Rabu, 07 September 2016

Metafora Padma: Sejumlah Narasi bagi Suatu Peristiwa


Ikhtisar di 'belakang' META-
                                     FORA
                                     PADMA
                                     BERNARD
                                     BATUBARA

"KAMU HARUS TAHU, HARUMI SAYANG.
PADA ZAMAN KETIKA KEKERASAN BEGITU
MUDAH DILAKUKAN, HAL TERBURUK YANG BISA
DIMILIKI SESEORANG ADALAH IDENTITAS." 


Buku Kumcer Metafora Padma. Dok. Pribadi



APA yang menarik dari suatu cerita yang ditulis dalam wujud cerpen atau cerita pendek adalah suara sayup yang dapat didengar, meskipun dari jauh dengan masa yang singkat. Sekalipun cerpen dapat dibaca sekali duduk, seseorang yang menciptakannya perlu makan waktunya sendiri (dan itu menyakitkan!), namun hasilnya akan terasa tidak biasa, sebab tidak hanya soal ‘imaji’, ‘bunyi’, ataupun ‘makna’—jauh dari itu semua, hadirnya suatu peristiwa sebagai fragmen. Karena itu, sebuah narasi bisa memiliki ‘arti’ yang lebih luas, dari sekadar ‘pengertian’ yang kita kenal dalam kamus-kamus.



untuk masa kecilku



Masa lalu adalah luka masing-masing kita yang telah lama terlewati, jejak yang mewujudkan ‘bekas’ yang dapat ‘didaurulang’. Karena itu, Metafora Padma tidak lagi ekslusif milik Bernard Batubara, apa yang ‘terjadi’ berupa konflik dalam sejumlah narasinya menjadi bagian dari masa kecil kita sebagai manusia, ingatan kolektif sebagai sebuah bangsa. Sekalipun, senarai ini ditujukan bagi masa lalu sang empunya. Itu saja sudah menjadi satu tanda bagi kumpulan cerita yang bagus dan baik.


Diawali dengan cerita “Perkenalan”, kita langsung dibawa kepada lumbung saat yang telah lewat, yang ingin dikenal dan mengenal kita, yang boleh jadi masih saja sama dan tidak ada bedanya dengan sebuah zaman yang orang modern bilang, era ‘primitif’—yang adalah hasrat dasar, insting barbar dan liar di tengah kemungkinan menuju manusia yang beradab. Cerita mengalir, mengukir kepedihan dalam kepolosan mata—yang telah lama ditinggalkan airmata, namun tidak dapat menghapus keseduannya.


 Apakah mudah melepaskan identitas dan perlukah hal itu dilakukan? Kenyataannya lebih sulit daripada melepas pelukan keyakinan kepada Tuhan, dan membunuh-Nya. Itulah dilemanya, sepanjang dunia ada dan kita di dalamnya. Kita diajak dengan liuk jalan narasi yang sulit ditebak sebagaimana friksi, pengisahan yang sayang jika dilewatkan begitu saja—walaupun kegetiran sejauh rasa mencecap—ke dalam suatu tatanan yang dibesarkan oleh ego, yang tidak hanya terjadi di masa lalu dan di sini. “Demarkasi” ada dan di mana-mana bukan? 


Mungkinkah “Hanya Pantai yang Mengerti”? “Alasan” seorang aku—yang adalah kita itu—menjadi “Kanibal”? Metafora Padma, pada aktualnya bukanlah sepenggal dongeng pada “Suatu Sore”, aromanya kental pada pagi hari, menyengat pada siang hari, menjelma mimpi pada malam hari, yang semuanya—mau tidak mau—kita lalui sepanjang hidup di bawah langit yang kadang melemparkan hujan salju dan darah ke atas kolam lotus, maka masihkah “bunga teratai tidak tersentuh oleh air(?).” (Bhagavad Gita 5:10). Jika sekilas setiap fragmen kejadiannya membentuk sorot balik atas pembunuhan, justru di balik itu ada upaya proses ‘penghidupan kembali’ apa yang dianggap asing dan sudah mati. Sama halnya dengan salah satu cerpennya dalam antologi Singgah, Bernard Batubara pun menyajikan sketsa, kronologi sebuah ajal, tetapi ada hal yang lebih penting dari yang pasti itu, yakni yang mudah ruat pada yang hidup.

Bunga Padma, sumber pinterest.com



Singkat saja—meminjam istilah Harumi—saya suka sehimpun cerita pendek Bernard Batubara ini, mulai dari cerita pertama hingga cerita terakhir (yang jika dijumlah: ada 14 cerpen), termasuk dengan ilustrasi-ilustrasi atas setiap cerpennya. Meskipun saya harus menanggung aneka rasa yang mengusik cemas. Metafora Padma bukan sekadar hiburan sekali duduk. Tema yang tidak ringan—cenderung “horor” malahan, dengan kerenyahan narasi yang tidak dibuat-buat, keindahan bahasa yang alami—diksi yang akrab namun dengan gayanya tersendiri. Dan yang utama, aku-pembaca dengan cerita-cerita itu begitu dekat, sekalipun suara sayup itu asalnya dari jauh—suaranya suara setiap ‘aku’ jua.


Ya, sebagai sebentuk rumah, aku rasa keinginankku tidak terlalu muluk. Bukankah setiap rumah memiliki sejarah gelapnya masing-masing dan setiap manusia tetap akan pulang ke rumahnya, berdamai dengan masa lalunya sendiri?” (hal. 58)


Begitulah, ada peristiwa di setiap “rumah” dalam dunia kehidupan ini—dalam artian panjang maupun pendek, yang tidak hanya sebuah narasi gelap-terang, terang-gelap atas segala afair dengan waktu yang kita namai ‘suatu hari’. Dan atas satu cerita pada hari-hari itu, “bacalah!” Dan buku ini—tidak hanya salah satu cerpennya—benar-benar saya rampungkan dalam sekali duduk. Namun begitu, kesannya tidak usai-usai. Sekali lagi, bacalah! []



Identitas Buku

Judul Metafora Padma

Penulis Bernard Batubara

Editor Siska Yuanita

Disain Sampul Eka Kurniawan

Ilustrasi Isi Egha Latoya

Jenis Buku Fiksi Kumpulan Cerpen

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun Terbit 2016

ISBN 978-602-03-3297-0

4 komentar:

  1. Iya, saya juga sudah baca bukunya dan sumpah keren banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, beberapa cerpennya memang sangat "metafora", jadi saya baca dua kali. ;) Tapi lepas dari teknis kepenulisannya, tematik dalam Padma ini memang saya banget istilahnya. :)

      Hapus
  2. saya merasa cerpen bara jauh lebih hidup dibanding novel2nya dia selama ini #hanyaopini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, baru tahu kalau Bara juga menulis novel. Sejauh ini saya pikir Bara seorang cerpenis, dan karena belum pernah baca novel, sebagai seorang cerpenis Bara cukup piawai menghidupkan cerita-cerita pendeknya itu.

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire