Rabu, 08 Juni 2016

Takdir, Cinta, dan Kehangatan Sebuah Keluarga

Brownie days. Dok. Pribadi
“Pernahkah kamu merasakan sesuatu berubah dari dirimu. Entah karena peristiwa menyedihkan atau justru menyenangkan atau mungkin keduanya pada waktu bersamaan?” (Hal. 98)

Apa kemungkian bagi sebuah hubungan yang dilandasi perasaan? Kalau tidak ada kelanjutan, barangkali hanya ada kesudahan yang menyakitkan. Apakah itu sebuah akhir?

Harapan seseorang yang jatuh cinta dan mencintai tentu “balasan”, sekalipun bagi mereka pecinta sejati segalanya tidak harus memiliki. Namun dasariahnya, semua memimpikan keberlangsungan dari suatu rasa. Itu pula yang “dicita-citakan” oleh Basque dan Chester dalam Brownie days karya Yasmin Hanan.

Sebagai novel percintaan remaja, Brownie days cukup menarik dan apik. Kisah mengalir dengan logika cerita yang lancar. Dan kisah dimulai dari sebuah negeri nun jauh di sana, yang bernama Goldenrod. Hiduplah seorang anak gadis yang dikenal dengan nama Basque yang tinggal dengan ayahnya. Ibunya? Tidak ada. Tetapi bukan tanpa alasan. Sampai kemudian Basque dipertemukan di tengah suatu ujian yang tidak ringan. Namun Ibu hadir menguatkan.

Basque yang memiliki mata berwarna hijau, sebagaimana anak-anak di negerinya mempunyai beberapa kemampuan untuk digunakan demi kepentingan membela diri dan membantu serta memudahkan segalanya. Begitu pun dengan Keeren salah satu sahabat dekatnya. Namun usia terus bertambah, dan ujian pun harus memisahkan mereka. Keeren dikirim ke Venus, sedangkan Basque dikirim ke Bumi.

Di sinilah segalanya dimulai dan dapat berakhir. Basque memasuki dunia manusia. Dunia yang luas, tetapi kadang begitu sempit seperti daun kelor. (Aku tidak tahu apakah di Goldenrod ada daun kelor?!). Di mana Basque? Ia turun di suatu wilayah yang masih termasuk ke dalam Amerika Serikat. (Aku tdk tahu mengapa tidak Eropa, ataupun Asia... hehehe ).

Basque sebagaimana remaja Amerika pada umumnya, bersekolah. Dan mulailah segala keajaiban, dan malapetaka. Keasyikan dan kekesalan. Cinta dan benci. Semua benar-benar bercampur baur sampai kemudian Basque terjebak rasa dalam labirin rumit dengan seorang siswa yang memiliki kesukaan pada segala yang cokelat, sama dengan dirinya. Antara perasaannya yang sangat “manusiawi” dengan kenyataan bahwa dirinya alien dan bukan manusia. Sangat paradoks. Basque dihadapkan antara pertaruhan takdir, cinta, dan kehangatan keluarga.

Ah, sebuah kisah yang menarik bukan? Apakah kemudian hal itu menjadikan keduanya terlarang saling mencintai? Bagaimana Basque menghadapi dunia sekolah? Yamin Hanan punya jalannya tersendiri menciptakan suatu awal dan akhir dari sebuah cerita. Aku dibikin banyak baper juga. Dan aku harus jujur, beberapa bagian mengingatkanku dengan kisah tertentu. Hanya saja, ini begitu sederhana seperti warna cokelat yang meneduhkan. Dan memang sepanjang cerita kita akan disuguhi hari-hari yang brownie.

Sebagai seorang yang tdk begitu akrab dengan cerita fiksi fantasi, aku cukup terhibur dengan karya ini. Dan rasanya akan menjadikan pembaca remaja semakin galau sebagai bentuk dari semakin menjadi dewasa. Adakah kawan sekalian pernah membaca karya ini?

[]

Identitas buku
Brownie days oleh Yasmin Hanan

Pastel Books, Bandung, 2016, 173 hal.

2 komentar:

  1. Goldenrod ada daun kelor gak ?

    Harapan seseorang yang jatuh cinta dan mencintai tentu “balasan”, dan konteks cinta yang tidak harus memiliki, mungkin benar bagi mereka pecinta yg kemampuan memaknainya sudah tinggi sehingga rasa yg dinamai "cinta" itu tidak selalu harus saling memiliki (ada kelanjutan hubungan).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya nggak ada hehehe

      Iya, betul sekali, malah kadang terlalu naif juga sih kalau nganggep bahwa nggak harus ada itu. Sekalipun itu suatu pernyataan acapkali hanya sebagai pengobat dari luka dalam percintaan itu sendiri....

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire