Kamis, 16 Juni 2016

Bloomsday dan Nasihat Salah Niazi

James Joyce*. Posenya mirip siapa coba?
PERAYAAN itulah inti dari Bloomsday atau ada juga yang menyebutnya Lá Bloom. Sebuah bentuk celebration yang dilakukan di Dublin, Irlandia, dan nyaris di banyak negara di seluruh dunia. Hanya saja kalau mengacu kepada data wikipedia.org, Indonesia tidak termasuk ke dalam negara yang masyarakatnya merayakan Bloomsday.

Memang apa sih Bloomsday itu? 


Bloomsday itu merupakan suatu kegiatan peringatan atas suatu hari berdasarkan novel James Joyce yang berjudul Ulysses! Luar biasa, bukan? Hanya karena suatu novel, pembaca tergerak untuk merayakan hal yang sama, sampai-sampai ada kebiasaan apa yang sebaiknya dipakai, apa yang sebaiknya dibaca, dan apa yang sebaiknya dimakan. Dan semuanya itu berdasar pada Ulysses. Apakah kalian pernah membacanya? 

Eh tapi, namanya orang terinspirasi itu sudah biasa sih. Ada juga kan komunitas lainnya yang ketergabungan mereka karena hobi pada bacaan yang sama. Misalnya komunitas pecinta Harry Potter, kalau mereka berkumpul biasa menggunakan pakaian sebagaimana pada novel. Nah, begitu juga dengan Bloomsday atas karya James Joyce: Ulysses, sebuah novel yang fenomenal, yang dibeberapa negara dilarang karena dianggap terlalu porno.

Apakah begitu adanya? Sama sekali tidak. Sekalipun James Joyce menggambarkan suatu percintaan, maka itu lebih kepada bentuk seni. Sebagaimana seni-seni di gereja-gereja di Eropa, banyak gambar yang telanjang bukan? Tetapi kita tidak lantas terangsang atau menganggap itu porno. Mengapa? Karena seni itu indah. Keindahanlah yang kita tangkap, khususnya yang dirasakan oleh mereka yang otaknya bersih dari libido.

Sayangnya memang, novel Ulysses ini cukup berat. Salah Niazi (2014) pun, seorang penerjemah, mengakui bahwa Ulysses mahakarya yang tidak sembarangan. Sebab katanya, apapun yang terkait dengan kita, ketika kita membaca Ulysses maka semuanya akan nampak berbeda. Sebegitunya, tetapi itulah memang yang bisa dilakukan oleh karya sastra.

Membaca tidak asal membaca...

Inilah uniknya jika kita membaca karya sastra, kadang tidak hanya cukup dibaca. Maka kata Salah Niazi (2014), selain membaca, kita pun harus mempelajari apa yang kita baca itu. Untuk itu, dosis terbaik membaca suatu mahakarya, katanya, lima lembar sehari. Tentu tergantung kepada seberapa berat tidaknya karya tersebut, ya? Cuma ya setuju juga sih, namanya karya sastra, nggak akan cukup dibaca sekali... Selalu ada makna atau pelajaran baru ketika kita membacanya untuk kedua kali ataupun kesekian kalinya...

Omong-omong apakah kawan-kawan punya buku (selain kitab suci tentunya), yang karena daya magisnya kepada diri, ingin dibaca kembali, lagi dan lagi... Apakah kalau boleh tahu, dan mengapa?

[]

*sumber gambar: openculture.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire