Senin, 22 Agustus 2016

Review The Girls: Gadis-Gadis Misterius by Emma Cline

Sampul Buku The Girls: Gadis-Gadis Misterius by Emma Cline (Dok. Pribadi)


Ikhtisar 

Musim panas 1969 di Petaluma, California Utara. Evie Boyd, gadis empat belas tahun yang kesepian, terpana memandangi sekumpulan gadis muda yang berjalan santai di taman. Gadis-gadis dengan pakaian lusuh tapi begitu terkesan menarik dan penuh misteri. Perhatian Evie tersedot pada Suzanne, gadis yang paling tua, saat pertemuan kedua mereka. Pertemuan yang mengantarkan Evie ke peternakan bobrok dan kumuh yang menjadi rumah bagi Suzanne dan kelompoknya. 

Kehidupan dengan pengaturan dan kebudayaan yang tidak biasa, sensasi hubungan yang belum pernah Evie alami, kebudayaan yang tak ia sangka ada, membuatnya berlama-lama tinggal dengan kelompok tersebut. Membuatnya meninggalkan kehidupan remaja membosankan bersama sahabatnya, Connie. Membuatnya melupakan upaya keras ibunya mendapatkan pengakuan lelaki setelah bercerai. 

Hingga perlahan Evie mengetahui apa yang sebenarnya dinginkan Russell, pemimpin kelompok tersebut. Melihat bagaimana Suzanne hanya memuja Russell membuat Evie berpikir ulang untuk terus-menerus tinggal di sana. Apalagi ketika mengetahui rencana Russell dan para gadis terhadap Mitch, sang produser musik yang ingkar janji

*** 

Pada tahun yang sama dengan latar novel karya Emma Cline ini, Soe Hok Gie pernah menulis dalam buku hariannya tertanggal 8 Desember 1969, katanya, “… orang-orang tua kadang-kadang tidak mencintai anak-anaknya (dengan M besar), tapi dia mencintai dirinya sendiri.” Betapa seringkali “kehidupan yang wajar” terasa membosankan ketika suatu masalah muncul dari pokok dasar suatu masyarakat, yakni keluarga. Perceraian orang tua Evie Boyd menjadikannya gadis remaja yang kesepian namun tidak bisa memungkiri bahwa ia memiliki rasa penasaran yang tinggi atas segala hal di sekitar, utamanya segala yang tampak berbeda dari kebiasaannya. 


Tanpa malu dan takut, dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Evie memperhatikan gadis-gadis misterius di suatu taman pada suatu waktu. Mereka memiliki rambut berwarna yang tidak biasa, panjang dan kusut, perhiasaan yang memantulkan cahaya, serta pakaian yang begitu kotor. Kaki-kaki mereka pun tidak beralas. 


Mereka lepas berjalan-jalan, dan tanpa risih mencari sisa-sisa pada tempat pembuangan sampah. Orang-orang di taman menjaga jarak, namun Evie sangat terpesona pada salah satunya: Suzanne. Evie tidak pernah menduga bahwa akan ada pertemuan lanjutan yang menjadikan adrenalinnya memuncak, dan membuat segalanya terasa lain. Seperti seseorang yang tersesat di suatu jalan dan menemukan jalur yang sebenarnya ia cari. Sebagaimana yang diutarakannya, “Setelah bertemu Suzanne. Kehidupanku menjadi suatu kelegaan yang tajam dan misterius, menampilkan dunia di luar dunia yang dikenal, lorong tersembunyi di balik rak buku.” (hlm. 177) 


Jika harus aku katakan seperti apa karakter dari Evie, cukup rumit, pada intinya dia bukan seorang gadis remaja yang polos-polos amat, bahkan Suzanne pada pertemuan kali kedua, yang “mengkondisikan” Evie harus berbohong mengatakan, “Kau orang yang penuh pemikiran. Dalam perjalananmu sendiri, terperangkap dalam otakmu sendiri.” (hlm. 76). 


Iya, Evie, gadis yang terperangkap dalam kenyataan yang sebenarnya ingin ia pecahkan, seperti katak dalam tempurung, kadang-kadang ia mencoba berpikir di luar termpurungnya itu. Ia selalu mencoba “menyadarkan” ibu yang menurutnya lemah dalam menghadapi skandal yang dibuat ayahnya. Sampai kemudian, ia pun harus menerima kenyataan di kemudian hari bahwa ibunya pun tidak dapat hidup sendiri. Evie pun, tentu saja merasa sendirian dan tidak dapat hidup seperti itu. 


Banyak hal yang dicoba oleh Evie bersama sahabatnya, Connie, dalam menghadapi kenyataan masa pubertas yang mereka hadapi. Mereka ingin seperti gadis-gadis lainnya, merasakan cinta dan hubungan dengan lawan jenis. Dan hal itu tidak berlangsung mulus. Malah membuat persahabatan mereka putus tanpa ada orang lain yang mengetahuinya. 


Semakin sepilah rasanya Evie, ingin pula ia mencoba meminta maaf, namun kesalahan apa yang sebenarnya diperbuatnya itu? Bukankah tidak ada yang benar-benar berhati malaikat? Satu hal yang menjadi problem adalah kenyataan bahwa keduanya, baik Evie dan Connie selalu merasa kurang percaya diri dengan keadaan fisik mereka dan amburadulnya kehidupan keluarga. Bahkan Evie pernah berkata, “Siapa yang akan mencintai seseorang dengan kaki seperti ini?” 


Semua tidak lagi seperti mulanya, ketika Evie harus menerima kenyataan bahwa dia seolah tidak terlalu diharapkan dapat membantu optimisme jalinan perkencanan yang dilakukan oleh ibunya, setelah ayahnya memilih untuk hidup dengan perempuan lain. Sampai kemudian Evie ditemukan oleh gadis-gadis misterius itu, diajak masuk ke dalam kendaraan yang jika orang lain melihatnya pasti enggan untuk memasukinya. 


Ada beberapa gadis di dalam mobil itu, salah satunya begitu bahagia karena kenyataan bahwa mereka kini memiliki “persembahan” bagi titik balik matahari. Dari situlah, Evie yang begitu merasa diterima, mencoba terus memperhatikan dan belajar dengan mereka, gadis-gadis yang tampak bebas, dan begitu memuja-muja sosok pria bernama Russell, seolah-olah dia adalah juru selamat. Hal itu menjadi pertanyaan tersendiri bagi Evie yang memiliki intuisi tersendiri. Keadaan pun begitu gampang berubah. Menjadi bagian dan terpinggirkan begitu tipis bedanya.


Kebohongan demi kebohongan pun dimulai. Penyimpangan demi penyimpangan pun terjadi. Evie merasa bebas dengan komunitas barunya itu, namun juga tetap tidak bisa lepas dari kenyataan bahwa ia memiliki kehidupan lain. Seakan-akan dia bangun dan hidup dalam kehidupan "siang" dan "malam" yang samar-samar. Cerita pun dinarasikan dengan begitu puitik, dan terus-terang kaya diksi, pada bagian-bagian tertentu aku yang terbatas dalam hal kosakata ini harus mencoba mencari tahu maksud pilihan kata itu di kamus. Emma Cline piawai bermain gaya bahasa. 


Namun tetap saja, kenyataan pahit yang tengah diceritakannya melalui tokoh “aku”, yakni Evie Boyd, benar-benar membuatku jatuh ke ruang hampa bernama “kenyataan-derita-cinta.” Rasanya muram betul kehidupan gadis-gadis remaja dan kehidupan rumah tangga pada masanya itu. Betapa problem “sampah masyarakat” dan “penyakit” yang menyertainya sangat berpengaruh besar bagi siapa saja, termasuk bagi mantan atau bekas bagian dari golongan yang dicap “sesat” oleh publik. 


Dan sorot balik pun terjadi sepanjang novel ini. Membuatku harus menahan napas pada beberapa bagian, dan mengumpat “jalang” dan “berengsek” pada bagian lainnya. Sejujurnya, atas kenyataan getir yang dikisahkan, aku ingin berhenti saja membaca novel yang tebalnya tiga ratusan halaman ini. Namun aku tidak bisa, narasi yang disajikan tetap membiusku untuk terus menuntaskan novel ini. Banyak masalah dan itu riil nyata, tanpa berusaha memberikan solusi tersendiri, penulis mengutarakan suatu hal yang tidak bisa diutarakan oleh kebanyakan orang, termasuk mereka yang terpinggirkan—tentu tidak semua!


The Girls, merupakan novel dewasa sekalipun seputaran problem kehidupan remaja yang diangkatnya. Butuh keadilan pandangan dan hati yang terbuka saat membacanya, karena kevulgaran berahi yang ditampilkan, cinta yang tidak biasa, kehidupan yang mencoba melawan suatu tatanan yang dianggap “normal”, relasi orang tua dan anak yang dilematis, ambisi yang menghasilkan “eksploitasi”, obat-obatan terlarang, minuman-minuman beralkohol, kriminalitas, fantasi, dan citra. Banyak pertanyaan berseliweran saat aku membaca novel ini, termasuk soal kebenaran dari fakta cerita yang dihadirkan, “Apakah nyata adanya?” Kemungkinan itu pasti ada. Sebab dunia tidak hanya terang saja. Ada sisi lain yang eksis, dan Emma Cline mencoba menghadirkannya. 


Kupikir akan sangat menarik jika novel ini diangkat menjadi sebuah film. Bacaan yang bagus karena mengangkat suatu kasus dalam kehidupan sosial-budaya yang mana kita pun ada dalam labirin tersebut. Seperti apa akhir cerita dari Gadis-Gadis Misterius ini? Aku tidak bisa mengatakannya, cukuplah Samuel Johnson menutup tinjuanku ini, “A writer only begins a book. A reader finishes it.” Secara teknis ada beberapa lema yang mengalami kesalahan ketik, tapi sungguh itu tidak terlalu menganggu. 

Selamat membaca

Identitas Buku Judul Asli: The Girls 
Judul Terjemahaan: Gadis-Gadis Misterius 
Penulis: Emma Cline 
Penerjemah: Maria Lubis 
Penyunting: Barokah Ruziati 
Perancang Sampul: Orkha Creative 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 
Cetakan Pertama, 2016 
ISBN: 978-602-03-2928-4 
Jumlah Halaman: 360

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire