sampai dia berpikir mungkin ini efek dari cerita yang sering didongengkan oleh Neneknya. 

            Begitulah Sarah, ketakutan tidak membuat kegemarannya mendengar cerita dari Neneknya surut. Apalagi cerita-cerita yang bikin ngeri. Demen banget Sarah. Sekalipun tidurnya kerap tidak tenang, dan sosok yang ditakutinya muncul dalam mimpi, membuatnya berkeringat. 

            Sarah terbangun. Matanya liar melihat ke sekeliling kamarnya yang remang-remang. Hanya lampu sudut kamar yang menyala. Dilemparkannya selimut dan dia berbegas menyalakan lampu kamar. Setengah berlari, dia kembali ke tempat tidur. Tidur memeluk lututnya yang ditekuk. Dadanya berdegup kencang, badannya menggigil hebat. Jantungnya memompa aliran darah dengan cepat. Dingin menyergap tubuhnya yang basah oleh keringat.” (hlm. 18)

            Gaya bercerita penulis lancar dan mudah dipahami, tanpa kehilangan daya cekamnya. Apakah cerita hanya sampai pada mimpi-mimpi yang buruk? Pada kenyataannya, Sarah harus mengalami perjalanan yang tidak mudah. Belum lagi, adanya sepupu kembar yang datang dari Malaysia—hal ini memperkaya bahasa dalam cerita, karena dialog Melayu Malaysianya dihadirkan oleh penulis—dan teman sekolah yang harus hilang, dan Sarah merasa bersalah karena kejadian tersebut. 

            Benarkah ada Hantu Penculik berwujud kelelawar, yang pernah membuat Sarah kalang kabut? Mengapa sahabat Sarah hilang begitu saja? Tidak adakah petunjuk satu pun di tempat kejadian perkara. Gairah untuk menyelidiki kasus kehilangan itu membuat Sarah semangat dan berani. Dia tidak mau kehilangan sahabatnya tersebut. 

            Aku harus menyelidiki kasus ini. Lisa dan Dian harus segera kutemukan! Tekad Sarah dalam hati.” (hlm. 80)

            Di beberapa bagian, cerita cukup membuat gelak tawa, apalagi pas-pas adegan yang menghadirkan “twin petronas”—sebutan Sarah untuk kedua sepupu kembarnya, Adli dan Azri—dan aku—selain  karena tingkah dan karakter dari keduanya itu—acapkali dibuat tertawa karena percakapan dalam bahasa Melayu Malaysia mereka. Maklumlah, serumpun bukan berarti sama persis. Tetapi itu menjadi kekhasan sendiri bagi novel ini. Jadi mengenalkan khazanah bahasa Melayu.

            Sekalipun tidak terlampau fantasi, cerita ini sempat membuat aku khawatir—apalagi aku termasuk yang antimitos, dan kurang begitu tertarik dengan hal-hal yang berbau “klenik”. Ternyata tidak, justru ada rahasia besar yang akan terungkap. Dan hal itu, aku rasa akan membuat anak-anak untuk bersikap lebih waspada terhadap dirinya masing-masing. 

            Jadi, sangat tidak salah jika orang tua menghadiahi buku bacaan ini. Selain karena sudah cetak berkali-kali. Beberapa bagian turut meningkatkan minat baca, dan ketertarikan terhadap dunia sastra. Bayangkan, Sarah—gadis yang masih sekolah itu—mendapatkan tugas membaca novel Tenggelamnya Kapan van Der Wijck karya Buya Hamka. Duh, zaman aku sekolah dulu, benar-benar gelap dengan namanya karya sastra—lagian gurunya pun tak ada yang menugaskan hal itu, disayangkan memang. Untungnya sekarang minat bacaku tak seperti dulu lagi. Ah, malah curhat!

            Sejauh pembacaan menurutku tidak ada kesalahan ketik yang berarti, hanya saja, menurutku, pada halaman 160 sepertinya Azri salah sebut nama Ayahnya Sarah, seharusnya Om Sandi bukan Om Tio (?). Menimbang secara keseluruhan aku rasa novel ini cocok untuk anak-anak utamanya kelas 3 sekolah dasar hingga masa sekolah menengah pertama—tetapi aku yang sudah tidak “makan” bangku sekolah pun suka!

            Apakah kalian pernah membaca novel anak yang kumaksudkan ini? Yang tebalnya hanya 180 halaman dan diterbitkan oleh Bhuana Sastra BIP Gramedia. Jika belum, ada baiknya coba membacanya, dan bisa pesan langsung ke penulisnya melalui akun instagram @tutiarien ya. Jika sudah, bagian mana yang menurut kalian menarik?

IDENTITAS BUKU

Judul MISTERI CHIROPTERA PENCULIK

Penulis Sri Widiyastuti

Penerbit Bhuana Ilmu Populer

Tahun terbit 2014

ISBN 12: 978-602-249-525-3

5 komentar:

  1. Nuhun Kang Usup atas apresiasinya mereview novel misteri chiroptera penculik. Membuat saya bersemangat untuk melanjutkan menulis serial Sarah yang lain. saya doakan moga Kang USup juga sukses menjadi seorang penulis .. aamiinn ... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ditunggu cerita Sarah selanjutnya. Sawangsulna. Amin :)

      Hapus
  2. Nuhun Kang Usup atas apresiasinya mereview novel misteri chiroptera penculik. Membuat saya bersemangat untuk melanjutkan menulis serial Sarah yang lain. saya doakan moga Kang USup juga sukses menjadi seorang penulis .. aamiinn ... :-)

    BalasHapus
  3. Kang Usup emang rajin ngereview dengan baik :D

    Salam,
    Oca

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire