Minggu, 21 Agustus 2016

Manusia dan Dunia Nasibnya

Sebuah nasib adalah sebuah dunia. Setiap manusia, antara yang satu dengan yang lainnya, memiliki dunia nasibnya masing-masing. Kala kita mendapati suatu hari yang penuh keberuntungan kita menyebutnya dunia yang baik, sedangkan ketika suatu saat kita mengalami keterpurukan kita menyebutnya dunia yang buruk. Inikah mengapa Allah menyebut kita sebagai khalifah? Pengelola nasibnya masing-masing? Yang acapkali saling kait-mengait satu antara yang lainnya.



Jika ditelisik lebih lanjut, ada dua garis besar soal nasib ini. Ada yang tidak bisa kita tolak dan di luar kuasa kita, dan ada pula yang dapat kita rencanakan, tetapi itu pun tidak selalu gol sebagaimana rencana yang telah dirancang itu. Seolah-olah melesatkan anak panah, kadang angin membuatnya melenceng dari target yang kita harapakan. Ujung-ujungnya, derita yang terasa. Untung saja, derita itu suatu paket yang memang pasti dialami oleh mereka yang hidup. Tinggal kepada bagaimana kita menyikapinya.

 
Lorens Bagus (1996) dalam Kamus Filsafat memberikan beberapa pengertian soal nasib yang sedikit banyak sudah kita ketahui bersama, diantaranya:

  • Keniscayaan dalam benda-benda yang mendorongnya terjadi sebagaimana terjadi; hasil atau kondisi dari kesudahan yang tidak dapat dihindari bahkan bertentangan dengan kehendak sendiri.
  • Sesuatu yang ditentukan bagi seseorang.
  • Peruntungan seseorang yang dibentuk oleh daya-daya yang tidak dapat dikendalikan.
  • Dalam konsep relijius, nasib mengacu kepada kekuasaan adikodrati yang menentukan semua peristiwa dalam kehidupan manusia.
  • Kadang juga nasib dianggap sebagai kekuataan, kehendak, atau daya yang sewenang-wenang dan tidak terduga-duga, impersonal, dan mengancam.
  • (Seringkali dipersonifikasikan atau digambarkan) sebagai pelaku di luar alam semesta yang menentukan (mengharuskan) prosesnya dengan tindakan inteligensi dan atau kehendak.
  • Hasil akhir; hasil yang diharapkan dari perkembangan normal.

Apakah mutlak bahwa nasib adalah takdir yang tidak bisa kita elek layaknya kematian pada seseorang yang memang sudah ajalnya? Tentu saja tidak, atas setiap penderitaan yang kemudian kita katakan dengan nasib yang kurang baik itu, ada kemungkinan yang bisa kita ubah dengan suatu keputusan untuk melangkah, mencari pemecahan terbaik. Namun, ada juga memang nasib yang kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya dapat menerima dan menjalaninya dengan tetap fokus ke dapan dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran. Memang sulit memperbaiki apa yang telah lalu, nasib baik masa depan itu misteri yang terbuka atas segala jalan.


Agaknya baik pesan dari Victor E. Frankl (1968) dalam The Doctor and The Soul, katanya, "... manusia harus senantiasa waspada terhadap godaan untuk secara dini menyerah kalah, untuk terlalu cepat menerima suatu keadaan sebagai suatu yang ditakdirkan..." Sebagaimana difirman oleh Allah, bahwa di setiap "kesempitan" ada "kelapangan", bahwa di setiap "kesempitan" ada "kelapangan," Insya Allah.

Kita pun harus peka dan sadar bahwa jangan sampai kemudian asyik menari di atas nasib buruk orang lain, demi menjaga nasib baik diri sendiri. 


[]

2 komentar:

  1. Kunjungan pertama. Disuguhi renungan yang menyindir pribadi saya sendiri. Luar biasa.

    Ditunggu kunjungan baliknya :)
    yusufsmukti.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Terima kasih sudah berkunjung. Iya, Insya Allah.

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire