Jumat, 03 Juni 2016

Tak Ada Cinta yang Sempurna dan Tak Ada yang Salah dengan Cinta yang Hadir

Frankfurt to Jakarta. Dok. Pribadi
Janji, kenangan, dan takdir. Itulah labirin yang bisa menjebak dan menyeret para pecinta ke jurang nestapa tiada tara, saling melukai satu sama lain dengan dalih “aku harus bahagia” sekalipun di atas penderitaan orang lain.  Standar kebahagiaan tiap orang berbeda. Begitu pula dengan Rianda Setyaningrum, Fedi Rizal Prabowo, dan Andini Yusuf. Apa yang terjadi dengan mereka?


Frankfurt to Jakarta”, ini merupakan novel duet antara Leyla Hana—penulis perempuan muslimah yang karyanya sudah banyak beredar di toko buku, satu hal yang kuingat, Leyla Hana kerap kali mengusung tema yang terkait dengan biduk rumah tangga, ini satu tema yang memang menarik, tetapi kalau tidak piawai menggali topik-topiknya tema ini bisa pula sangat membosankan—dan Annisah Rasbell, sebuah nama yang masih asing bagiku.

Kalau dilihat, akhir-akhir ini memang tengah terjadi fenomena duet dalam berkarya, jadi tidak hanya dalam dunia musik, dalam tulis-menulis pun, seseorang bisa bersama-sama menciptakan suatu novel bersama secara utuh, bahkan ada yang ditulis oleh lebih dari dua orang. Sungguh! Dan apa yang diangkat oleh Leyla Hana dan Annisa Rasbell kali ini tentang “cinta terbagi, biduk rumah tangga dan cita-cita.”

Singkat cerita, novel ini berkisah pada tiga tokoh utama yang entah karena ada angin apa—sebab angin banyak namanya jadi aku pun tidak tahu mana nama yang tepat untuk menggambarkan hal itu—ketiganya masuk ke dalam labirin cinta. Dengan dua latar cerita utama, di Frankfurt dan Jakarta.  Awal cerita bermula di Frankfurt, dengan tokohnya Rianda Setyaningrum, tengah bergembira menjembut asa, pendidikan S2-nya. Dan cerita lainnya bermula di Dramaga, Bogor—kemudian fokus di Jakarta—dengan tokohnya Andini Yusuf, mahasiswi IPB—Institut Pertanian Bogor, yang dalam novel ini sepertinya keliru dituliskan menjadi Institut Teknologi Bogor (hal. 16)—tingkat 3, yang begitu dirundung pilu sebab terlahir dalam keluarga yang cukup rani, namun kedua orangtuanya sangat kolot dalam memandang seorang anak perempuan—biasa, dituntut untuk segera menikah, padahal Andini memiliki rencana hidupnya sendiri.

Dua perempuan yang digambarkan memesona itu—pendek cerita—ditakdirkan oleh tangan kehidupan bertemu dengan Fedi Rizal Prabowo saat di Frankfurt, yang memberikan perhatian lebih kepada Rianda sampai kemudian menghasilkan janji saling menunggu, dan yang begitu terpesona pada Andini saat di Jakarta, sehingga kemudian ia menjalani suatu perjodohan dengan Andini. Ada yang terluka, ada yang tidak tahu, ada yang nyaris lupa diri. Begitulah kemudian cerita mengalir dan berlanjut membentuk labirin segi tiga yang tidak mudah untuk dipecahkan, karena tak ada yang salah dengan cinta yang hadir.

Kisah tidak hanya menyoal cinta itu sendiri. Ada hal-hal penting lainnya yang menurutku begitu krusial dan harus menjadi bahan renungan tersendiri. Yakni, soal masalah-masalah perempuan, dan sikap laki-laki serta orangtua terhadap masalah itu. Mulai dari pendidikan bagi perempuan, karir bagi perempuan, hak bicara bagi perempuan, kesempatan menolak bagi perempuan, status ibu bagi perempuan di era modern, menikah dini dan yang lainnya. Sedikit banyak, novel ini bisa dikaji dengan kritik sudut pandang feminis islamis—kalau feminis ekstremis saya pikir kurang tepat karena memang tidak terlalu ditekankan unsur revolusi dari tokoh-tokoh perempuannya terhadap aneka beban yang dihadapinya.

Jujur saja, aku di awal-awal cerita sudah sangat mendukung pada tokoh Andini, sayangnya dalam cerita ini Andini tidak diberikan power oleh penulis untuk menjadi seorang yang kuat dan mandiri—memang sih akan lain cerita kalau di-seperti-itu-kan. Dan aku sangat sebal sekali dengan fragmen saat Andini harus berhadapan dengan Abah dan Umi-nya yang bisa dibilang konservatif. Herannya, Rianda, dalam kisahnya ini pun tidak diberikan kekuatan sebagaimana perempuan modern yang mengeyam pendidikan barat. Sepertinya kedua penulis memang sengaja menghadirkan perempuan “ketimuran” dalam menghadapi labirin cinta. Sama seperti Fedi Rizal Prabowo, ataukah memang, seberapa tinggi pun pendidikan seorang pria, akan sama saja dalam urusan cinta terhadap perempuan? Sungguh! Semoga aku tidak seperti Fedi Rizal Prabowo dalam beberapa hal!

Iya, walaupun banyak bagian yang bikin aku gemes dan kesal, dan nyaris bikin aku untuk tidak meneruskan saja membaca novel ini, aku memaklumi logika cerita yang memang dirancang begitu oleh kedua penulisnya. Aku pun menyelesaikan novel tersebut. Dan aku sepakat memang tak ada cinta yang sempurna. Serta satu hal yang cukup menggembirakan aku sebagai seorang yang masih lajang sejauh ini, kesempatan baru selalu hadir.  

Terakhir, aku tidak tahu bagaiman porsi duet antar keduanya, namun aku cukup suka dengan gaya mengalirkan cerita pada bab-bab yang porsi tokoh Rianda-nya besar (banyak hal baru soal Jerman yang kuketahui pula jadinya), sedangkan pada tokoh Andini, kurasakan terlalu biasa dan kaku, kurang cair. Dan kalau aku ditanya apakah novel ini benar sebuah kisah yang inspiratif? Bagiku cukup inspiratif, dan kiranya beberapa isu yang diangkat bisa dikembangkan oleh pembaca lainnya yang tertarik berkarya pula. Atau mungkin oleh kedua penulis ini, aku pikir ada bagian yang bisa digali dan dikembangkan lagi.
Misalnya soal fenomena ajakan menikah dini melalui dakwah kampus. Itu memang koyol namun itulah yang terjadi di mana-mana. Dari banyak tokoh muslim berpengaruh dalam sejarah di dunia ini, belum pernah aku dapati bahwa dakwah mereka mengajak menikah dini, bahkan dari mereka ada yang tidak menikah. Ups! Bisa panjang nih ceritanya, akhirul kalam, sudahkah kawan sekalian membaca karya yang satu ini? Terima kasih untuk Kak Hani yang telah menghadiahi aku novel ini.

[]
Identitas Buku
Frankfurt to Jakarta
Janji, Kenangan, dan Takdir oleh Leyla Hana & Annisah Rasbell
            Penyunting Tim Edu Penguin

            Edu Penguin, Tangerang, 2013, 320 hal.

2 komentar:

  1. Apakah benar cinta itu tidak ada yang sempurna mas ? memang biasanya membaca novel itu membuat kita bosan tapi jika kita teliti dan ulet pasti kita dapat menemukan pesan-pesan di dalamnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nggak ada yang tanpa pesan ataupun nilai yang namanya karya itu. Apakah cinta tak ada yang sempurna? Karena ia sudah sempurna, maka segala upaya kita sebenarnya nggak akan melebihi itu. Jadi, semua cukup sederhana saja pada dasarnya.

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire