Rabu, 06 Juli 2016

Allah Tidak Mengabulkan Doa

Pertama-tama, selamat lebaran bagiku dan rekan sekalian yang berkesempatan merayakannya. Semoga ramadan yang telah kita lalui bisa menjadikan kita pribadi yang kokoh laksana gunung, tidak seperti gunungan pasir di gurun yang mudah “dibentuk” angin topan kehidupan. Kali ini, bukan soal baju baru—karena memang tak ada itu—ataupun soal makanan ini itu. Kali ini, aku ingin berbagi isi khotbah yang disampaikan khatib saat salat idulfitri. Tentang satu sisi, bahwa “Allah Tidak Mengabulkan Doa”, padahal Allah berfirman, “Berdoalah, maka akan kukabulkan.” 

 

Seperti biasa, dengan berurai airmata, sang khatib mengingatkan jemaat yang hadir untuk lebih peduli terhadap sesama. Tidak perlu yang jauh-jauh, minimal tetangga depan, belakang, samping kiri, dan samping kanan rumah sendiri. Dan utamanya menyantuni anak yatim, berbaik budi bahasa kepada mereka, serta menjamin kelangsungan hidup mereka yang mana tanggung jawabnya ada di tangan segenap jemaat. 


Lalu khatib mengajak berdoa, namun sebelumnya ia mengatakan bahwa “Allah Tidak Mengabulkan Doa”. Katanya, “Bila seorang petani berdoa, ‘Aku memohon kepada Allah terhindar dari panen yang gagal,’ maka Allah tidak akan mengabulkan doanya itu kecuali dia sudah berupaya bertani secara benar sebagaimana mestinya. Bila seorang murid berdoa, ‘Aku memohon kepada Allah terhindar dari hasil ujian yang jelek,’ maka Allah tidak akan mengabulkan doanya itu kecuali dia sudah berupaya belajar sebagaimana mestinya sebagai murid. Bila seorang muslim berdoa, ‘Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk,’ maka Allah tidak akan mengabulkan doanya itu kecuali dia berusaha dengan keras menghindari maksiat. Dan seterusnya…” 


Aku tidak bisa membendung airmata. Ia mengalir begitu saja, dengan derasnya. Betapa atas yang aku inginkan begitu kupaksakan, sedangkan atas apa yang aku butuhkan tidak aku usahakan. Ini hal yang sulit bagiku. Oh kebagusan yang dicintai, meliputi sisi batin yang lurus dan batin yang tulus. 


Ya Allah, sebagaimana tidak simsalabim Engkau menciptakan alam semesta ini, aku pun tidak bisa mewujud secara tiba-iba, sekali jadi, atau melalui janji ini itu. Aku tidak bisa dan tidak akan terburu. Oh Allah, atas segala dayaku dalam proses selama ini dan ke depannya, hanya Engkau sebaik-baik penilai. Aku hanya berusaha menjadi baik. Just be good, "god is good". 


[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire