Sabtu, 10 September 2016

Review The Doodle Revolution by Sunni Brown

Pada abad ke-21, ORANG BUTA HURUF 
bukanlah mereka yang tidak dapat membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak dapat BELAJAR, BELAJAR MELUPAKAN, dan BELAJAR KEMBALI. 
-- Alvin Toffler


Sampul Buku The Doodle Revolution by Sunni Brown. Dok Pribadi





Sinopsis
Apa kesamaan Einstein, JFK, Edison, Marie Curie, dan Henry Ford? Mereka semua adalah doodler sejati. Doodling telah mendorong terobosan yang tak terhitung dalam sains, teknologi,

medis, arsitektur, sastra, dan seni.

Dengan humor, Brown memandu Anda

 dari doodle dasar sampai ke infodoodle yang luar biasa

—integrasi yang ketat antara kata, angka, gambar, serta bentuk yang menghasilkan dan menampilkan pemikiran tingkat tinggi. Anda akan belajar mentranformasi naskah yang membosankan menjadi tampilan yang akan menggugah pendengar

ataupun hadirin mana pun.


  •  


A P A yang terlintas dalam benak ketika mendengar kata ataupun istilah
(men)-d   o   o   d   l   e    ?
Corat-coret, buang waktu saja?! Itu ‘lintasan’ yang tidak keliru. Karena memang, pada awalnya, terma doodle ataupun doodling pada masanya dahulu (yang juga tertulis dalam kamus Meriam-Webster—cenderung berarti negatif mulai dari hanya kegiatan bermalas-malasan hingga bodoh, tidak melakukan apa-apa sekalipun seorang yang men-doodle melakukan sesuatu; hasil doodle-nya itu! Hal itu bagi Sunni Brown merupakan definisi-definisi yang kejam, dan justru menjadi biang kerok mengapa kita dengan semakin bertambahnya usia justru mengesampingkan kemampuan berkomunikasi visual bahkan sejak di bangku sekolah dasar kita jauh dari...
 
B a

h a

s a   

v i s u a l!

Dengan bukunya yang berjudul The Doodle Revolution ini, Sunni Brown berupaya mengajak siapa saja—yakni kita semuanya—untuk kembali belajar (dan kemampuan “belajar kembali” ini, menurut Alvin Toffler merupakan salah satu tanda seseorang tidak buta huruf!) mengembangkan potensi mendasar dan meluruskan pandangan menyesatkan terhadap doodling.


Kapan terakhir Anda corat-coret ataupun menggambar sesuatu di atas kertas, tisu bekas, meja warteg, kantor, kelas, papan tulis, tembok, dan atau di toilet? Yakin, semakin umur bertambah dan beban hidup seolah makin berat terasa kegiatan semacam itu makin jauh kita tinggalkan, karena sangat tidak berguna—selain karena pendidikan formal mengajarkan kita untuk tidak melakukan itu kecuali bikin catatan dengan angka dan huruf pada tempatnya—maka Sunni Brown dengan karyanya ini mencoba menyadarkan kita kembali untuk berhenti sejenak dari kegiatan biasa itu, dan mencoba belajar lagi aktivitas yang pada masa kanak-kanak dan remaja cukup akrab dengan kita.


Hal itu mungkin k-o-n-y-o-l. Tapi justru dalam The Doodle Revolution, kita akan diajak menguak rahasia bahwa men-doodle itu berpikir dan doodling adalah pikiran. Apa artinya? Singkatnya, justru hal itu bisa menjadi solusi bagi kita untuk bisa lebih baik dari segi kemampuan dalam proses belajar dalam setiap jenjang pendidikan, dan semakin lancar dalam proses karier di segala tingkatan pekerjaan. 


Kita digiring kepada kenyataan bahwa Doodling Adalah Proses Berpikir Tanpa Dianggap Berpikir (Bab 1), kita diajak tahu bahwa ada Kontribusi Doodle yang Radikal (Bab 2) yang dikenal dengan istilah 3K! Tidak hanya itu, kita pun secara sadar Mengeksplorasi Landasan-Landasan Bahasa Visual (Bab 3 Universitas Doodle—buku ini penuh praktik men-doodle yang menyenangkan!) yang dengan itu kita Menguasai Pemikiran Visual (Bab 4 Universitas Infodoodle) dalam rangka Mentranformasi Cara Kita Berpikir Secara kelompok (Bab 5 Membawa Infodoodle Ke Dalam Pekerjaan) sehingga kita secara sadar akan beraksi tidak sekadar berteori (Bab 6 Bergerak Menuju Literasi Visual)!


Mengapa sebagian besar dari kita meninggalkan bahasa visual dan mengubahnya demi angka-angka dan bahasa tertulis meskipun

KITA DAPAT MENGGUNAKAN SEMUANYA SEKALIGUS?!

 (hal. 6)


Itu merupakan salah satu pertanyaan yang mengajak kita berpikir kembali, dan tidak hanya itu yang coba dijawab dan dipecahkan. Ada banyak hambatan, halangan, termasuk mitos-mitos yang tanpa sadar kita ‘imani’ sehingga kita mengesampingkan kemampuan yang membantu kita berpikir itu.


Secara khusus buku ini sangat cocok untuk mereka yang sudah bekerja. Tetapi secara umum siapa saja sangat terbantu dengan adanya buku ini. Orang tua pun bisa menjadi terbuka pandangannya dalam melakukan pendidikan kepada anak-anaknya, para pelajar akan lebih mudah dalam kemampuan memahami suatu mata pelajaran. Mudahnya, buku ini akan menjadi pelipur bagi “otak” dan “otot”!


Bagi saya pribadi, buku ini sangat memicu empat modalitas pembelajaran—auditori, kinestetik, membaca/menulis, dan visual—memperkaya pengalaman pembelajaran. Apalagi nyaris di sana sini banyak tampilan visual dan praktik berbahasa visual bagi pembacanya. Dan itu menyenangkan karena saya bisa berlega hati “mencorat-coret” di buku tersebut! Tidak hanya itu, seperti disinggung dalam sinopsis kita pun diajak mengenal sosok-sosok yang luar biasa itu ternyata “tukang men-doodle” juga, dan hal itu sedikit banyak membantu mereka menjadi abadi namanya hingga sekarang.


Pada akhirnya, selepas menyelesaikan buku The Doodle Revolution by Sunni Brown ini kita akan mengaktifkan selalu—kapanpun dibutuhkan—kemampuan  men-doodle maupun infodooling sebagaimana kemampuan tertulis pada umumnya baik sebagai upaya perorangan ataupun kelompok. Karya ini merupakan jalan, yang kata Sunni Brown, jalan yang berkontribusi dalam kemajuan kreatif dan intelektual manusia—dan Anda akan menjadi agen perubahan. (hal. 257).


IDENTITAS BUKU
Judul Asli
THE DOODLE REVOLUTION Unlock the Power to Think Differently
Judul Terjemahan
The Doodle Revolution Kekuataan Rahasia untuk Berpikir Secara Berbeda
Penulis Sunni Brown
Alih Bahasa Eta Sitepoe
Perwajahan Isi Mulyono
Adaptasi Perwajahan Isi Pagut Lubis
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama, Agustus 2016
ISBN 978-602-03-2843-0

6 komentar:

  1. wuihhh, perlu nih buat saya yang gak pede menggambar dengan tangan :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama teh, aku juga enggak pede nggambar pakai tangan hahaha sedangkan pakai aplikasi pun masih gagap. jadi lumayan bikin pede setelah baca buku ini

      Hapus
  2. sudah lama tidak berkunjung di blog merindupagi .
    teryata masih aktif postingannya
    PUBLIC SPEAKING SEMARANG

    BalasHapus
  3. Review buku lagi dong kang :))

    Salam,
    Senya

    BalasHapus
  4. bahasa visual ??,doodlle ,,mungin branding kali ya

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire