Senin, 04 Juli 2016

Antara Ali dan Mu’awiyah: Sejarah Berdarah, Bagaimana Menyikapinya?

Siapa Ali? Beliau merupakan salah satu menantu Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang digelari “Singa Allah”, posisinya dalam perkembangan sejarah Islamisme cukup unik karena selain sebagai khalifah keempat setelah wafatnya baginda Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, beliau pun merupakan salah satu Imam Syi’ah—menurut M. Moljum Khan, Ali ibn Abu Thalib pun merupakan perintis awal tasawuf dan ahli hukum pada masanya. Tidak heran dianggap pula “pintu” pengetahuan. Lalu siapa Mu’awiyah? 



Pada masa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam masih hidup, Mu’awiyah pernah menjadi sekretaris beliau shallallahu alaihi wa sallam. Mu’awiyah pada kekhalifahan Utsman ibn Affan merupakan gubernur Suriah ketika itu. Dan kemudian dalam sejarah perkembangan Islam, Mu’awiyah ibn Abu Sufyan mendirikan Dinasti Umayyah, dan untuk pertama kalinya dalam dunia Islam masuk sistem monarki. Dan upayanya tidak kecil terhadap “kemajuan” dan “perkembangan” Islam kala itu. 


Namun jauh sebelum itu, selepas terbunuhnya Ustman ibn Affan, Mu’awiyah saat masih menjabat sebagai gubernur dan belum menjadi raja dalam Dinasti Umayyah, beliau menolak memakzulkan dirinya dan membaiat Ali ibn Abu Thalib sebagai khalifah selanjutnya sebelum pembunuh Khalifah Utsman diadili. Jadi dalam ijtihadnya Mu’awiyah menghendaki penuntutan balasan atas kematian khalifah. 


Pada waktu itu, Ali mengirimkan surat kepada Mu’awiyah dan menjelaskan duduk perkaranya. Dan mengharapkan dirinya agar membaiat Ali sampai kemudian situasi memungkinkan untuk kemudian mengadili para perusuh yang membunuh. Akan tetapi, Mu’awiyah menolak membaiat Ali dan dalam ijtihadnya ia lebih memilih medahulukan perkara menutut hukuman daripada membaiat kepemimpinan yang baru di tangan Ali. Sampai pada akhirnya, singkat cerita, ada beberapa peperangan pascakematian Ustman di antara kaum muslimin. “Tahta” memang perkara yang sangat pelik dan dapat memicu pelbagai konflik. 


Betapapun kemudian Mu’awiyah berperilaku bak raja diraja yang melampaui batas, sedangkan Ali sudah berusaha semaksimal mungkin. Ali tidak pernah menaruh dendam, malah dalam beberapa peperangan Ali mengatakan bahwa yang terbunuh di pihaknya ataupun di pihak Mu’awiyah masuk surga—mati syahid, Insya Allah. Menurutku pun demikianlah, bahwa keduanya—baik Ali maupun Mu’awiyah—merupakan sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, seberapapun berdarahnya perjalanan mereka kemudian selepas mudah terbesar bagi alam semesta—wafatnya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam—mereka tengah berupaya berijtihad dengan cara dan kemampuan masing-masing. 


Tidak seharusnya kemudian kita menaruh prasangka buruk kepada salah satunya ataupun keduanya. Bukankah setelah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pasti semua pernah berdosa, bukan? Apalagi yang namanya ijtihad semua akan dapat pahala sekalipun kadarnya berbeda. Tentu Ali sudah memberikan contoh terbaik, sekalipun dirinya menjadi salah satu dari sepuluh orang yang “dijamin” masuk surga, dirinya tidak pernah mendoakan orang lain—bahkan Mu’awiyah—masuk ke neraka. 


Dan lagi, apa guna sejarah kalau hanya berujung kepada memupuk dendam satu sama lain? Kapan dewasanya kalau begitu? Bicara soal tumpah darah mah dari zaman dahulu sudah lazim. Dan tidak harus kemudian kita di zaman sekarang tetap keukeuh menuntut balas darah atas apa yang sudah tertumpah. Mengapa kita terus saja jahil? Yuk terus belajar, dan mengambil hikmah terbaik bagi kehidupan ke depannya. Kalau harus prihatin, kemunduran Islam dalam dunia Islamisme itu sudah tercium sejak wafatnya Abu Bakar dan menciut pasca “terbunuh”-nya Utsman ibn Affan. Itu semua pelajaran, dan Al-Quran sebaik-baik petunjuk dari Allah untuk kita semua ber-Islam. 


Semoga semua sahabat Muhammad shallallahu alahi wa sallam mendapatkan tempat terbaik. 

Amin 

[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire