Sabtu, 20 Agustus 2016

Tentang Peminta-Minta yang Kejar Setoran

Saat itu aku tengah asyik membaca buku di salah satu toko buku di kotaku. Aku didatangi oleh seorang perempuan yang membawa map dan berseragam suatu yayasan. Basa-basinya cukup menarik dan membuat aku tersenyum, dan katanya sudah mendapatkan izin juga dengan pihak toko buku untuk jemput bola alias nyari-nyari donor secara langsung tanpa harus duduk di tempat yang memang disediakan. 



Aku hargai dan dengarkan segala pemaparannya, dan bertanya apakah aku setuju atau tidak? Tentu saja, orang jika ditodongkan suatu program yang bagus dalam mengentaskan buta huruf ataupun agar masyarakat semakin sehat, secara sadar aku jawab setuju. Tidak lama aku langsung disuruhnya mengisi biodata di mana seolah-olah jawaban "iya"-ku itu adalah persetujuan untuk menjadi donor rutin setiap bulannya, sekalipun dengan nomimal terendahnya.

Terus terang hal itu membuat aku terkejut juga. Dan aku katakan akan membaca terlebih dahulu form yang harus aku isi dan syarat dan ketentuan di belakangnya. Dengan sedikit kecewa petugas itu tidak bisa menolak. Jujur saja, hal semacam ini kok kesannya seperti kejar setoran dan si petugas bekerja untuk itu, masih mending peminta-minta sumbangan di jalanan yang diam di tempat dan menunggu kerelaan dan keikhlasan para pengguna jalan daripada peminta-minta yang jemput bola. Bukan berarti aku setuju secara mutlak pemintaan sumbangan di jalanan itu, karena kerapkali mengganggu arus kendaraan pula.


Aku sadar bahwa enggak mungkin suatu yayasan atau lembaga sosial bisa eksis secara mutlak tanpa donasi dari masyarakat, hanya saja memang caranya berbeda-beda. Ada yang jor-joran buka lapak di mal-mal, ataupun toko-toko buku. Ada juga yang lebih resmi dengan mengirimkan proposal dan sebagainya. Namun aku ingat seorang kawan yang menjadi tenaga bantu di suatu lembaga sosial, dirinya mengatakan bahwa tempatnya antimeminta-minta secara langsung seperti tengah berdagang atau jual beli amalan. 


Teringat pula aku dengan pandangan seorang kawan, "Jika seseorang saja bisa menjadikan meminta-minta sebagai profesi, apatah lagi suatu lembaga bisa menjadi perusahaan peminta-minta, dan itu lebih mengerikan."



Seperti berdonor darah, orang tidak bisa dipaksa mendonorkan darahnya, bukan? Andai saja petugas itu tahu mengapa aku bela-belain ke toko buku, itu untuk sekadar membaca karena secara finansial aku pun tidak bisa dikatakan mampu secara rutin, alias fluktuatif seperti keimanan itu sendiri. 



Aku percaya pada prinsip bahwa menyumbang harus tanpa pertimbangan, dan tentu tanpa paksaan, karena kesadaran dan keikhlasan itulah yang utama ada dalam suatu amalan. Tidak bisakah petugas itu duduk menunggu saja? Ataukah sadar bahwa manusia kini semakin abai pada kegiatan filantropi? Ini tetap menjadi pelajaran tersendiri buatku. Terima kasih, bagaimana pun aku menjadi ingat bahwa ada saudara-saudari kita yang butuh bantuan juga. 


[]

10 komentar:

  1. yang datang rumah ke umah itu kadang suka memasak, kalau kita gak mau itu dicemberutin , padahal kan berdonasi itu kan tgt keikhlasan kita , mau atau tidka berdonasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak sedikit yang seperti itu memang. :)
      Pengamen pun begitu sekarang-sekarang ini

      Hapus
  2. Balasan
    1. Saya jadi ingat puisi Chairil Anwar, Kepada Peminta-minta :D

      Hapus
  3. Suka bingung kalau ketemu yang begitu emang, padahal konsepnya kan keihklasan dan ketulusan dalam memberi bukan memaksakan untuk memberi :)

    BalasHapus
  4. kalo dilihat dari sudut pandang dagang, mungkin bisa jadi lebih simpel ya mas.. pedagang fokus closing. dia kudu bisa menggunakan berbagai teknik agar bisa closing. sedangkan si pembeli ya punya hak buat beli atau tidak. no hard feeling.

    ketika lembaga sosial make target penerimaan buat para relawannya, sehingga pendekatannya adalah pendekatan sales, menurutku donatur tinggal ngambil posisi sebagai buyer.

    gitu ae sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dalam sudut pandang dagang memang begitu--tetapi tetap saja rasanya aneh kalau amal dalam konteks dunia dagang. ^^v

      Hapus
  5. Aku aja sampe ngindarin naik angkutan umum karena gelagat pemintanya serem dan maksa, kan takut

    Salam,
    Aci

    BalasHapus
  6. Dunia makin penuh sama hal seperti ini ya kang huhu

    Salam,
    Gianta

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire