Rabu, 13 Juli 2016

Seburuk-buruk Hamba

Janganlah kalian menjadi orang yang tak punya prinsip,” begitu sabda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang kudapati dalam karyanya Syeikh Muhammad Al-Ghazali. Mengapa memegang suatu prinsip itu penting? 


Karena, “Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…” (QS. 6:116). Jadi sebagai makhluk yang merdeka, kita diharapkan mempunyai pendirian sendiri. Sekalipun menurut Pramoedya Ananta Toer, “Mempunyai pendirian sendiri,” berarti, “berhadapan dengan pendapat umum.” Semakin teguh pendirian, niscaya semakin banyak yang menentang. Tetapi hal itu tentu tidak lebih baik daripada seorang yang terluka yang mengeluh pada buruk gagak dan nasar bukan? 


Prinsip yang tidak mudah dipengaruhi, dan selalu mengajak menimbang dan memikirkan segala hal—saran maupun kritik—tentu tidak akan timbul dari seseorang yang memiliki perangkai yang buruk, yang Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pun menyebutnya seburuk-buruk hamba. Siapakah mereka? 


Kata beliau shallallahu alahi wa sallam, “seburuk-buruk hamba adalah yang dikuasai sifat rakus, dan yang dikuasai sifat penakut.” Harus diakui memang dua sifat itu sangat menentukan hadirnya sifat-sifat lain pada diri kita masing-masing. Tidak jarang takut rugi dan ingin untung besar menimbulkan dengki, cela, ancaman, ataupun setuju dengan seseorang sejauh secara materi menguntungkan "kita". 


Sudah bukan rahasia umum lagi, dua sifat yang kurang pantas itu biasanya melekat pada mereka yang gemar mengurusi urusan kehidupan orang lain—bahkan kepada hal-hal yang sifatnya sangat personal. Tidak jarang, apapun yang kita lakukan kemudian menjadi kurang baik di mata mereka, atau menjadi lahan empuk untuk digosipkan dan kita pun harus siap atas segala kritikkan. 


Bisakah kita menjadikan pujian ataupun makian dari kebanyakan orang kepada kita sebagai motivasi? Bisa saja, selama kita—kembali lagi ke awal—memiliki prinsip yang dapat menjadikan kita pribadi yang tahan terhadap kritik. Walaupun kita mungkin—karena suatu hal yang tidak dapat dihindari—masuk dan berada dalam kelompok seburuk-buruk hamba itu, kita bisa memilih dan menetukan sikap karena prinsip yang kita pegang, bahwa kita tidak akan latah atau mudah ikut-ikutan dengan yang “mayoritas” begitu saja. Sungguh tidak menyenangkan bukan kita begini begitu karena mereka pun begini dan begitu. Semuanya harus dipikirkan masak-masak, dan menjadi beda dengan pendirian sendiri bukan suatu kekeliruan, itu tanda kedewasaan. 


Kita tentu bukan kerbau yang dicocok hidungnya, bukan? Janganlah menjadi seburuk-buruk hamba yang tidak punya pendirian sendiri...


[]

2 komentar:

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire