Minggu, 26 Juni 2016

Nabi Muhammad Muslim yang Paling Hebat

https://goo.gl/wghScS
Jauh sebelum Allah berfirman Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al Qalam: 4), Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah menghimpun sekian banyak kelebihan dibandingkan dengan orang-orang lain yang hidup pada masanya. Sekalipun, kehidupan awalnya sangat memilukan hati siapa pun yang mengetahuinya. Mulai dari kenyataan lahir sebagai “bocah” yang yatim dan kerasnya kehidupan gurun yang harus dihadapi. Namun kemudian, menjadi muslim yang paling hebat, dan menjadi salah seorang yang paling berpengaruh yang pernah hidup di muka bumi ini. Timbul tanya di sana sini, “Mengapa bisa berakhir begitu?” 


Karena keunikan karakter dan kepribadiannya,” itulah jawabannya. Sehingga, sudah lazim kita dengar bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam merupakan uswatun hasanah. Malahan, dari namanya saja—sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Moljum Khan (2010) dalam The Muslim 100: The Lives, Thoughts and Achievements of the Most Influential Muslims in History—sudah menjadi satu tanda dan doa yang memiliki arti, “yang terpuji.” Apa kemudian yang membuat karakter itu semakin unggul ialah kenyataan bahwa hidup bukan tanpa perjuangan. Muhammad shallallahu alaihi wa sallam harus menerima ternyata dirinya “bukan siapa-siapa.” Dirinya bukan seorang pemimpin ataupun politikus berpengaruh dalam masyarakatnya, dirinya pun bukan seorang yang berharta—padahal, dua hal itu bisa menjadi barometer seseorang memiliki otoritas dalam masyarakat. 

Telah banyak dikisahkan bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, meskipun hidup dalam kekurangan dan tanpa pengaruh di masyarakatnya, dirinya tidak lantas bertindak yang tidak patut. Beliau shallallahu alahi wa sallam tetap menampilkan diri sebagai sosok yang berakhlak, jujur, dan berperilaku yang lurus. Itu saja. Dan karena itu pula, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam digelari Al-Amin dan As-shadiq. Ada satu kisah yang fenomenal yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, dan membuktikan bahwa Nabi Muhammad Muslim yang Paling Hebat

Kisah ini sudah banyak disampaikan dalam sirah nabawi, dan menjadi suatu “simbol”—menurut Dr. Ingrid Mattson (2008) dalam The Story of The Quran—peran Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menyatukan dan menuntun menuju pembaruan spiritual bangsa Quraisy pada saat itu. Dan ini, bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja. Dan cerita itu mengalir… 

Syahdan, Kakbah yang berada di Mekkah merupakan tempat yang rendah di antara tempat lainnya, sampai-sampai kalau hujan deras turun, bangunan bersejarah itu akan tergerus air dan terendam banjir. Suatu kali, fenomena alam menyebabkan adanya bagian dari Kakbah yang rusak, dan renovasi mau tidak mau harus dilakukan sesegera mungkin. Semua orang bahu-membahu membangun kembali Kakbah itu… Sampai pada akhirnya, nyaris terjadi konflik antar pembesar bangsa Quraisy saat tiba pada bagian penempatan Hajar Aswad. Siapa yang berhak menempatkannya? Itulah pertanyaan krusialnya, dan semua pemuka merasa paling berhak. 

Di waktu genting begitu, seseorang—sebagaimana dikisahkan oleh sejarawan ternama Ibn Hisyam—mengusulkan ide, bahwa siapa saja yang baru muncul ke pelataran Kakbah, maka dialah yang paling berhak. Apa semuanya setuju? Iya! Semuanya setuju dan menunggu siapakah orang yang akan datang itu… 

Dan ternyata—atas kehendak Allah—yang muncul itu adalah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dirinya baru saja pulang dari kebiasaan merenung di gua hira, hendak ke Kakbah untuk melakukan tawaf sebagai bentuk ritual sejak zaman Ibrahim alaihi sallam. Dan apa tanggapan para pemuka dan warga yang menunggu-nunggu itu? Ajaib! Mereka serempak berkata, “Inilah sang al-amin, yang dapat dipercaya. Kita tentu akan puas terhadap keputusannya.

Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pun mendengarkan perkara yang terjadi, dan dengan tenang tanpa keangkuhan dirinya pun tampil menengahi problem itu. Beliau shallallahu alaihi wa sallam meminta diambilkan sebuah selendang atau jubah—beberapa riwayat ada yang mengatakan beliau shallallahu alaihi wa sallam menggunakan sorbannya sendiri—lalu dihamparkannya dan diletakkannya “Batu Hitam” itu. Lantas meminta seluruh pembesar Quraisy untuk memegang setiap bagian ujung dan sisi kain itu dan mengangkatnya… Setelah terangkat, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sendirilah yang mengambil Hajar Aswadnya, dan meletakkan di tempat yang semula. Perkara pun selesai, dan semua lega karena berhasil melakukan hal itu. Tanpa harus ada konflik fisik. Tidak heran kalau Karen Armstrong—dalam A History of God: The 4,000-Year Quest Judaism, Christianty and Islam—mengatakan bahwa "Muhammad adalah seorang jenius yang sangat luar biasa."

Betapa benar kata adagium bahwa kejujuran adalah mata uang yang laku di mana saja. Sekalipun Muhammad shallallahu alaihi wa sallam orang yang tak punya, hidup sederhana, sejauh beliau shallallahu alahi wa sallam manusia merdeka—pada waktu itu di Jazirah Arab masih mengenal perbudakkan, dan Islam menghapus tradisi jahiliyah itu kemudian—maka akan dipandang, selagi memiliki reputasi yang baik, tidak ada rekam jejak yang buruk. 

Kemudian, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga,” itulah yang dirasakan oleh bangsa Quraisy ketika tahu bahwa Sang Al-Amin mereka, menyebarkan ke-Islam-an yang diterimanya, dan menentang segala kesyirikan yang dilakukan bangsanya. Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama, dengan segala keistimewaan yang dimiliki, sedikit demi sedikit orang mulai menjadi bagian dari “Cahaya” Allah, Islam yang rahmatan lil alamin. Orang-orang yang baik akal sehatnya, tentu akan melihat bawa beliau shallallahu alahi wa sallam berperangai bagus, dan yang dibawanya pun semakin meniupkan angin segar, karena menawarkan akhlak yang terpuji, mulai dari asas kita semua bersaudara, keadilan, hak-hak bagi perempuan, peduli fakir miskin, berjiwa sosial yang tinggi, penuh rasa kemanusiaan, meyayangi anak yatim dan lainnya. Namun selalu ada memang, orang yang lupa diri dan berdalih “demi tradisi nenek moyang” mereka, padahal telah nyata kebenaran itu. 

Muhammad shallallahu alahi wa sallam tidak patah semangat, beliau shallallahu alaihi wa sallam tetap menampilkan dirinya dengan akhlak terbaik, sekalipun mendapatkan banyak hadangan dari mereka yang tidak suka. Itu saja sudah sangat cukup bagi kita, bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam benar-benar, seperti ayat di atas, memiliki budi pekerti yang agung, sehingga sepantasnya menjadi teladan bagi kita semua, terutama bagi generasi penerus kita. Sungguh beruntung kita, memiliki Al-Quran sebagai pedoman, dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai panutan

Ini tentu saja hanya satu kisah tentang kebijaksanaan Muhammad shallallahu alahi wa sallam, ada banyak kisah lainnya yang bisa dikisahkan kembali oleh kita kepada siapa pun, terutama kepada anak-anak sebagai generasi di masa mendatang. 

Seperti kata pepatah, “Budi baik dikenang jua.” Maka, perlu kiranya kita menanamkan sejak dini tentang pentingnya budi baik itu. Salah satu caranya adalah dengan "mendongengkan" atau membelikan anak kisah-kisah hebat dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang ada dalam buku. Anak-anak pasti bersuka cita, apalagi, buku sirah nabi versi untuk anak-anak umumnya dilengkapi dengan ilustrasi yang berwarna dan penyampaian yang mudah dipahami tetapi tetap penuh pelajaran yang berharga. Dan sekarang tak usah bingung, sebab Buku Kisah Hebat Nabi Muhammad bisa dibeli di MatahariMall.com

[]

16 komentar:

  1. pgn beliin buku ini buat jav... sambil saya jg terus belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. tentu itu hadiah yang sangat berarti bagi jav :)
      saya juga ingin memiliki, membaca, dan mempelajari :)

      Hapus
  2. Selalu terharu membaca tentang beliau. Terimakasih sudah berbagi mas Usup. Salam Kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, keharuan selalu timbul dari kisah seorang yang dapat kita ambil hikmah darinya. Sama-sama. Salam kenal juga ya :)

      Hapus
  3. Nabi Muhammad memang manusia pilihan TFS :D
    Anak-anakku suka tu bukunya mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, manusia terbaik sepanjang zaman :)
      Syukurlah kalau anak-anak menyukai buku-buku biografi semacam itu :)

      Hapus
  4. Ya Allah saya jadi merindu Rasulullah, kalau lagi down penyemangat sekali. Saya mau eh bukunya ini. Oya, ini lomba. Semoga sukses ya mas Usup :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rindu kita sekalian kepada beliau shallallahu alaihi wa sallam, mudah-mudahan tergenapi di jannahnya kelak. iya, terima kasih ya :)

      Hapus
  5. Salam ya nabi, semoga kita termasuk golongan umatnya, aamiin

    BalasHapus
  6. Bukunya bagus karena ada gambar2 yg disuka anak2. Mudah dimengerti. kisahnya kurang banyak ... hihi... maunya nambah lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak akan cukup seribu buku untuk mengisahkannya hehehe
      :)

      Hapus
  7. Mengetahui segala kelebihan sifat Nabi Muhammad, memang tidak salah jika beliau dijadikan panutan oleh umatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitulah... kita tidak mungkin menjadi nabi, tetapi sifatnya sangat mungkin kita contoh dalam mengaruhi samudra kehidupan yang tidak mudah ini...

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire