Selasa, 05 Juli 2016

Harus Ada yang Dipercaya?

Jika rekan sekalian pernah membaca salah satu karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Midah Simanis Bergigi Emas, tentu tidak asing lagi dengan perempuan yang menjadi tokoh utamanya, yakni Midah. Ketika ia “lari” dari suaminya, dan pergi ke dalam kehidupan jalanan, dan bergabung dengan salah satu kelab keroncong. Ketua rombongan berkata kepada Midah, “… selamanya ada yang mesti dipercaya.” Haruskah ada yang dipercaya? 



Midah pun singkat cerita “percaya” kepada kepala rombongannya itu. Tidak hanya buku itu yang meningatkan kita tentang harus-adanya-yang-dipercaya. Stephen R. Covey dalam karya fenomenalnya The 7 Habits of Highly Effective People dalam bab paradigma salingketergantungan membuka bahasannya dengan kutipan dari Samuel Johnson, yang secara bebas berarti “tidak mungkin ada—ataupun terjadi suatu hal—tanpa kepercayaan.” 


Apakah kemudian karena itu kita harus percaya seratus persen kepada yang kita percayai itu? Itu pilihan, dan semuanya ada risikonya tersendiri. Tapi kayaknya sudah menjadi suatu yang alami, kalau kita pasti memiliki seseorang yang mana dirinya kita percayai untuk tahu hal-hal tentang kita yang orang lain tidak ketahui. Walaupun, memang sangat tidak dianjurkan aib itu diumbar kecuali kita memohon pertolongan kepada Tuhan agar “menghijab” aib tersebut. 


Cuma ya itu tadi, kita makhluk “sosial” yang tidak bisa benar-benar dapat hidup sendiri. Paling mentok, kita akan mempercayai diri kita sendiri. Itu tidak buruk. Bukankah keputusasaan yang menghancurkan karena kurang rasa percaya kepada diri sendiri. Mungkin kita semua harus mulai dari titik itu. Tidak harus memulai dari nol. Kita dapat bicara, bermonolog dengan diri sendiri, dan mencoba mempercayainya. Sebelum kita mencoba-coba percaya kepada orang lain, yang belum seratus persen juga kita kenal tentang dirinya. 


Apakah mungkin kita bisa kenal orang lain 100%? 


Satu saja, semua mungkin menjadi seorang yang amanah, sekalipun siapa dapat menduga bahwa seseorang tidak akan khianat? Tidak ada yang tahu. Maka dari diri sendiri, dan tentu percaya 100% kepada Tuhan. Dan kita sama-sama saling percaya dan tidak menaruh curiga yang tidak-tidak satu sama lain. Bagaimana pun prasangka buruk tentu suatu kejahatan, ibarat kata menilai buku dari sampul, itu enggak adil, kan? Mari bersama saling berprasangka baik terhadap sesama. Dan jika menjadi seorang yang diamanahi, jadilah seorang yang amanah. Dan jika mencari orang yang dipercaya, selektiflah. 


Kalau menurut rekan sekalian, haruskah kita masing-masing memiliki seseorang yang sangat kita percaya? Sosok seperti apa yang paling ideal?


[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire