Senin, 29 Agustus 2016

Proses - Franz Kafka: Seribu Wajah yang Sama Anjingnya!?

"... cerita itu tidak memberi hak bagi siapa pun untuk menghakimi ..." 
- Franz Kafka dalam Proses (hlm. 242)

Sampul Novel Proses - Franz Kafka. (Dok. Pribadi)



Ikhtisar

Di apartemennya, Josef K tiba-tiba ditangkap dua petugas. K yang merasa tak punya kesalahan pun kebingungan. Ia ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Kejanggalan demi kejanggalan mulai terjadi. Saat di 'ruang sidang', K menemukan orang-orang yang dibayar untuk tepuk tangan dan berteriak. Proses sidang pun berlarut-larut. Pertemuan K dengan empat perempuan menambah pelik kasus yang tengah ia hadapi. Kebobrokan mental para petugas pengadilan menambah parah situasi. Apakah K akhirnya akan lolos dari jeratan hukum dan masuk penjara?

***

Novel ini seumpama bunga rampai permasalahan yang ada di dunia hukum, yang naasnya, terjadi di negeri mana pun. Itulah mengapa, karya sastra yang diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman ini abadi dan tetap relevan hingga saat ini. Proses ini diterjemahkan langsung dari novel aslinya yang berbahasa Jerman. Ditulis oleh Franz Kafka pada kurun waktu 1914-1915, namun terbit untuk pertama kali tahun 1925.


Dengan sudut pandang orang ketiga, novel ini memulai ceritanya dengan suatu pagi yang tidak terduga, karena adanya Verhaftung atau penangkapan atas Josef K (selanjutnya lebih sering disebut K saja), seorang pegawai bank yang tinggal di sebuah apartemen dengan seorang induk semang bernama Frau Grubach yang menaruh hormat kepada K dan menjunjung kehormatan tempatnya, dan hal itu sedikit banyak menganggu K sebab akibat peristiwa itu mencederai 'kehormatan'.


Apakah K tinggal diam atas penangkapannya tersebut? Tidak! K berusaha meminta penjelasan atas penangkapan yang menurut K begitu mudahnya terjadi namun tidak ada keterangannya, seperti juga terjadi pada banyak kasus, petugas hanya menjalankan apa yang ditugaskan atau diperintahkan. Seolah-olah pengetahuan bertingkat-tingkat. Bukannya tidak tahu para petugas penangkap Josef K itu bahwa di atas langit masih ada langit, hanya saja bukan urusan mereka untuk tahu seperti apa langit yang di atas langit itu. Mereka hanya bisa menaruh simpati dan tidak menyia-nyiakan kesempatan atas peluang langit berpintu yang terlihat oleh para terdakwa itu.


Di awal cerita saja sudah banyak hal yang menyebalkan, tetapi itulah fakta dan realita yang terjadi. Paradoks yang memilukan. Dan proses pun benar-benar terjadi. Berlarut-larut. Makin lama makin rumit. Sulit dipercaya. Namun terhubung satu sama lainnya. Pengadilan. Ruang Sidang. Hakim. Pengusaha. Pengacara. Keluarga. Anak-anak. Perempuan. Pelukis. Pendeta. Semua hal yang tampil dalam Proses tidak hanya sekadar pelengkap dan jalan pembangun cerita, namun menjadi suatu gaya bahasa, tanda bagi dunia hukum pada kenyataannya. Itulah barangkali, karya sastra tidak hanya untuk dibaca, tetapi harus dibaca dengan benar-benar membacanya.


Sekalipun sang narator menarasikan kisahnya dengan lugas, dan tanpa upaya berbunga-bunga, banyak bagian tetap menawarkan suatu metafor 'yang indah namun tragis', 'yang biasa namun mendalam'. Misalnya, "tunjukkanlah jalannya, kalau tidak saya bisa tersesat. Terlalu banyak jalan di sini." "Itu adalah jalan satu-satunya," (hlm. 72). Sulit rasanya untuk mengatakan bahwa Proses ini karya yang ringan. Terus terang saja, ini bacaan yang berat. Selain karena temanya, penerjemah mengikuti versi aslinya yang ditulis oleh Kafka termasuk dalam hal susunan paragrafnya yang panjang-panjang banget. Dan dialog yang berhimpitan dalam paragrafnya. Dan sekalipun terdiri dari beberapa bab, ada bab yang ternyata dalam versi aslinya pun tidak lengkap sehingga membuat menggantung, namun itu tidak masalah, lagi pula (dunia) hukum pun begitu adanya, kan?


Seperti ditanya dalam ikhtisar, bagaiman akhir dari kasus yang tiba-tiba menjerat K itu? Sulit diduga namun mudah 'diterka'. Seumpama ruang sidang itu sendiri. Orang keluar-masuk pada waktunya. Namun begitu, selalu ada hukum yang berlaku atas segala sesuatu. Dan tidak jarang itu membuat ternganga. Sekalipun itu bukan hukum yang ada di 'kepala' kita ataupun sebaliknya. Ada harapan yang diembuskan oleh Kafka melalui Proses yang ditulisnya ini, bahwa kita dalam kemajuan dan arah modernitas di hutan rimba ini tetap harus menjaga akal sehat sampai akhir hayat di tengah segudang hasrat, apapun taruhannya. Dan, "Jangan memakai pendapat orang lain tanpa mengujinya." (hlm. 236)


Aku tidak menyesal memiliki karya Kafka yang satu ini, walaupun saat membacanya emosiku diajak terlibat dan campur aduk dengan umpat rutuk. Sebuah buku yang pas bagi siapa saja yang merindukan 'perbedaan' menuju 'masyarakat ilmiah' yang lebih 'beradab', dan bacaan wajib--menurutku--bagi mereka yang berprofesi di ranah hukum, khususnya bagi seluruh mahasiswa (termasuk dosennya) fakultas hukum di mana pun berada yang kelak barangkali akan menjadi 'bagian' dari hukum itu sendiri! Atau meminjam istilah Franz Kafka sendiri dalam karyanya ini, bagi 'semua orang yang berjuang demi hukum!'


Selamat membaca!

Identitas Buku
Judul PROSES
Penulis Franz Kafka
Penerjemah Sigit Susanto
Penyunting Eka Kurniawan dan Ika Yuliana Kurniasih
Setting Fitri Yuniar
Cetakan Pertama Agustus 2016
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
ISBN 978-602-03-2895-9
Jumlah Halaman 251

1 komentar:

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire