Selasa, 07 Juni 2016

Seniman (yang Pensiun) Dalam Dunia yang Berubah

Masa Penuh Kebimbangan Dok. Pribadi
Ada jeda, lalu Ayahku berkata, "Katakan kepadaku, Masuji, tahukah kau bagaimana dunia kehidupan para seniman?" (hal. 49) 


Lepas dari pandangan sekarang dalam memandang dunia keprofesian, sudah sejak dulu, bahkan masih ada sebagian dari orangtua yang tetap memandang remeh dunia seniman. Hal itu pula yang dialami oleh Masuji Ono, seorang seniman pada masanya. Di saat masa pensiunnya tiba, kenangan-kenangan itu menghampiri dan menciptakan suatu kebimbangan tersendiri. Bagaimanakah akhir dari seorang seniman bohemian dan propagandis imprealisme Jepang itu?


Masuji Ono merupakan tokoh utama yang bercerita kepada kita dalam novel An Artist of the Floating World karya Kazuo Ishiguro. Berlatar tahun 1940-an, pasca Jepang kalah terhadap sekutu, dan kondisi Jepang porak-poranda dan berupaya membangun segalanya dari awal. Begitupun dengan Masuji Ono, ia berusaha memulai segalanya, di tengah bayang-bayang masa lalu dan pandangan orang-orang pada masa kini terhadap dirinya yang pernah menjadi seniman agen propaganda. Sekilas ini mengingatkanku kepada kisah para mantan seniman Lekra.

Cerita dimulai dengan pengisahan dari Ono tentang "keberhasilannya" membeli rumah salah satu orang ternama di wilayahnya. Jual belinya sungguh unik, karena bukan soal harga, tetapi yang membelinya harus dari kalangan yang bermartabat. Dan Masuji Ono menjadi salah satu kandidat yang dipilih oleh para pewaris rumah megah dan artistik itu. Sampai kemudian Ono berhasil mendapatkan rumah itu.

Hari-hari pensiunnya diisi dengan merawat rumah itu, jangan sampai ada yang berubah. Sampai kemudian kisah beralih pada kunjungan kedua putrinya ke rumah itu, dan seorang cucunya. Konflik mulai terjadi. Di mana salah satu putrinya belum menikah, karena peperangan ia menjadi terlambat dan semuanya menjadi serba sulit, apalagi pernah gagal sekali proses perjodohannya. Dan ternyata, "perjohohan" pada masa itu tidak lepas dari detektif yang mencari tahu bibit bobot dan bebet calon pasangan. Dan itu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Ono, yang di kemudian hari memang akan terjadi lagi proses perjodohan.

Seperti dikatakan di muka, sebagai seniman yang luar biasa namun turut serta dalam propaganda, di masa setelah kekalahan Jepang semua itu dianggap rendah dan suatu "dosa", sehingga Ono seperti terkena beban moral yang dalam, sedangkan orangtua sebisa mungkin mengihindari anaknya menikah dengan orang-orang yang pernah terlibat dalam propaganda imprealis Jepang. Padahal, dahulu mereka pun mungkin pendukung kejayaan Jepang memperluas kekuasaannya itu.

Sebagai "aku" tokoh utama yang bercerita secara langsung, Ono banyak menceritakan kenagan-kenangan masa lalu, kematian istrinya, gugurnya anak lelaki di medan perang, tentang bagaimana kisah awal berkarir, tentang guru pertamanya, tentang ayahnya yang sempat membakar karyanya waktu kecil, tentang kedai tempatnya berkumpul, tentang murid-muridnya, dan tentang segala di masa lalu dan keterkaitannya dengan masa kini, karena beberapa muridnya ada yang masih hidup. Rekan seperjuangannya pun ada yang masih hidup. 

Semua itu menjadi suatu labirin yang melingkupi keseharian Ono sebagai seniman yang sudah pensiun namun dirinya tetap mengedepankan yang namanya idealisme dan integritasnya dalam berkarya dan pandangannya tentang kejayaan Jepang. Sedangkan kini negaranya tengah melakukan banyak perubahaan. Dan anak, cucu, serta menantunya lebih dominan pada kehidupan di masa pasca kekalahan Jepang, pemikiran mereka lebih bebas dan terbuka. Sampai-sampai, Ono sempat berkata kepada salah satu kawan yang karena fokus pada perjuangannya tidak sempat menikah, kata Ono, "Seorang anak bisa membuatmu cemas luar biasa."

Padahal, Ono memang gelisah terhadap dirinya sendiri. Ia seperti ragu melangkah dengan dunia yang serba baru, sedangkan ia begitu sangat terikat dengan dunia lamanya. Sampai-sampai dirinya pun tidak sempat melukis lagi padahal hal itu masih mungkin. Pada sebuah kesempatan, cucunya, Ichiro berkata "Ayah bilang dulu  kau seniman yang terkenal. Lalu kau tidak melukis lagi." Untuk kata "kau", jika memang sesuai dengan teks aslinya, di Jepang memang sangat egaliter dalam hal komunikasi. Walaupun terdengarnya seperti tidak sopan untuk ukuran cucu yang belum dewasa kepada kakeknya.

Lalu Ono berkata, "Aku sudah pensiun, Ichiro. Semua orang pensiun ketika mereka mencapai usia tertentu. Itu sebuah hak, semua orang pantas istirahat."

Namun tetap saja, Ono dalam kebingungannya, ia tidak pernah benar-benar merasa istirahat sekalipun ia tidak melukis lagi. Misalnya, ia memaparkan, "Masa pensiun memberikan waktu luang lebih banyak. Tentu saja, salah satu hal menyenangkan dari pensiun adalah kau bisa melewati hari dengan ritme yang kau atur sendiri, santai karena kau tahu telah bekerja keras dan memupuk prestasi di masa lalu. Meskipun demikian, pikiranku pasti sedang kosong sampai berjalan-jalan tanpa tujuan..." (hal 43)

Sungguh, Masuji Ono menawarkan penuturan yang sangat khas, dan terkait dengan psikologis seorang seniman, yang memilih pensiun dalam berkarya, walaupun pada akhirnya ia mencoba melukis sebagai sarana "mengobati" dirinya.

Apa yang ditawarkan Kazuo Ishiguro sangat menarik karena berkaitan dengan masalah yang cukup krusial, mulai dari problem pensiun, kreativitas, profesi seniman, idealisme,  hubungan sosial, masa lalu, masa depan, pandangan hidup seseorang, dan banyak hal lainnya. Termasuk soal pernikahan dan budaya yang melingkupinya. Tidak ada solusi jitu selain dari damai dengan masa lalu dan akrab dengan masa kini, begitulah akhirnya yang diupayakan Masuji Ono.

Sebuah novel yang apik. Hanya saja, karena kualitas kertasnya bikin pedih mata, karena mirip kertas koran, jadinya aku cukup butuh waktu yang agak lama membaca novel ini. Apakah rekan sekalian ada yang sudah membacanya?

[]

Identitas Buku
An Artist of the Floating World (1986)
Masa Penuh Kebimbangan oleh Kazuo Ishiguro
Penerjemah Rahma Wulandari
Elex Media Komputindo, 2013, Jakarta, 225 hal.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire