Senin, 10 Oktober 2016

Fragmen: Sajak-sajak Baru by Goenawan Mohamad



Hari hanya satu narasi.
Tuhan menamainya kematian.
—Goenawan Mohamad (2016) dalam puisinya
yang bertajuk MISHIMA (hlm. 49)

Buku Puisi Fragmen by Goenawan Mohamad (Dok. Pribadi)


            Dalam Persuasion, Jane Austen—salah satu novelis roman klasik ternama—mengatakan, “Penting untuk membaca puisi…” Bilakah insan sejak dahulu tidak menggubah sajak? Untungnya, sejak Adam hingga Muhammad, sejak Kong Zi hingga Meng Zi, puisi hadir menyajikan banyak hal termasuk kisah yang menyejarah—yang kadang-kadang—sangat “berdarah-darah”. Dan pada zaman ini, lahir buku puisi baru, yang mempersembahkan sajak-sajak “baru” dari Goenawan Mohamad—selanjutnya disingkat GM—dengan tajuk “FRAGMEN”. Apa menariknya buku puisi tersebut?


Sejak Parikesit (1971) empat puluh lima tahun yang lalu, Fragmen (Gramedia Pustaka Utama, 2016) ini merupakan kumpulan puisi GM yang ke-9. Jika dilihat dari proses kreatif GM sebagai seorang penyair, maka jelas kalah produktif dibandingkan dengan “dirinya yang lain”—yang merupakan seorang esais dengan Catatan Pinggir-nya yang dikenal banyak orang itu, sekalipun sedikit pula yang dapat memahaminya. Apakah karena “puisi memang tetap terasing” (hlm. 82)? Sehingga menulis buku puisi tidak semenguntungkan yang lainnya? Bagusnya, bukan karena itu alasannya.

Kita—khususnya saya pribadi—patut bersyukur bahwa masih hadir buku puisi—sekalipun memang di pasaran kurang diminati. Dan karena itu pula, sajak-sajak GM dapat membuat siapa saja mau menanti, menciptakan kerinduan tersendiri. Sehingga kelayakkan tidak perlu lagi dipermasalahkan, kemauan otomatis berusaha “mengadopsinya”. 

            Kembali kepada pertanyaan di akhir gugus kalimat pertama, “Apa menariknya buku puisi Fragmen ini?” GM mencoba menghidupkan “yang seakan-akan diam” (hlm. 82) dengan menjalin dialog—sebagaimana dikatakannya sendiri pada tahun 1964, bahwa dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi. Dan karena dialog itu, sebagaimana kita ketahui semestinya menolak ketidakjujuran, GM pun dengan apa adanya mengungkap kejujuran, “Pada akhirnya, saya hanya menulis sebuah fragmen.” (hlm. 57), hal itu tentu saja menjadikan karyanya ini semakin khas dan mengingatkan kita pada ungkapan Lang Leav—dalam Love & Misadventure: Cinta & Kesialan-kesialan (Gramedia Pustaka Utama, 2016)—bahwa, “separuh buku ini—seluruh hatiku”. 

            Dengan kata lain, Fragmen ini “separuh” GM. Tentu saja, separuh di sini tidak berarti tak penuh, dan bukan berarti personal. Lagi pula, penyair mana yang benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri atau meminjam istilah GM—mungkinkah ia sendiri … ? (hlm. 32) Kehadiran bersama yang lain tidak bisa dipungkiri. Mulai dari “dingin tak tercatat” (1971) kala itu sampai “di sungai yang tak tersentuh ini” (hlm. 11), GM menampilkan potongan-potongan—yang sekilas pendek-pendek itu—dari pengalaman, pengamatan, dan pemikiran yang rani, bulat, pekat, dan sekaligus menjerat penuh pikat. 

            Secara kronologis, puisi-puisi GM dalam Fragmen ini memang baru, yakni ditulis olehnya sekitaran tahun 2003 hingga 2016. Berisi 25 sajak. Sedikit memang. Tetapi semuanya itu menawarkan jejak kesunyiannya masing-masing. Ada peristiwa di dalamnya, yang menanti untuk kita “nikmati.” Dan tentu, ada “Hidup.” Waktu yang tergubah, dan kenyataan bahwa, hidup itu terus berlanjut di tengah-tengah narasi besar yang kita baca sepanjang hayat—sadar ataupun tidak. Maka “suara lain” ini pun menjadi perlu di setiap sekon yang—seringkali—tak sempat kita ingat. Meski pun “denting yang tak terduga” (hlm. 37) dari jauh asalnya, bunyinya ada.

            Dan seperti kata Sutardji Calzoum Bachri dalam “Puisi Besar” (Kompas, 2001), “Puisi sebagai suatu dunia imajinasi tersendiri bisa menjadi bahan bandingan terhadap realitas. Pembaca puisi bisa mengambil hikmah dalam membandingkannya dengan realitas.” Menariknya, karena teks puisi dapat mengembangkan sudut pandang, Fragmen pun menjadi suatu “cerita” (re: bacaan) alternatif yang ajaib, tanpa harus merasa dituntut, kita diajak untuk mengakui kemungkinan dari segala kemustahilan yang dianggap kosong dan tak berarti. Kita turut berbisik karena getar yang terasa dalam sajaknya.


            Mungkin ritme itu pernah satu

            melahirkan aku melahirkan kamu

            melahirkan nasib, melahirkan apa

            yang tak pernah tentu.

            (kutipan bait terakhir dalam sajaknya
            yang berjudul “SEBENARNYA”, hlm. 15)


            Mudah-mudahan, Anda menyukai sajak-sajak “baru” Goenawan Mohamad ini, sebagaimana saya pun menyukainya. Walaupun seseorang tidak terlalu sependapat dengan pernyataan Jane Austen di atas, buku puisi ini termasuk baik untuk “diadopsi” oleh pembaca yang tentu saja menghargai segala nilai. Selamat membaca!


IDENTITAS BUKU PUISI
Judul FRAGMEN
Penyair Goenawan Mohamad
Perancang Sampul & Penata Letak Patricia Adele
Cetakan Pertama September 2016
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Jumlah Halaman 83
ISBN 978-602-03-3371-7

2 komentar:

  1. Selalu cinta sama sajak, dan sajak mas Goenawan ini selalu bikin hati terenyuh.

    Salam,
    Syanu.

    BalasHapus
  2. Sebab segala yang satu tak selamanya bisa menyatu, ia bisa terbelah, bahkan terpecah :3

    Salam,
    Pink

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire