Kamis, 07 Juli 2016

Apa yang Dimulai dari Nol?

LEBARAN hari kedua. Seperti biasa, para tetangga bersiap-siap pergi nyekar, berziarah kepada keluarga yang sudah mendahului mereka. Aku sendiri, sudah melakukannya di lebaran hari pertama. Sekalipun aku dan keluarga sudah ziarah, lebaran tetap berlangsung dan terasa di tanggal 1 dan 2 Syawal, maka “hbh” pun tidak bisa dihindari. Iya, barangkali hanya di lebaran sajalah kita begitu mafhum maklum kepada diri kita masing-masing dan merasa penting terhadap “silaturahmi”—sesuatu yang seharusnya bisa menjadi batu loncatan untuk terus mempererat hubungan. Lalu antar kita saling nasehat, “Dimulai dari nol, ya!” Apa yang dimulai dari nol? 



Kesucian lahir dan batin!? 


Di atas wajah tergurat tanda keindahan 
Dan di balik pakaian terdapat kehinaan” 


Begitulah ungkap salah satu pujangga dari Jazirah Arab, bahwa Islam tidak menilai kesempurnaan dan keelokan lahiriah seseorang kecuali bila di balik tampilan lahiriah itu terdapat jiwa yang suci, lembaran yang putih, hati yang bening, dan nurani yang terang benderang. 


Apa yang dimulai dari nol? Sedang kita selalu bersinggungan dengan “hal-hal” yang buruk dan yang baik, yang silih berganti menghampiri. Begitu ringan, begitu mudah, begitu sederhana… dimulai dari nol! Tidak asing, apalagi jika terbiasa mengisi bensin di SPBU. Dengapa apa kita hendak mengisi lahir dan batin kita itu? Dengan hal-hal yang kita meminta maaf akan hal itu? 


Ah, kita—dan aku khususnya—tidak benar-benar tahu “dimulai dari” apa?, entah berapa nilai kebaikan dan keburukan yang sudah tercatat dan tidak mungkin diatur-ulang kembali. Oh Tuhan, pantaskah aku berharap lembaran baru? Sedangkan buku yang lama lembaran tersisa masih ada dan belum genap kutulis dan kubaca kembali apa yang pernah terjadi. Sulit sekali, Ya Tuhan, untuk bisa membuang ataupun membakar buku itu dan memulai di buku yang baru. 


Maka izinkankanlah aku untuk bersyukur atas buku yang ada dan masih tersisa ini. Kiranya semua makhluk berbahagia dengan buku barunya, dan tidak lupa membaca kembali buku yang sudah-sudah. 

[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire