Sabtu, 04 Juni 2016

Kehidupan yang Dijalani dengan Impian dan Kegentaran

Di bawah bayang-bayang perang. Dok. Pribadi
Bagaimana rasanya keluar dari medan yang sesak dengan ledakan mesiu dan desingan peluru dan berada di tempat yang penuh dengan kegaduhan di Kairo ini?” Tanya salah satu tokoh bernama Aliyah kepada Ibrahim—kakaknya—yang harus menjalani wajib militer yang diberlakukan di negaranya. Apa jawaban sang kakak?

“Aku biasa-biasa saja.”

            Naguib Mahfoudz—salah satu sastrawan Mesir ternama—dalam karyanya “Di Bawah Bayang-bayang Perang” (1973) ini mengangkat suasana Mesir pascakalah perang dengan Israel, dan tentu dengan sisa-sisa trauma dari pendudukan Inggris di negaranya itu. Sang penulis dengan piawainya menggambarkan luka masyarakat akibat dari kalah perang dan termasuk kemungkinan kalaupun menang perang, sebab bukan soal kalah menangnya, namun perangnya itu sendiri yang disoroti.

            Dalam novel ini, kita disuguhkan labirin luka dari masyarakat Mesir, ada banyak nama-nama yang saling terkait satu sama lainnya, karena semua bangsa Mesir berada di bawah bayang-bayang perang yang sama. Sulit untuk benar-benar mencari tokoh utamanya secara tegas, karena semua begitu bertalian membangun cerita. Ibarat kata, bahkan tokoh piguran sekalipun sangat berperan dalam novel ini. Penceritanya memang sangat jitu!

            Nyata terlukiskan dalam karyanya ini masyarakat Mesir betul-betul tengah mengalami sakit. Sehingga masing-masing mencoba dengan pelbagai cara untuk tetap bertahan hidup, sebab bagaimana pun bertahan hidup lebih baik daripada mencoba untuk mati. Dan sebagaimana orang yang tengah sakit dan dirundung luka serta kesepian yang tiada tara, cinta menjadi salah satu pelipur terbaik. Sekalipun di sini ada yang mengartikannya secara hakiki ataupun majasi. Bahkan ada tokoh yang—karena  kegilaannya atas realitas kehidupan—sulit lagi membedakan antara seks dan cinta, dan termasuk isu suka sesama jenis masuk dalam kisah ini.

            Sebagaimana lazimnya Naguib Mahfoudz, selalu menjadikan salah satu latar pusat ceritanya di kedai ataupun kafe. Dan di sini, kedai kopi itu bernama Insyirah. Dan begitulah adanya, sebab di warung kopi, sebagaimana umumnya di Indonesia, orang-orang apa adanya berbicara dan menyoal segalanya.

            Dimulai dengan kisah sepasang muda-mudi yang dimabuk cinta di tengah masa depan yang sulit sekali diterka. Sang pemuda meyakinkan—sekalipun sang pemudi kurang yakin dan merasa terlalu dini untuk membicarakan hal itu—“waktu tidak penting selagi kita mampu menanggung akibat dari keputusan kita,” katanya lirih. Gombalan yang dahsyat, bukan?

            Namun perempuan dalam situasi yang serba susah kadangkali lebih cerdas daripada mereka yang berada dalam gelimang kemewahan. Ia tetap mengedepankan akal sehatnya, sekalipun pemuda itu terus saja merayunya. Dan mereka memang tidak sampai menikah, sekalipun mereka memang sempat saling mencintai.

            Kisah berlanjut, dan banyak konflik dan kemelut. Salah satunya sampai menyebabkan pasangan muda-mudi yang disebutkan dimuka tidak jadi membangun rumah tangga. Cinta, perselingkungan, pengkhianatan, pembunuhan. Semua berkelindan dan saling bertautan antar tokoh dalam kisah besar ini. Sampai-sampai nyaris sulit dipercaya, teman di satu sisi bisa menjadi musuh di sisi lain, kekasih di suatu waktu bisa menjadi bukan di waktu yang lainnya.

            Dan cerdasnya penulis memasukkan unsur dunia perfilman sebagai profesi dari beberapa tokohnya, yang sebenarnya sungguh cambukan bagi masyarakat dan pemerintah bahwa betapa semuanya seperti dalam film saja. Dan bahkan sulit dibedakan mana yang nyata dan nggak. Skandal pun bermunculan. Uang, tahta (kehormatan), dan wanita (serta pria) menjadi pusaran yang melenakan. Semuanya, begitu serupa kuncup bunga yang gagal berkembang. Nasib para tokoh begitu tragis dalam upaya eksistensi mereka. Sebagaimana perang itu sendiri yang penuh tipu daya dan konspirasi, begitupun dalam kehidupan para tokohnya.

            Sungguh banyak hal, dan semuanya seperti benang kusut. Aku sulit untuk menjabarkan secara jelas, namun ringkasnya, apa yang dipaparkan dan diperankan oleh para tokoh dalam cerita yang keren ini merupakan diorama kehidupan yang penuh lika-liku, yang disusuri oleh mereka yang ada di dalamnya, dengan impian akan hidup yang lebih baik di esok hari dan kegentaran yang menghantui masing-masing tokohnya, sehingga tidak ada yang benar-benar baik ataupun jahat, semuanya sakit dan berpeluang hidup dan mati dalam waktu yang bersamaan.

            Oh, sungguh suatu kisah yang kelam dan bikin ngelus dada. Di banyak bagian aku benar-benar dibuat sedih, haru, marah, kecewa, jijik, dan sebagainya. Jika ini benar-benar kisah nyata, sungguh pedih kehidupan waktu itu. Banyak problem psikologis diuraikan dalam aneka konflik dalam novel ini. Adapun soal banyaknya pandangan ini itu dalam setiap aspek cerita benang merahnya jelas, “tak ada kebahagian abadi dalam peperangan baik pada saat menang terlebih pada saat kalah.” Lalu untuk apa sampai sekarang manusia masih berperang?

            Sebagaimana para tokoh dalam novel ini tidak menemukan kata sepakat atas alasan apa sebagai pembenarnya, kita pun sampai kini masih terheran-heran, “mengapa” berperang, atau memang “mengapa tidak” untuk melakukan itu? Ya Allah!       Semoga kita diampuni-Nya. Apakah rekan sekalian ada yang pernah membaca ini? Atau, bagaimana pendapat rekan-rekan soal perang di dunia ini?

            []
            Identitas Buku
            Di bawah bayang-bayang perang oleh Naguib Mahfoudz
            Penerjemah Surgana F’an Penyunting Zulkarnaen Ishak

            Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta 2000, 234 hal.

8 komentar:

  1. Ah seru nih kayanya novelnya.. Cerita perang tapi banyak tema yang diangkat ya Mas.. Bisa buat referensi bacaan aku nih, makasi reviewnya Mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, seru banget. Kalah deh film horor mah. Karena ini sangat terkait realitas, nilai-nilai humanis. Oke, selamat hunting dan membaca kalau sudah menemukannya :)

      Hapus
  2. belum pernah baca... bikin galau kayanya ya

    BalasHapus
  3. Saya suka novel semacam ini. Tema yg diangkat tak hanya cinta tetapi lokalitas dan kejadian suatu masa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak saya juga suka cerita yang lebih kaya. Dan nggak cinta picisan saja. :)

      Hapus
  4. Setting tempat dan waktunya unik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, latar waktu dan tempatnya memang menarik, pasca kalah perang antara mesir dan israel

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire