Kamis, 02 Juni 2016

Cerita Baru yang Berbeda dengan Cerita-cerita Lainnya

Just So Stories Dok. Pribadi
Pada dasarnya, tidak ada istilah “cerita lama” ataupun “lagu lama” jika kita baru membaca dan atau mendengarnya. Begitulah yang kurasakan saat membaca salah satu karya klasik dari salah seorang Sastrawan Inggris,  Rudyard Kipling—yang lahir sekitar tahun 1865. Semua cerita pendek dalam kumpulan Just So Stories merupakan “cerita baru” yang benar-benar baru aku ketahui setelah membacanya. Dan sekalipun kumpulan karyanya itu sudah ada sejak kurang lebih seratus tahunan yang lalu, tetap saja bagiku ini terkesan sangat baru! Mengapa begitu?

Pertama, karena aku baru membacanya. Kedua, Rudyard Kipling—yang merupakan salah satu penulis yang meraih nobel bidang kesusastraan ini—sangat piawai menciptakan cerita model “asal-usul” ke dalam cerita fabel—salah satu bentuk dongeng yang kita ketahui bersama selalu mengandung hikmah tersendiri. Tetapi benar-benar tidak seperti cerita-cerita lainnya yang pernah ada dan kubaca. Kalau dari segi judul mungkin saja ada yang sama, namun rasanya, dari segi isinya jelas baru, khususnya bagiku.

Sebagai bacaan bagi semua umur—sekalipun salah satu temanku mengatakan bahwa beberapa bagian dalam ceritanya terlalu ekstrem untuk anak-anak—Rudyard Kipling dapat dikatakan berhasil melahirkan suatu karya yang dapat membawa pembacanya ke dalam petualangan menembus ruang dan waktu yang kaya akan imajinasi. Sampai-sampai aku berucap, “Gila nih, Kipling.” Karena begitu brilian dalam menuangkan suatu ide cerita dalam kisah fabel-fabelnya.

Dan sebagaimana kukatakan, fabel dan umumnya dongeng lainnya, biasanya tidak hanya sekadar fiksi, walaupun memang itu semua sekadar cerita, selalu ada sesuatu di dalamnya. Itu pula yang dilakukan oleh penulis yang meninggal pada tahun 1936 ini. Setiap kisahnya banyak mengandung nasihat yang tidak menggurui dan malah mengajak pembaca atau jika cerpen-cerpennya ini dibacakan, maka para pendengarnya selain diajak berimajinasi pun diajak bernalar.

Dan yang namanya kisah untuk segala usia, ada saja bagian-bagian yang kocak. Bikin heran. Mengerut dahi, dan lainnya. Pada beberapa bagian—menurutku—ada juga pandangan subjektif dari penulis, misalnya pada cerita yang berjudul “Kucing Penyendiri,” yang mengisahkan mengapa Kucing selalu dikejar angin, dan orang selalu mengusir kucing dengan melemparkan sesuatu. Di bagian penutupnya, terasa betul bahwa sang pencerita memang lebih menyukai anjing daripada kucing. Aku yang cenderung suka kucing agak sedikit kesel juga sih. Hehehe… Tetapi bukan tanpa sesuatu yang menarik, darinya aku sadar bahwa kita memang seorang yang penyendiri, kucing suka berjalan sendirian, dan semua tempat tampak sama saja baginya. Setelah aku pikir, ada benar juga. Jadi, tidak terlalu kesal.

Uniknya lagi, ada cerita yang begitu akrab di telinga, karena penulis yang lahir di India  ini, mengambil salah satu latar dalam ceritanya di wilayah nusantara. Hal itu aku temui dalam judul “Kepiting dan Lautan Luas.” Sebuah kisah tentang mengapa kepiting dalam fase hidupnya harus melepas cangkangnya. Di kisahnya yang ini, aku rasa penulis banyak mencampuradukkan nuansa genesis pada alkitabiah dan beberapa kepercayaan lainnya sekalipun tidak secara terang-terang.

Bagaimana dengan kisah lainnya? Seluruh cerita yang berjumlah 12 kisah ini dapat kubilang menarik semuanya. Apa 10 judul lainnya? Ada “Kenapa Paus Tidak Bisa Memakan Manusia”, “Bagaimana Unta Mendapat Punuknya”, “Kenapa Kulit Badak Penuh Lipatan”, “Dari Mana Macan Mendapatkan Tutulnya”, “Kisah Si Anak Gajah”, “Tuntutan Seekor Kanguru”, “Asal-muasal Armadilo”, “Surat Bergambar”, “Bagaimana Alfabet Dirumuskan”, dan “Entakan Kaki Kupu-kupu.”—yang terakhir ini, kurasa lebih cocok didongengkan kepada calon pasutri dan mereka yang telah berumah tangga, bukan karena ada kalimatnya yang ekstrem namun memang temanya lebih kepada relasi antara suami dan istri. Di sini, Kipling cukup memberikan penekana pada kritik dan satirenya.

Seperti kubilang, judul-judulnya terbilang sudah lazim dan cukup bikin menarik minat baca, dan ternyata, isinya jauh lebih menarik dari judul-judul tersebut bahkan setiap ending dilengkapi dengan mutiara kata. Sekalipun sekadar cerita, apa yang disajikan Rudyard Kipling betul-betul menghibur sehingga menghilangkan rasa kesepian dan menghadirkan semangat untuk berkarya. Aku yakin, mereka yang suka membaca, dan suka pula menulis, bisa banyak dapat ide dengan kisah-kisah yang dirangkainya ini.

Apakah kawan sekalian ada yang pernah membaca buku terjemahan yang satu ini? Cerita pendek yang mana yang paling kawan sekalian sukai? Aku, jujur, suka semuanya—kecuali “Bagaimana Alfabet Dirumuskan”, tidak begitu suka, sekalipun sangat brilian, karena ini cerita yang paling bertele-tele. Oh iya, salut juga dengan ilustrasi pada setiap ceritanya.

[]
Identitas Buku
Just So Stories
Sekadar Cerita oleh Rudyard Kipling
Penerjemah Maggie Tiojakin, Ilustrator Staven Andersen

Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2011, 160 hal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire