Jumat, 01 Juli 2016

Anak-anak, Kata-kata Tidak Pantas, dan Orang Dewasa yang Mati Rasa

Sejak dahulu kala hingga zaman modern dan seterusnya, “hal yang standar” yang dapat dilakukan pikiran kita adalah “mengingat”. Dan pada masa kanak-kanak perihal itu lebih besar lagi pengaruhnya kepada perbuatan yang kemudian muncul berdasarkan data yang ada dalam ingatannya. Seperti kata pepatah lama, “kita adalah apa yang kita ingat.” Lalu, mengapa kita masih saja terkejut sejadi-jadinya ketika ada anak-anak yang berujar ataupun bernyanyi dengan lirik yang tidak pantas bagi mereka (dan itu pantas bagi kita, yang dewasa)? 


Anak-anak itu “pencontek” yang andal dari orang dewasa yang menjadi teladannya. Dan ini bukan perkara baru, misalnya kita ambil contoh dari novel Ahmad Tohari yang berjudul Bekisar Merah halaman 25-26. Dalam satu fragmen cerita terhadap tokoh Lasi, ia diganggu oleh anak-anak yang sebaya dengannya dengan kata-kata yang tidak pantas… 

Emakmu diperkosa orang Jepang. Emakmu diperkosa.” 

Bagaimana anak-anak bisa tahu soal itu? Apakah mereka benar-benar tahu apa itu arti dan makna “diperkosa”? Ringan saja begitu, anak-anak menjadikan apa yang diingatnya menjadi candaan (dan orang tua memandang ringan candaan semacam itu!). Dan dalam kasus Lasi tersebut diterangkan sebuah latar bahwa orang dewasa di sana pun senang menggunjing Lasi dan orang tuanya kelewat batas, maka anak-anak merekanya pun begitu mudahnya tanpa--dan memang tidak jarang belum mengerti—merasa berdosa atau tak malu untuk berkata tidak pantas begitu. Dan itu tahun 1961. 

Dan sekarang… tidak jauh berbeda tetapi sumber untuk dicontek oleh anak-anak semakin merajalela. Misalnya, dengan adanya penyanyi-penyanyi yang mendendangkan lagu-lagu dengan lirik yang tidak pantas, bahkan cenderung cabul. Orang dewasanya banyak yang suka—karena hobi barangkali—dan tanpa sadar, bahwa anak-anak mereka pun dengan mudahnya menyerap apa yang didengarnya itu. Belum lagi, sekarang ini, sejak Pendidikan Anak Usia Dini, belajar bernyanyi itu sudah biasa. Anak-anak suka akan hal itu, dan orang tuanya bangga akan hal begitu. Seperti tidak ada hobi lainnya saja, kecuali bernyanyi. 

Tidak mengejutkan memang, adanya video-video yang menampilkan anak-anak bernyanyi lagu-lagu cabul ataupun dewasa itu. Tentu saja yang mengunggahnya adalah orang dewasa yang kurang ajar. Dan yang memvideokannya orang dewasa yang berengsek. Lantas anak-anak yang sebenarnya polos dan tidak tahu dengan pasti apa maksud lirik-lirik itu malah hanya menjadi kambing hitam dan celotehan “miris” kepadanya pun banyak datang dari penjuru netizen dewasa. Apakah realitas di lapangan tidak menampar kita, yang dewasa ini? Bahwa ketidakberadaban budi bahasa anak-anak itu karena kita mati rasa, dan lebih mengedepankan kesenangan dan kenyamanan sendiri, dan lupa bahwa anak-anak menjadikan kita teladan pada masa pertumbuhannya itu… 

Semoga saja ke depan ada lagu-lagu yang layak buat anak-anak, dan orang tua ataupun dewasa hanya memutarkan lagu-lagu yang pantas di rumah-rumah mereka. Dan jika terpaksa ada tetangga yang memutar lagu dewasa nan cabul, kita sebagai tetangga dan punya anak harus memberikan nasihat tentang ketidakpantasan lagu-lagu tersebut secara halus dan memastikan bahwa anak-anak kita tidak juga ikut-ikutan latah mencontoh hal itu. 

Dan yang jelas, orang tua pun harus mendampingi anak-anak saat menonton televisi, serta tidak membiarkan mereka duduk santai melihat acara-acara gosip. Silakan orang tua menyukai hal rendah semacam itu, tetapi jangan pula anak-anak sendiri ikutan menjadi rendah. Ingat, guru pertama bagi anak-anak adalah orang-orang dewasa yang ada dan tinggal bersamanya di rumah. 

[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire