Sabtu, 09 Juli 2016

Suatu Kali di Suatu Jalan

JALANNYA penuh. Di kiri kanan sama saja. Tetapi ibarat laron yang keluar dari sarangnya, lalu terbang ke langit untuk menatap cahaya. Tidak ada kata takut, dan kalau perlu saling sikut. Aku ada diantaranya, dan berteman dengan hal-hal yang tidak terbayangkan. Siapa yang bisa menduga suatu fenomena? Sekalipun satu sama lain, di antara kita, saling memacu dan memicu suatu momen. Baik dan buruk? Itu suatu teka teki yang tidak gampang dipecahkan. 


Jalanan itu penuh perjuangan. Dan, aku tahu di sana juga kadang akan dihadang oleh maut ataupun kematian. “Tabrakan” menjadi satu risiko yang tidak bisa dihindari, apalagi di saat-saat gemilang cahaya kemenangan datang. Apa yang seharusnya terlihat pun jadi “gelap” dan akhirnya “saling melahap.” Dan aku, untuk pertama kalinya menjadi bagian dari big puzzle kehidupan jalanan. Luka pun menjadi suatu tanda tersendiri. 


Tetapi aku tidak ingin menyoal kronologis dari peristiwa yang cukup tragis itu. Aku justru cukup takjub pada saat itu—tentu aku bersyukur tidak terluka parah, atau sampai kehilangan nyawa—aku betul-betul merasakan sesuatu, waktu seperti melambat, dan aku bisa melihat mata-mata itu memandang, seperti alam yang tak pernah kubayangkan. 


Aku pikir, saat itulah ruh dengan lembutnya berangkat ke tempat paling “udik”. Ternyata tidak. Tuhan seperti punya rencana lain untukku. Apa itu? Entahlah. Sulit menebak apa yang akan terjadi nanti. Namun cukup mudah kita berharap, dan jika mau, roda kebaikan terus berputar jika memang kita terus di jalur yang benar. Hanya saja, jalan itu tempat segalanya bersingguhan. Selalu ada risiko di sana-sini. Dan di situlah pelajarannya. 


Dengan apa aku harus capai kedamaian dan ketenteraman? “Dengarkanlah ratap seruling dari bilah bambu, ketika ditiup bunyinya menyayat pilu, karena rindu derita dipisah dari yang satu.” Seketika senandung Rumi mengalun. Dan hidup acap kali memberi yang lebih—baik ataupun buruk—dari yang sudah-sudah, ataupun yang sudah hilang. Bukankah sebaik-baik pengganti selalu ada di tangan-Nya? 


Inilah hidup. Itulah hidup. Semua hidup. 


Terima kasih untuk pengalaman hari ini. 


[]

2 komentar:

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire