Senin, 11 Juli 2016

Kita Bagai Bunga di Taman

Terimalah pemberian Allah dengan lapang dada,” begitu pesan baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Aku kagum melihat mereka yang tetap tersenyum meski ditimpa musibah dan kesulitan yang menjerat kehidupannya. Senyuman mereka mengguratkan kelapangan dada mereka. Dan itulah rasanya pelipur dari duka di dalam setiap diri kita masing-masing. Dan sepertinya, keridaan mendamaikan hati. Sebagaimana dilantunkan oleh Muhammad Musthafa Hammam dalam syairnya yang terhdap pada Jaddid Hayatak-nya Syekh Muhammad al-Ghazali berikut ini: 



Hidup mengajariku untuk menghadapi 
Semua warnanya dengan rida dan penerimaan 
Aku merasa, keridaan dapat meringankan beban 
Aku yakin, penerimaan menjadi pelipur lara buatku 


Sepanjang zaman, kau takkan dapati orang yang diberi 
anugerah keridaan menjadi pendengki atau pencela 
Aku rida atas semua yang telah ditetapkan Allah 
Dan memuji-Nya dengan pujian yang tak terhingga


Aku rida atas semua laku dan tingkah manusia padaku 
Tak peduli apakah mereka menyanjung atau mencelaku 
Aku tidak takut menghadapi celaan para pencela 
Aku juga tidak mengharap sanjungan sedikit pun 


Allah telah memberikan kelapangan dalam hatiku 
maka, aku tak butuh pengganti dari cinta dan kasih 
Setiap tamu memiliki tempat yang mulia di hatiku 
Maka jadilah tamuku, baik senang atau berat hati 


Sungguh keliru menganggap rida sebagai kehinaan 
Atau menganggapnya sebagai bukti kemunafikan 
Sungguh, keridaan adalah anugerah dari Allah 
hanya segelintir hamba hidup bahagia dengannya 


Betapa, andai saja aku bisa seperti aku-lirik dalam syair tersebut. Sulit rasanya untuk menjadi pribadi yang seperti itu. Sulit rasanya untuk bisa lebih lapang dada dan rida. Tetapi di kehidupan ini, kita memang tidak pernah benar-benar mudah mengarungi hidup, bahkan dalam dahaga dunia pun tersedia aneka “minuman” mulai dari yang pahit racun hingga yang manis madu namun tetap saja bisa sampai mematikan. Oh kita bagai bunga di taman, yang pada mulanya segar, dan layu pada akhirnya. Tetapi bunga di taman tidak pernah mengeluh, mereka semangat menyambut cahaya dan menjalani hidup di tengah sepoi angin yang menerpa mereka. 

Kiranya kita beroleh keridaan atas hidup ini. 

[]

2 komentar:

  1. sebagai manusia kita memang harus ridho atas ketetapan-Nya, hanya Dia yang tau apa yang terbaik untuk umatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semestinya memang begitu ya... Belajar rida...

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire