Senin, 25 Juli 2016

Setiap Karya Seni Mewakili Suatu Hal: Menikmati 9 Lukisan dalam Re:Orient

Yang hebat-hebat hanya tafsirannya, begitu kata Pramoedya Ananta Toer ketika menyoal hidup yang pada dasarnya sungguh sangat sederhana. Dan dari kesederhanaan hidup itu pula hadir karya-karya, untuk kemudian muncul tafsir-tafsir. Singkat cerita, baru saja diri ini memperoleh katalog menarik tentang pameran lukisan bertajuk Re-Orient yang dilaksanakan di Uni Emirat Arab pada tahun 2013 yang digagas oleh Barjeel Art Foundation. Dan inilah uniknya, pameran yang bermakna selalu up to date untuk dibicarakan sekalipun momentumnya tidak akan terulang. Tentu ini kebahagiaan tersendiri, tidak bisa hadir ke acaranya, namun bisa menikmati beberapa karyanya. Dan berikut ini sembilan karya yang menarik saat menikmatinya.




Lukian ini bertajuk The Russian Ballet karya Seif Wanly tahun 1967. Cukup menarik bahwa sekalipun Seif Wanly tinggal di Mesir, beberapa karya seninya menampilkan kemodernan tema dalam hal ini dari segi hiburan, dan dilukisan ini terlihat tarian balet. Sedikit banyak barangkali ada komposisi bentuk geometrinya ada pengaruh kubisme. Hanya saja memang, konsentrasi Seif Wanly tetap pada kehidupan keseharian orang-orang. Lepas dari judulnya, lukisan ini mengingatkan pada tarian sufi, yang di Timur Tengah justru lebih banyak ditarikan oleh kaum laki-laki. Sedikit banyak, sebenarnya, hal ini cukup kritis terhadap dunia seni tari di Mesir, menurut saya. Dan lihat paduan warna-warnanya, "cerah" dan "redup", tidak ada yang benar-benar hitam, tidak ada yang benar-benar putih.

***


Samir Rafi merupakan pencipta karya ini, ia memberi tajuk Seated Musician (1963). Apa yang dapat tertangkap dari karya yang menarik ini? Karakter. Kemudian? Adanya simbolisme dan surealis atas yang realis di masyarakat Mesir itu sendiri. Lagi-lagi aku cukup menikmati karya ini dalam tataran relijius. Lihatlah sang musisi, tidak terlihat kemalangan dalam tampilan kehidupannya itu, berbaur di antara hewan, tumbuhan, dengan warna tanah yang khas. Rasanya ingin merasakan lantunan musik yang dimainkan sang musisi.

***


Apa ini menarik? Tentu saja! Buah karya dari Ismail al-Khayat. Sekilas ini seperti puzzle atas banyak realitas yang terjadi, yang sebagian diwakili dengan simbol-simbol. Al-Khayat menamai karyanya ini Those Who Watch Other People Will Die of Envy Ink (1965). Setelah coba aku pelajari, Al-Khayat yang berasal dari Irak ini banyak mengangkat cerita rakyat suku Kurdi dalam karya lukisanya, yang dipadukan dengan simbolisme. Tampak oleh kita bahwa ada belenggu dan isolasi terhadap masyarakat Kurdi secara sosial-politik. Hal ini cukup kritis dengan adanya metafora tangan bermata, sebuah "ajakan" ke arah mempertimbangkan kembali secara damai tentunya, "moral" kehidupan yang berlaku atau diberlakukan oleh otoritas setempat. 

***


Naim Ismail memberikan judul Untitled  (1956) pada karyanya ini. Cukup misterius. Tetapi sederhananya, ini sebuah adegan dalam keseharian di negerinya Suriah. Ismail mencoba membangkitkan semangat kesadaran melalui visualisasi kehidupan keseharian. Dan dalam karyanya yang ini, seorang lelaki dengan pakaian tradisionalnya duduk diam di depan pintu di antara karung-karung dan sebuah keranjang. Lalu datang perempuan bercadar membawa karung berisi barang yang sama dengann yang ada di samping sang pria, yang kelihatannya tengah merenungkan suatu kemalangan tersendiri. Sangat sensitif untuk coba kuuraikan. Kehidupan kadang memang keras. Hal yang unik di salah satu jendela ada semacam berkas cahaya. Terangkah yang diharapkan olehnya? Atas apa? Itulah yang belum terjawab rasanya.

***


Tanpa melihat latar belakang lukisan ini tentu saja tidak mudah namun kedalamannya sangat terasa. Ada semacam alegori dan lanskap pastoral. Kadhim Haidar, berhasil menyajikan lukisan yang puitik ini, yang ia juduli Martyr's Epic (1965). Sebagai pelukis asal Irak, tentu saja Haidar tidak bisa lepas dari gejolak sosial politik di negaranya. Judul itu menandakan suatu hal. Dan metafora dan simbol dari kuda putih, bulan berdarah, raungan. Mengingatkan kita pada suatu sejarah, kisah masa lalu, yang kini pun kerap terjadi: teror.

***



Rêve (1975) merupakan judul lukisan karya Abdel Kader Guermaz dari Aljazair. Jika tidak keliru, kata itu berarti mimpi atau bermimpi (?) dalam bahasa Prancis. Abstrak, itu barangkali satu kata untuk melukiskan karya Guermaz yang satu ini. Tetapi permainan warnanya sangat menarik dan apik. Dan tetap tidak melepaskan bentuk sehingga muncul karakter tersendiri. Tidak salah kalau Pierre Rey, salah satu kritikus seni menyebut Guermaz itu pelukis keheningan dan cahaya.

***



Ahmed Cherkaoui merupakan pelukis asal Maroko yang unik, karena ia melukis di atas karung goni. Karyanya dominan abstrak dan simbolis dari ekspresi pengalaman kebudayaannya. Lukisannya yang ini berjudul Les Miroirs Rouges. Kehidupan memang cerminan kebudayaan.

***

Bagaimana menurut rekan-rekan sekalian?
 
[]

9 komentar:

  1. kurang menegrti akan sni lukis jadi kurang tahu maksud dari eni lukis itu apa dan yang pasti pelukis-pelukis tersebut meninggalkan kesan dalam setiap lukisannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksud pasti dari pelukis tentu saja enggak mungkin dibeberkan begitu saja. biasanya untuk lukisan judul merupakan pintu memasuki benang merah yang ada dalam suatu lukisan... :)

      Hapus
  2. saya engga ngerti :D tapi semuanya menarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, semua menarik. Dan rasa ketertarikan kepada karya seni itu "sesuatu" yang patut disyukuri :)

      Hapus
  3. salah satu keindahan dari sebuaj seni lukis adalah kebebasan penafsirannya bagi masing masing penikmatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu sebabnya kadang lukisan yang kalo kita yang mandang biasa saja, tapi di menurut orang lain ada yang bilang istimewa :)

      Hapus
  4. Kurang begitu paham sama karya seni. Tapi postingn agan membantu saya menjadi lebih paham lagi

    BalasHapus
  5. Yap! Suka banget sama seni, karena lewat seni manusia bisa bicara banyak hal

    salam,
    kesya

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire