Rabu, 12 Oktober 2016

Menikmati Il Tiramisu by Dy Lunaly





Novel Il Tiramisu by Dy Lunaly Penerbit Bentang Pustaka (Dok. Pribadi)


Sinopsis

Gytha terpaksa menerima tawaran kerja
sebagai host chef di salah satu acara televisi.
Ia memenuhi utang budi kepada teman lama
meski sebenarnya tidak yakin bisa
melakukannya. Ditambah lagi Gytha tidak
sendiri. Executive Chef di Olive Garden itu
akan menjadi host bersama Wisnu, seorang
penyanyi yang sedang naik daun.

Meski rupawan dan mutlak digandrungi
para wanita, pria itu memberi kesan pertama
yang buruk kepada Gytha. Wisnu Kanigara,
tidak lebih dari seorang selebritas
yang angkuh dan menyebalkan. Lebih
menyebalkan lagi karena mereka harus
sering bersama dan terlihat akrab.

Sejak itu, kehidupan Gytha tidak lagi tenang.
Ia menjadi incaran media gosip Tanah Air
yang haus berita akan kedekatannya
dengan Wisnu. Media terus berusaha
mengorek apa pun tentangnya. sampai-
sampai hal yang paling dirahasiakan Gytha,
tentang masa lalu kelamnya, berhasil
diungkap media. Gytha sungguh menyesali
keputusannya mengambil pekerjaan ini.
Ia menyesal mengenal Wisnu. Ia juga
menyesal telah terjebak dalam rasa yang tak
seharusnya ia simpan untuk pria itu.

***
Bagaimana caranya agar aku bisa bertahan di dunia asing ini? (hlm. 20)

Dok. Pribadi

            Gema perasaan dari dalam hati terdengar oleh Gytha—seorang kepala juru masak di Olive Garden, tempat makan yang nyaman dengan sajian khas Italia, dan ada bar di salah satu sudutnya. Sebagai koki, Gytha menikmati betul pekerjaannya tersebut dan sadar bahwa food isn’t my passion, food is my life. Tetapi, acapkali “Sesuatu yang sederhana pada awalnya pasti menyimpan kerumitan setelahnya.” (hlm. 28)

            Diandra, salah seorang kawan lamanya di SMP, menawari Gytha untuk menjadi seorang host pada acara masak yang akan disiarkan melalui televisi. Tentu saja, Gytha tidak berminat, tetapi temannya yang culas itu terus saja membujuk dengan segala cara termasuk memanfaatkan “kebaikan” pada masa lalunya. Gytha tidak bisa berbuat banyak, dia akhirnya menyerah dan menerima tawaran dari Diandra.

            Dua sahabatnya pun—Arianne dan David—mendukung langkah yang diambil Gytha. Termasuk Ernest yang senang atas kabar Gytha yang mau “keluar” dari dapur. Semua meyakinkan Gytha, bahwa kesempatan tersebut bisa membuat dirinya semakin dekat pada pencapaian mimpinya—memiliki restoran sendiri. Hal itu pun mengingatkannya pada Ayah, yang “selalu mengingatkannya untuk bermimpi setinggi langit dan berusaha mewujudkannya dengan kerja keras.” (hlm. 18)

            Sekalipun “dia lupa bahwa tidak pernah ada yang benar-benar sederhana di dunia ini.” (hlm. 28), Gytha pun menjalani peran barunya di program Everybody Can Be a Chef. Menjadi bagian dalam dunia yang memiliki bahasa yang asing, yang membuat dirinya merasa terintimidasi.

            Dengan kenyataan bahwa Gytha tidak bekerja sendiri dalam acara tersebut—kenyataan itu sempat membuatnya kecewa dan menyesali keputusannya—dia tidak bisa berbuat apa-apa, kontrak dan janji tidak mudah—bahkan mustahil!—untuk ditarik kembali, bukan? Gytha pun memulai syuting bersama rekan kerjanya—Wisnu Kanigara, seorang penyanyi berbakat yang tengah naik daun, tidak bisa masak, dan menyebalkan. Pria itu terkenal, sekalipun Gytha benar-benar tidak mengenalnya.

            Pucuk dicinta ulam kadang tak tiba, Gytha merasa terganggu, hilang fokus, membuat gagal proses dan hasil syuting. Wisnu pun merasa sebal, waktunya terasa tersia-siakan begitu saja oleh seorang koki, dia pun jadi ragu. Dan pertanyaannya membuat Gytha benar-benar tersentak, “Are you really a chef?” (hlm. 58) Hati siapa yang tidak akan terluka dengan pertanyaan semisal itu, apalagi, menurut Gytha, Wisnu tidak pantas berucap seperti itu karena dirinya tidak tahu apa-apa.

            Namun Gytha mencoba tegar dalam menempuh segala proses, dia mencoba tidak lari, apalagi sahabatnya terus memberi semangat agar Gytha tidak menyerah begitu saja. Gytha pun mencoba tetap profesional, dia ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan oleh Wisnu sangat keliru. Dan program pun berjalan. Sambutan positif pun berdatangan. Tetapi bagi Gytha dan Wisnu, itu semua hanya di atas panggung. 

            Dan seperti kita ketahui bersama, orang-orang di dunia yang menjadikan kecantikan, ketampanan, dan kesempuraan sebagai bahasanya selalu memiliki cara agar bisa melihat apa yang kebanyakan orang awam tidak lihat. Seperti sebuah ungkapan yang pernah diucapkan Meng Zi, “Ada pujian yang datang tanpa diharapkan, ada pula celaan yang datang biarpun sudah berusaha sebaik-baiknya.” 

            Gosip menerpa keduanya. Hal itu sangat buruk, khususnya bagi Wisnu—yang juga memiliki mimpi tersendiri, dan menyakitkan bagi Gytha. Wisnu tidak menyangka—sekalipun sudah terbiasa sebagai selebritis—bahwa kedekatannya dengan Gytha bisa saja menjatuhkannya. Tidak sekali dua kali manager Wisnu memperingatkannya. Wisnu tahu, bisa saja masa lalu terulang dan membuat kacau segalanya. Tetapi kadang momen kebersamaan tidak bisa dihilangkan begitu saja, apalagi kini dia merasa dipertemukan dengan seorang wanita yang tidak biasa, yang tahu bagaimana sebenarnya perasaannya dalam kehidupan yang dijalaninya. Sedangkan orang-orang di luar sana, tidak benar-benar tahu siapa sebenarnya Wisnu Kanigara.

            Sampai keduanya sama-sama saling tahu masa lalu masing-masing. Rahasia terkelam satu demi satu terbuka. Membuat jalan yang tengah ditempuh menjadi tidak mudah. Membuat perjuangan mereka menjadi makin berat. Mampukah mereka bertahan? 

Dok. Pribadi

            Il Tiramisu menawarkan sorot balik yang menggemaskan sekaligus mendebarkan. Dimulai dari seseorang yang merindu, seseorang yang harus berkorban sekalipun harus meninggalkan kebahagiaannya sendiri. Pembaca diajak menelusuri kembali potongan-potongan kisah yang kadang manis dan kadang pahit, seumpama tiramisu.

            Tetapi manis pahitnya itu sulit ditebak. Cerita mengalir dengan asyik. Banyak kejutan-kejutan yang tidak terduga. Ada banyak tokoh yang unik dan menarik, yang bisa membuat pembaca betah. Mulai dari Gytha dan Wisnu itu sendiri, ada dua sahabatnya, serta ada Nakhla dan Ernest—keduanya, terlebih yang terakhir itu benar-benar membuat aku takjub, menciptakan liku cerita yang tak bisa dilupakan begitu saja. 

            Dengan tampilan sampul yang menawarkan kehangatan, serta ilustrasi yang menggugah selera, cerita yang termasuk ke dalam yummylit series Bentang Pustaka, enak untuk dinikmati. Sekalipun, penekanan pada aspek kulinerinya terbilang minim. Hal itu tetap dapat dimaklumi, karena cerita kerap kali berangkat dari filosofi, dan itu tentu lebih berarti dari sekadar “material”. Lagi pula, beberapa halaman sudah cukup menawarkan ilustrasi dan penjelasan atas beberapa menu, dan itu tidak menggangu keasyikan membaca. Termasuk soal kesalahan ketik yang masih ada pada beberapa bagian, hal itu tidak seberapa. Fokus cerita tetap dapat mempesona pembaca.

Dok. Pribadi

            Begitulah, "Everyone have some loneliness in their hearts." Dy Lunaly tahu itu. Dan cerita pun tergubah. Sekalipun kita—khususnya aku—tidak menaruh minat pada kehidupan dunia hiburan pada kenyataannya, tetapi kisah yang satu ini memberikan kenyataan tersendiri atas dunia hiburan—selain karena ada satire yang dihadirkannya, yang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Bahwa seseorang, selagi dirinya manusia, pasti punya hati. 

            Ada konflik. Dan pesan yang hendak disampaikan. Ada romansa, yang perlu dihargai. Ada kehidupan yang selalu bernilai. Ada masa lalu, yang sekalipun tidak bisa mendefinisikan “siapa diri kita?” tetap berarti dan tidak bisa dibuang begitu saja. Ada cita-cita yang pantas diperjuangkan. Ada pengorbanan yang layak. Ada keterbukaan sudut pandang. Ada kebahagiaan tersendiri dan tidak ada sesal menikmati “tiramisu” ini. Siapkah Anda menikmati cinta yang manis namun terselip pahit di dalamnya? 

            Sedikit banyak, kita akan tahu bahwa ada yang dapat dibuktikan dengan membaca novel yang satu ini. Selamat menikmati!

            IDENTITAS BUKU
            Judul Il Tiramisu
            Penulis Dy Lunaly
            Tahun terbit : 2016
Tebal : vi + 334 hlm
Penerbit : Bentang Pustaka
Kategori : Novel (Yummy-Lit Series)
ISBN : 978-602-291-174-6

3 komentar:

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire