Sabtu, 25 Juni 2016

Seorang Pemuda dan Gerimis di Arc de Triomphe

Tampak Sampul Depan Novel Gerimis di Arc de Triomphe by Nunik Utami Dok. Pribadi
Ia bersimpuh di sisi makam, dan belum ikhlas melepaskan kekasihnya berada di dalam sana. Apakah butuh waktu yang lama bagi seorang lelaki untuk move on dari kehilangan yang sejati? Begitulah yang terjadi pada Pascal, seorang tokoh dalam novel Gerimis di Arc de Triomphe. Namun begitu, selalu ada hal terduga dalam hidup ini, seperti gerimis ataupun hujan yang tiba-tiba turun di siang hari dan mengubah segalanya. 


Gerimis di Arc de Triomphe sebuah roman belia, cocok bagi kaula muda, pun bagi orang dewasa. Dikarang dengan apik oleh Nunik Utami. Apakah tentang cinta? Selalu ada hal itu dalam setiap novel yang menarik. Tetapi tidak selalu menyoal itu saja. Ada juga yang lainnya, dan kali ini… tema kuliner begitu kental dalam novel ini… 

Semua berawal dari ungkapan seorang gadis, “Ini seperti mimpi! Paris dan Kuliner!” Dan cerita pun mengalir… Gadis itu bernama Bunga—seorang yang penuh rasa penasaran yang tinggi, jiwanya bersemangat, cerewet, dan dapat dikatakan gampangan untuk mengulang janji dari seorang lelaki yang sebelumnya sudah mengecewakannya… mungkin kebutaan itu karena cinta—yang memiliki mimpi memiliki toko ruti di negerinya tercinta. Dan singkat cerita, dia diterima di sebuah sekolah kulineri ternama di Paris, Perancis. 

Ia pun berangkat dengan suka cita untuk meraih impiannya, dan tentu saja sosok yang begitu dikaguminya, yang menyebabkan dia harus munggu dan memendam perasaannya menjadi cinta dalam hati kepada Darel Antonio—seorang pemuda yang dikenalnya di Indonesia kemudian berkarir di Perancis, ia salah satu penyebab mengapa Bunga menjadi ingin sekolah kuliner dan memiliki toko roti, namun dirinya pelupa dan seringkali menyombongkan diri dan menganggap rendah orang lain. 

Dan Bunga tiba di Paris, ia tinggal di apartemen kawan lamanya, Odetta—seorang gadis yang modis karena sekolah mode di Paris. Mereka berdua sosok yang berbeda. Yang satu tidak peduli penampilan, yang satunya sangat perfeksionis pada penampilan. Walau begitu, keduanya sangat akrab dan saling mendukung satu sama lain. Malahan, Odetta menjadi seorang yang berarti pada akhirnya bagi Bunga, tanpanya mungkin ia akan terpuruk dalam cinta semu yang membiarkan akal warasnya mati. 

Mereka berdua tinggal di apartemen yang bersebelahan dengan apartemen seorang pemuda misterius bernama Pascal, begitulah yang diterangkat Oddeta kepada Bunga. Keduanya sempat berjumpa dengan pemuda itu saat pertama tiba di apartemen. Tetapi tidak ada percakapan berarti. Hanya tatapan yang aneh dan kekakuan dari Pascal kepada Bunga. Hal itu sempat menjadi tanda tanya bagi Bunga, dan ternyata itu memang suatu penanda pada akhirnya, yang menjadi kunci Bunga dalam mengarungi kehidupan dan belajarnya di Perancis. 

Pascal seorang pria yang sempurna secara fisik namun selalu tampil pucat. Tidak banyak omong, berbeda sekali dengan Darel. Hobinya melukis. Ia kuliah dan memiliki toko bunga yang nyaris layu karena dukacitanya. Sampai kemudian semua menjadi berbeda sejak pertemuan pertama dengan Bunga. 

Kisah pun bergiliran saling taut menaut, dengan aneka karakter yang unik dan narasinya yang menarik. Di sana-sini banyak informasi tambahan yang menambah wawasan pembaca tentang dunia kuliner Perancis dan juga bikin laper karena dibacanya pas puasa!, tanpa merusak jalannya cerita. Dan lambat laun, aneka konflik pun terurai. Aku merasakan betul saat membaca novel ini mengajakku berada di Paris. Di banyak restoran-restoran yang khas. Dan perasaan-perasaan yang dilibatkannya. Dan sebagai seorang yang dapat dibilang bukan lagi “belia,” novel ini menghidupkan kembali “kebeliaanku” tentang memahami kehidupan ini, tanpa banyak beban ini itu. Kelucuan, kekonyolan, harus selalu ada sebagai pemanis hidup, bukan? 

Umpama sajian menu makanan, jelas saja Gerimis di Arc de Triomphe ini menggugah selera, dan rasanya enak saat disantap. Halaman yang tidak monoton, adanya ilustrasi di sana sini, dan bulir-bulir gerimis di setiap halamannya—yang ini agak menggangu bagiku secara pribadi, kadang membuat samar beberapa huruf. Duhai mataku… tetapi tidak sampai bikin malas melanjutkan membaca dong? Tentu saja! Ada beberapa bagian ataupun kalimat yang menurutku menarik, misalnya ketika Desiree—salah seorang teman sekolahnya Bunga—memberikan advisnya, “Kalau pemuda yang kaucintai tidak membalas cintamu, berarti dia bukan untukmu. Cinta itu seperti tali yang kedua ujungnya sudah dipegang oleh dua orang yang telah ditakdirkan berjodoh. Kedua orang itu akan saling mencari dan pasti bertemu ketika tiba saatnya.” (hal. 162) Bagian ini cukup besarkan hatiku, yang tentu saja lagi sendiri pada saat membacanya. Hehehe 

Dan tentu saja, banyak hal menarik yang diungkap oleh Pascal, pemuda yang pemurung itu, ternyata sangat romantis pada dasarnya. Dan aku sebagai laki-laki jadi ikut mikir juga apa yang dikatakannya, misalnya ketika ia berkata kepada Bunga, “Saat laki-laki meninggalkan seorang gadis sendirian di tengah suasana yang mungkin berbahaya, laki-laki itu belum pantas disebut laki-laki.” Gila kan? Padahal, pada saat itu Pascal bukan siapa-siapanya Bunga. Beuh! Cowok-cowok ES-EM-A kudu baca ini mah. Biar pada tahu diri. Hahaha… 

Dan seorang pemuda dan gerimis di Arc de Triomphe. Menyoal kerinduan, impian, dan kenyataan dari perasaan. Hidup tidak hanya soal prestasi yang harus dibesar-besarkan. Hidup soal saling mendukung satu sama lain dengan tulus tanpa ada upaya modus. Tentu saja, sebagai seorang yang bukan lagi belia ada banyak hal menjadi pertanyaan, tetapi, hal itu bukan masalah sebab memang begitulah logika cerita harus dihadapi. Mau bagaimana lagi? Nikmati setiap cerita yang mengalir… Bagaimana kalau ada lanjutannya? Hal itu pasti menyenangkan. Eh tapi… kalian sudah pernah baca juga, belum nih? Yuk saling bertukar pandangan… Terima kasih Nunik Utami atas cerita yang dihadirkan dan terima kasih buat Salman Faris untuk hadiah bukunya ini. 

[] 
Identitas Buku 
Gerimis di Arc de Triomphe 
Nunik Utami 
Bentang Belia, Agustus 2013, 248 halaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire