Jumat, 24 Juni 2016

Membaca KARYA PENA Dik A 2014

Sampul Buku KARYA PENA. Dok. Pribadi
Menulis puisi bukanlah hal yang mudah, termasuk bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,” ungkap Iqbal Maulana Suryana dalam pengantar buku kumpulan puisi KARYA PENA (2015). 

Apakah berarti menulis puisi itu perkara yang sulit?
 
Sudah sejak lama, manusia Indonesia akrab dengan puisi, bahkan jauh sebelum datang penjajah ke tanah air, pada dasarnya kita sudah mengenal yang namanya puisi dengan aneka bentuknya yang khas. Mengapa? Karena puisi merupakan salah satu media di antara banyak bentuk karya sastra yang dianggap paling menarik sebagai sarana mengungkapkan sesuatu yang berasal dari dalam jiwa. Bahkan beberapa pemuda pada masanya dahulu, mengungkap perasaan dengan berpuisi. 

Itu pula yang dilakukan oleh 47 pembelajar (termasuk Iqbal Maulana Suryana) yang akhirnya menciptakan antologi puisi bertajuk KARYA PENA. Dikatakan dalam pengantarnya, “ini merupakan buah tangan … jiwa yang berkomitmen untuk menghilangkan duka lara melalui puisi.” Dengan kata lain, “jiwa yang bermasalah” hendak mengobati dirinya dengan menulis puisi. Tetapi tidak perlu heran, mengingat sudah banyak pula buku yang mengatakan bahwa menulis itu bersifat “herbal” alias dapat mengobati penyakit jiwa tanpa efek samping macam obat kimiawi. 

Apakah kemudian berhasil? Hal ini tentu saja harus ditanyakan kepada penyair yang menuliskannya. Apakah kemudian duka laranya sirna? Jawabannya pasti variatif. Namun kalau aku membaca hasil karya yang ada dalam KARYA PENA, boleh jadi duka laranya tidak hilang hanya berpindah dari jiwa ke dalam kata-kata dalam puisinya. Inilah yang agak berbahaya, jika puisi yang ditulis terlalu personal. Memang tidak semua, namun ketara betul bahwa yang penting duka lara “terpindahkan” begitu saja. 

Apa yang didapatkan pembaca? Orang boleh berbeda pandangan. Tentu selalu ada nilai dalam sebuah karya sebagai suatu bentuk usaha, hanya saja kadarnya berbeda-beda. 

Singkat cerita, aku mendapatkan buku ini karena mengikuti mini giveaway di akun instagramnya Iqbal Maulana Suryana. Saat itu kirimanya tiba tidak lama berselang beberapa menit dari azan magrib. (Semoga para kurir diberikan pahala berlipat ganda atas usaha jasa mereka). Dan, aku langsung membacanya. Sebagai yang percaya bahwa puisi ataupu karya sastra apapun pada dasarnya tidak bisa hanya dibaca, apalagi puisi, umumnya tidak bisa hanya dibaca sekali jika ingin benar-benar mendalaminya. Itupun yang aku lakukan terhadap KARYA PENA. 

Buku yang tebalnya kurang lebih 100 lembar ini, tentu saja dapat cepat selesai dibaca, apalagi puisi dengan segala tipografinya. Dan memang, di malam pertama aku berhasil menyelesaikan membaca semua puisi yang ada di dalamnya. Apa kesan pertama? Aku merasakan betul bahwa mereka yang tergabung dalam antologi ini mengeluarkan duka laranya, tanpa terbebani kaidah perpuisian yang berlaku. Tidak akan dijumpai kata-kata yang terlampau berbunga. Semua apa adanya. Dan sangat privat sifatnya. Malahan, beberapa aku lihat nyaris serupa dengan model puisi yang ditulis oleh anak sekolah. Kebetulan aku mantan tentor yang mengajar bahasa Indonesia di salah satu bimbingan belajar di Kota Bogor. Waktu itu sebagai awal perkenalan aku meminta para murid untuk menulis puisi tanpa sebelumnya aku terangkan soal perpuisian. 

Hal itu agak menggangu bagiku. Namun begitu, karya adalah karya, ditulis oleh siapa pun. Upaya dari Iqbal Maulana Suryana—Oh “Iqbal,” bunyi itu mengingatkanku kepada Muhammad Iqbal salah satu penyair muslim yang mempengaruhi sejarah dunia—tetap patut diapresiasi sebagai bentuk syukur atas anugerah dari Tuhan berupa kemampuan baca-tulis. 

Kemudian aku membacanya sekali lagi, beberapa puisi tetap sama saja kesannya. Barangkali, ada satu yang dapat dijadikan bahan diskusi, yakni karyanya Ridwan Firdauzi yang bertajuk “TANPA JUDUL”—boleh jadi memang tanpa judul. Isinya pun cukup kontemporer. Bertolak dengan Sapardi, Ridwan seperti memiliki “pandangan gelap” lainnya terhadap “hujan.” 

Dan aku rasanya, dua karyanya Iqbal Maulana Suryana pun menarik. Nampak lebih matang walaupun salah satunya kurang nendang juga kurasa. Selebihnya? Jelas ada plus minusnya dalam kacamataku. Namun begitu, semuanya sudah hadir dengan begitu jujur apa adanya dari dalam jiwa mereka. Apakah itu suatu masalah?! 

Akhirul kalam, untuk menutup tulisan kali ini, aku teringat dengan salah satu qoute dari Komunitas Taman dalam Labirin Mencatat Kata (2015), “PUISI tak hanya sekadar mengeksplorasi kata namun juga mengkreasi pikir.” 

Oh iya, ilustrasi helai bulu merak di setiap halaman puisi dalam KARYA PENA mengingatkanku kepada Khrisna dan pertemuan dengan salah satu pelukis dari India. Itu saja sebenarnya sudah simbol tersendiri.

Salam

[]

2 komentar:

  1. puisi itu kadang banyak interprestasi yang berbeda , karena banyak diksi yang kadang sulit untuk menerjemahkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu memang salah satu keunikan dari puisi, pada dasarnya semakin banyak interpretasi semakin kaya puisi itu mengandung makna, namun begitu ada juga yang sangat "telanjang"

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire