Senin, 06 Juni 2016

Sebuah Revolusi dari Kapal Pabrik Penangkap Kepiting

Kani Kosen. Dokl. Pribadi
"Dasar perusahaan ... 
cuma cari untung banyak.
-- Kata Seorang Nelayan Tua (hal. 88)


PADA masanya, barangkali hanya "gerakan komunis" yang nyata menjadi dasar perlawanan terhadap kapitalisme pada masa kolonial masih berjaya. Itu pula rasanya yang menjadi dasar Kobayashi Takiji membuat suatu karya  sastra berupa novel berjudul Kani Kosen yang jika diterjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti Kapal Pabrik Penangkap Kepiting dengan latar malaise ataupun krisis dunia pada sekitaran tahun 1929 dan memang ditulis oleh Takiji pada tahun itu. Uniknya tahun 2008, dikatakan bahwa novelnya tersebut sempat populer di tengah-tengah pemuda-pemudi Jepang. Mengapa?


Apa yang mungkin terjadi jika suatu negara ataupun bahkan dunia mengalami krisis ekonomi, selain pengangguran yang merajalela? Itu memang masalah utamanya, namun ada yang lebih mendasar yang akan berdampak kepada seluruh komponen bangsa yang terkena imbas krisis tersebut, yakni timbulnya ketidakadilan, dan memicu satu sama lain bersikap pun bertindak tidak adil terhadap sesamanya.

Itulah yang menjadi salah satu dasar yang digambarkan dalam novel ini. Dan tidak bisa dipungkiri kalau di zaman sekarang pun, masih berlaku penindasan semacam itu, hanya karena ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan, ini yang kemudian menjadikan karya klasik ini diminati pemuda-pemudi di kemudian harinya. Apakah kemudian komunisme yang ditawarkan oleh Kobayashi Takiji?

Jika aku membaca rangkaian ceritanya, para tokoh dalam novel lebih kepada terinspirasi dan penasaran atas "gerakan komunis", selebihnya mereka hanya ingin bebas dari kesewenang-wenangan. Apakah yang terjadi sebenarnya dalam Kani Kosen? Sampai-sampai para tokoh harus bersuara menggunakan alat yang sekilas berbau kiri itu?

Semua berawal dari ketidaktahanan para kelasi di Kapal Pabrik Penangkap Kepiting. Lambat laun, di tengah jam kerja yang luar biasa panjang dan tidak tentu, serta imbalan yang tidak setimpal, serta kesadaran bahwa mereka pada dasarnya tertipu oleh pihak perusahaan yang merekrut mereka, di mana janji awal tidak seperti pada kenyataannya.

Sungguh sulit kugambarkan bagaimana kondisi para kelasi di kapal tersebut, di mana mereka harus tidur di tempat yang disebut dengan "pispot kotoran". Mengapa? Karena memang tempat itu sangat bau, seperti tempat sampah saja. Mereka tidak diberikan tempat istirahat yang layak, bahkan makan pun hanya nasi panas belaka, itu pun hanya sedikit. Belum lagi dengan mandor yang luar biasa kejam dan menjadi pengendali semuanya, sekalipun ada kapten kapal, semua tunduk kepada mandor karena dia memiliki senapan.

Sampai kemudian salah satu dari para pekerja itu berkata, "Ngomong-ngomong, apakah ada yang lebih penting daripada nyawa kita, teman-teman?"

Apalagi setelah adanya salah satu kelasi yang mati di Kani Kosen. Semua menjadi serba tidak pasti, kemurungan, duka yang dalam, di tengah-tengah ombak lautan yang cadas serta mandor yang ganas. Sampai kemudian mereka tergugah oleh kekuatan dari pamflet pemberontakan.

Beberapa dari mereka yang memiliki pemikiran yang radikal mencoba untuk menyusun rencana dan sampai pada kesepakatan dan persetujuan dari segenap kelasi. Tetapi sial. Sebagaimana dalam kondisi masa kini di mana pengusaha tidak sendiri, selalu ada pemerintah dengan militernya. Maka itu pula yang terjadi di Kani Kosen.

Entah dengan apa Si Mandor yang keparat itu justru mendapatkan dukungan dari kapal kerajaan. Pada awalnya, saat kapal kerajaan datang menghampiri, beberapa berujar dengan gembira dan berharap bahwa kerajaan akan ada di pihak kerajaan. Namun sial, ternyata kapal kerajaan pun berpihak pada Si Mandor itu. Para kelasi dan kadet yang bergabung dengan mereka merasa tidak memiliki kawan, bahkan kapal kerajaan milik kaisar pun tidak lagi melindungi mereka. 

Apakah lantas perlawanan menjadi padam? Tidak, itu hanya suatu permulaan. Sekalipun ada yang ditahan gara-gara itu. Dan begitulah cerita mengalir dengan, jujur saja, penuh rasa pilu dan jijik. Betapa seorang wakil perusahaan bisa begitu berambisi dan menganggap para pekerja itu bukan lagi manusia di matanya.

Sungguh suatu pengisahaan yang memedihkan mata. Selain karena kondisinya ada di tengah lautan, jauh dari kehidupan dan keluarga, Hanya sesekali mereka menepi ke dekat pulau atau ke kapal barang. Menjadikan mereka kadang justru lupa diri pula. Seperti singa kelaparan, saat melihat barang langsung ingin memilikinya. Pada awal-awal kisah itu, menjadikan para pekerja tidak pernah memiliki uang simpann. Dan sebagaimana sebagai umumnya pria normal, mereka pun memiliki hasrat seks. Malu sudah tidak ada lagi, di "pispot kotoran" beberapa melakukan onani begitu saja, walau ada pula yang akhirnya merelakan dirinya menjadi pelampisan bagi yang lainnya pada kondisi-kondisi darurat,

Namun lambat laun mereka secara alamiah begitu tidak berhasrat pada apa-apa, bahkan mereka tidak yakin esok akan masih hidup. Seolah-olah mereka hidup di dalam neraka saja. Terus bekerja tanpa mendapatkan apa-apa. Hanya hukuman demi hukuman yang didapati jika tidak mendapati target tangkapan kepiting yang diharapkan oleh perusahaan. Duh, kadang seperti tidak punya akal sehat saja.

Sampai kemudian mereka mendapatkan pencerahaan melalui gerakan berorganisasi, di mana bagian yang terpenting bagi mereka adalah kebersamaan dan tidak ada pengkhianatan agar dapat melawan ketidakadilan. Sungguh, mereka bukannya tidak mau bekerja ataupun merasa bosan. Semua hanya ingin segalanya berjalan secara adil. Sehingga tidak ada yang namanya perbudakan. Dan persiapan pemberontakan pun berlangsung kembali.

Sebuah kisah, yang menggambarkan suatu latar belakang apa yang mungkin  mendasari suatu gerakan yang dapat kita sebut dengan revolusi. Demi keadilan bagi semuanya. Dan pada akhirnya, aku pun tidak mendapati propaganda agar kemudian Jepang ataupun pembaca untuk berpaham komunis(me), sebab yang lebih ditekankan sebenarnya bagaimana kita seharusnya menghargai nilai-nilai humanis. Tetapi, memang selalu ada pengorbanan dalam setiap perjuangan.

Secara umum isi novelnya menarik, sekalipun di beberapa dialog seperti aneh karena ada sebutan "mbak-mbak" yang notabene terdengar sangat akrab bagi kita sedangkan ini latar di Jepang. Misalnya, "Mbak... mbak... rotinya enak ndak?" Seolah-olah salah satu kelasinya orang Jawa saja. Dan tentu, ini novel untuk dewasa karena banyak umpatan kasar semisal "goblok", "berengsek", dan semisalnya. 

Apakah ada dari rekan sekalian yang pernah membaca karya yang satu ini?

[]

Identitas Buku
Kani Kosen
Sebuah Revolusi oleh Kobayashi Takiji
Penerjemah Andy Bangkit Setiawan
Jalasutra, 2013, Yogyakarta




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire