Minggu, 16 Oktober 2016

Love Is… Novel Grafis yang Manis



Menatap Keluar Jendela
Berdua, kami menatap keluar jendela.
Di dunia ini tidak hanya ada aku dan kamu.
Kita bersama hidup di dunia yang indah ini.
—Love Is… by Puuung (hlm. 140)

Novel Grafis Love Is... by Puuung (Dok. Pribadi)



Tidak semua cerita cinta yang indah dapat dengan baik digambarkan oleh kata-kata, beberapa lebih mempesona melalui gambar, begitu kurang lebih yang dikatakan Ika Natassa terhadap novel grafis karya Da-mi Park atau Puuung, yang berjudul Love Is… ini. Dan aku sependapat dengannya.

Menggambarkan suatu momen dengan kata-kata memang tidak mudah. Tetapi, novel grafis ini bukan berarti tanpa narasi—atau tanpa kata sedikit pun. Justru kata-kata yang sederhana, mudah dipahami, yang disertakan dalam tiap ilustrasi membuat “cerita cinta” di dalamnya semakin hidup.

Seperti yang diungkap sendiri oleh Puuung, “Aku ingin mencintai seperti ini! Momen-momen kecil, manis, yang penuh cinta. Bukan cinta yang muluk yang ingin kugambarkan. Aku ingin menangkap cinta yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, secara perlahan dan selamanya.” (hlm. 224)

Salah Satu Ilustrasi Pada Love Is... by Puuung (Dok. Pribadi)


Seperti apa cerita yang dihadirkan dalam potongan-potangan gambar? Tetap sama seperti novel pada umumnya. Hanya saja, apa yang verbal menjadi visual. Tetap ada latar, sudut pandang baik dari si perempuan maupun si laki-laki, dan semisalnya, sebagaimana pada novel. Dan sebagaimana cerita yang menggigit, dalam Love Is… pun dihadirkan konflik tersendiri—enggak mungkin mulus terus kan? Cuma, selalu ada cara bagi para pecinta untuk bersikap yang terbaik bagi kekasihnya. Sekalipun dengan hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang sangat remeh-temeh.

Sekalipun tidak diterangkan secara jelas dalam narasinya karakter tiap tokohnya, situasi yang digambarkan cukup menawarkan jawaban yang konkret. Kisah sepasang kekasih—awalnya aku ragu apakah mereka sudah menikah atau belum, tetapi merujuk pada halaman 188, “Mencuci bersama. Mencuci selimut tebal secara manual. Pekerjaan rumah tangga yang berat jadi menyenangkan kalau dikerjakan bersamamu!” Maka aku rasa ini pasangan keluarga muda—yang hidup bersama, keduanya pekerja dan juga tengah menempuh pendidikan. Tidak ada anak. Tetapi ada kucing bernama Garfield yang selalu hadir dalam banyak momen yang digambarkan, dan selalu melakukan tingkah-tingkah yang lucu.

Apakah yang ada di dalamnya kisah nyata? Karakter keduanya memang berdasarkan karakter Puuung dan kekasihnya, tetapi latar yang hadir dalam Love Is… bersifat masa depan. Karena pada aktualnya Puuung belum menikah, jadi Love Is… semacam mimpi, harapan kelak kehidupan mereka setelah menikah. Dan entah bagaimana, sebagai pembaca aku pun jadi membayangkan kehidupan masa depan yang semisal.

Salah Satu Ilustrasi Love Is... by Puuung (Dok. Pribadi)


Yang menyenangkan dari tiap ilustrasi yang diciptakan Puuung adalah latar tempat atau ruangnya. Khususnya untuk indoor, sekalipun terkesan dapurnya banyak. Tapi uniknya selalu ada buku! Buku ada di mana-mana. Termasuk ada Bible. Kedua sejoli ini benar-benar menyukai literasi. Dan itu sungguh idaman sekali.

Jika dilihat sekilas dari material yang ada, jelas sekali pasangan muda ini termasuk golongan mapan, berkecukupan. Namun bentuk pengagungan pada “bentuk” tidak terlihat sepanjang narasi. Justru, seperti dikutip sebelumnya. Mencuci saja lebih memilih secara manual. Hal kecil, namun romantis. Nasib baiknya, tentu, kita pun jadi terinspirasi disain arsitektur baik interior maupun eksterior yang diciptakan oleh Puuung. Aku saja jadi kepengen punya beberapa ruang semisal yang ada dalam Love Is… .

Peristiwa-peristiwa biasa menjadi istimewa bagi keduanya. Mulai dari sikat gigi bersama. Tiduran santai. Baca buku. Nyobain es krim pasangan. Memeluk yang mimpi buruk. Foto-foto bareng. Enggak ngapa-ngapain. Mandiin Garfield. Mecahin vas bunga. Ketiduran. Melamun. Teleponan. Masak sesuatu tapi gosong. Main game. Nyoret-nyoret meja restoran. Bersama di mobil piknik. Main di perpustakaan di tengah hutan. Belajar Bareng. Kecupan. Dan yang semisalnya, dan yang semisalnya.

Salah Satu Ilustrasi Novel Love Is... by Puuung (Dok. Pribadi)


Semuanya menawarkan kesan. Tapi jangan pikir ini hanya tentang dua sejoli. Ada yang lain, mereka tidak menganggap dunia seperti milik berdua. Ada kawan-kawan. Dan jangan lupa, ada Garfield dan almarhum JjekJjekee—susah ya bacanya!—burung kesayangan kekasihnya Puuung. 

Bicara jalan cerita, sepertinya enggak berakhir begitu saja. Akan ada seri lanjutan dari Love Is… ini. Seperti apa ya kisah sepasang keluarga muda ini? Apakah kelak akan hadir buah hati? Siapa dapat menduga. 

Secara keseluruhan. Aku suka dengan semua ilustrasi yang disajikan oleh Puuung. Momen-momennya pun memang manis. Lucu. Menggemaskan. Walaupun, menurut aku yang awam dalam dunia ilustrasi, merasa bahwa untuk gambaran ceweknya kadang ada sedikit perbedaan di beberapa gambar. Kalau untuk cowoknya nyaris mirip semua. Tapi aku maklumi, sebab itu semuanya diciptakan oleh Puuung semuanya secara “manual”, kuasa tangannya sendiri. 

Pokoknya enggak nyesel deh. Malah sering banget buka-buka lagi novel grafis ini. Soalnya paduan warnanya bikin segar pikiran. Dan bikin sejuk perasaan. Apalagi enggak ada kesalahan ketik pada semua narasinya. Kalau kalian, suka enggak dengan novel grafisnya Puuung ini? Apa? Kalau belum punya, bisa segera ke toko buku terdekat ya, Love Is… ini diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer lho! Dan termasuk best seller di negeri asalnya, Korea!  

Identitas Buku
Judul Love Is…
Penulis Puuung
Pengalih Bahasa Deesis Edith Mesiani
Penerbit Bhuana Ilmu Populer
Tahun Terbit 2016, 224 halaman
(yang aku ini sudah cetakan kedua lho!)
ISBN 978-602-394-150-6

1 komentar:

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire