Rabu, 05 Oktober 2016

Mengulas Kehidupan yang Bahagia: Wonderful Life by Amalia Prabowo



"Cara terbaik untuk bertahan dalam kehidupan 
yang bukan miliki kita ini adalah berdamai dengan kehidupan."
—Amalia Prabowo dalam Wonderful Life (hlm. 127)

Ikhtisar
 
Back Cover buku Wonderful Life by Amalia Prabowo dilihat dari Aplikasi iJakarta

Namaku Amalia,

putri bungsu keluarga ningrat Jawa

yang berpendidikan tinggi

dan berkecukupan materi.

(hlm. 2)

Pembuka yang sedikit itu, langsung membuatku terpikat dan membuat aku teringat pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Linus Suryadi AG, yang juga banyak mengangkat kisah kehidupan kaum ningrat Jawa, terlebih buku ini ditulis dan diangkat dari kisah nyata penulisnya sendiri. Aku pun semakin tertarik, dan tidak butuh waktu lama, buku Wonderful Life terbitan POP Imprint Kepustakaan Populer Gramedia yang tebalnya 182 halaman ini, yang aku pinjam melalui aplikasi iJakarta: Jakarta Digital Library berhasil aku selesaikan hanya dengan sekali duduk.
            Buku ini memang tidak full text, di sana sini, terdapat ilustrasi-ilustrasi menarik, yang sangat memantik api imajinasi untuk menciptakan terang inspirasi. Tata letak yang akraktif. Meski begitu, narasi yang dihadirkan tidak kalah menariknya, dengan gaya tutur, yang mungkin pada awal-awal menunjukkan suatu “ke-AKU-an” yang amat ketara, itu hanya diawal-awal saja, karena selanjutnya kita tahu bahwa segalanya bisa berubah, termasuk kisah ini pun makin mengasyikkan untuk dituntaskan. Dan inilah sedikit kisah seorang perempuan dalam kehidupannya, yang jika dilihat dari kacamata awam ataupun supir taksi, “perempuan itu” sangat beruntung.

Salah Satu Ilusrasi yang Kece dalam Wonderful Life by Amalia Prabowo

            Apakah yang sulit goyah dari setiap kita? Hasil didikan orang tua di rumah! Itu pula yang dirasakan oleh Amalia, dia mengisahkan awal kehidupannya yang serba terencana, termasuk soal membentuk kebiasaan-kebiasaan dalam hal ini membaca. Tidak segan-segan Ayahnya, ketika tahu bahwa buah hatinya alpa dan tidak disiplin, suaranya pun menggema ke seisi rumah, “Mau jadi apa kamu, wong goblok?” (hlm. 4)

            Rupanya, ini merupakan kisah keluarga ningrat Jawa yang tidak biasa, yang sudah mulai terbuka dengan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan, yang betul-betul ingin memastikan bahwa masa depan penerusnya tidak gelap. Dan memang, sifat-sifat terbaik Ayahnya mengalir dalam darah Amalia. Dia bukan seorang pemalas. Dia seorang yang cerdas. Sekalipun terkesan otoriter, Ayah Amalia rupanya cukup egaliter, sejauh kata-kata bisa dilaksanakan. 

            Amalia pun mulai menatat hidup. Mengukir kisah. Menapak ke tahap-tahap yang lebih jauh. Termasuk dunia kerja dan rumah tangga. Tapi rupanya hidup tidak semudah perencanaannya. Orang bisa berubah prinsip lalu berganti komitmen. Karena suatu hal, rumah tangganya pun harus selesai. Sampai kemudian, ruang di hatinya bersuara. Ingin kembali berada dalam pelukan seorang pria yang disebut suami. Apakah kemudian Amalia menikah lagi?

            B  e  n  a  r  ! 

            Tetapi hal itu, bukan karena dirinya merasa kurang nyaman dengan status janda yang disandangnya, lebih kepada, ia “dipertemukan” oleh-Nya dengan seorang yang mengenalkan kepada Amalia apa itu keindahan rasa, sekalipun pada akhirnya lelaki itu pula yang mengenalkannya pada sakitnya kehilangan!

            Ah! “Jika kehidupan adalah berkah, maka musibah sekalipun adalah anugerah,” (hlm. 50) begitulah ungkap Amalia.

            Namun, Tuhan rupanya tidak meninggalkan Amalia seorang diri. Hadir lelaki lain, yang merupakan buah hatinya dari hasil perkawinan keduanya, namanya Aqil dan Sastria. Lalu? Paradoks kehidupan pun tidak selesai begitu saja. 

            Mulai di sinilah justru kisah Wonderful Life lebih memiliki daya yang kuat. Menampilkan ketangguhan seorang perempuan, yang harus menghadapi kenyataan-kenyataan hidup yang dialami. Bahwa Amalia yang seorang CEO Havas Worldwide Jakarta pun memiliki sisi kehidupan yang lain, yang tidak sedikit menguras air mata. “Tidak ada rumput yang benar-benar hijau,” kataku di tengah-tengah membaca kisahnya ini.

            Aqil, dinyatakan mengidap disleksia. Bukan soal keterbatasan fisik. Ini soal kemampuan. Sehingga Aqil mengalami kesulitan dalam membaca. Ini tentu menjadi pukulan tersendiri ketika diawal dikatakan Amalia merupakan hasil didikan orang tua yang menekankan pentingnya membaca.

            Apakah Aqil tidak bisa sembuh? Dari beberapa litelatur yang kubaca, disleksia banyak jenisnya, ada yang bawaan ada yang bukan, tetapi umumnya belum tentu selalu tidak bisa membaca. Dan dalam kisahnya, Amalia pun mencoba beberapa terapi untuk putranya itu. Dan ternyata, di sela-sela terapi agar kemampuan bahasa verbal Aqil meningkat, justru ada potensi lain yang menunjukkan bahwa Aqil (dan umumnya pengidap disleksia) memiliki kemampuan "bahasa visual" yang luar biasa! Bahkan nih, menurut Olivia B. Hermijanto dan Vica Valentina dalam buku Disleksia: Bukan Bodoh, Bukan Malas, tetapi Berbakat!, “Lebih dari 50% anggota NASA mengidap disleksia.” (hlm. 42), Aqil pun anak yang berbakat!

            Hal itu menjadi satu titik terang. Bahwa hidup seseorang tidak selamanya gelap terus. Seperti malam, selalu ada bintang. Kisah pun mengalir mulai dari kenyataan yang harus dihadapinya dengan anak keduanya. Pun dengan sekolah formal, serta dunia luar yang masih kurang ramah terhadap anak-anak disleksia.

            Sampai kemudian sampai pada kenyataan bahwa kehidupan yang bahagia adalah hidup yang penuh penerimaan di jalan-Nya. Amalia, orang tua tunggal dengan dua putra.

            Ada hikmah. Ada pelajaran hidup. Ada kritik.
            Bacaan yang sederhana, ringan. Apa adanya.
            Duka. Suka. Canda. Tawa. Pedih. Perih.
            Namun sarat pelajaran.
            Aku sepakat bahwa, setiap orang tua
            Termasuk guru, harus lebih terbuka
            dalam mendidik anak manusia.
            Buku yang mencerahkan!

IDENTITAS BUKU
Judul Wonderful Life
Penulis Amalia Prabowo
Cetakan Pertama, April 2015
Penyunting Hariadhi dan Pax Benedanto
Ilustrator Aqillurachman A.H. Prabowo
Perancang Sampul Fajrin Fathia
Penata Letak Fajrin Fathia
ISBN 978-979-91-0854-8
Vii + 169 halaman
Penerbit POP Imprint KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

2 komentar:

  1. review yang menarik, thanks for sharing btw

    salam,
    syanu

    BalasHapus
  2. Pengen deh bisa punya buku sendiri :3

    Salam,
    Pink

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire