Jumat, 17 Juni 2016

2 Pola Pembelajaran yang Bisa Digunakan Orang Tua

Manusia, sekalipun menurut Darwinian memiliki kemiripan dengan primata, bahkan kasarnya bagai pinang dibelah dua alias 99% sarua. Tetapi sebagaimana dengan kembar identik yang tidak mungkin 100% mirip, manusia dengan makhluk lainnya (dalam hal ini primata yang dianggap sama itu) justru memiliki perbedaan yang nyata, walaupun hanya 1%, yakni kemampuan otaknya. Apa spesialnya otak manusia itu?

Karena perbedaan yang hanya 1% itu (untuk diketahui aku tidak sependapat dengan Darwinian 100% tetapi tidak menampik bahwa ada yang namanya evolusi itu), kita bisa lebih dari makhluk lainnya, bahkan bisa membangun peradaban yang tinggi, hingga sekarang bisa menulis blog seperti ini. Otak atau akal itu memang pembeda luar biasa, darinya kesadaran ada untuk memberikan arti yang lebih. Termasuk dalam kemampuan belajar.

Belajar menurut Bell-Gredler merupakan proses manusia untuk memperoleh kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Proses belajar ini berlangsung sepanjang hayat, malah otak itu dapat dimaksimalkan fungsinya sejak masih dalam kandungan!

Nah, kita pun berbeda dengan hewan dalam hal "belajar", kita tidak hanya mengedepankan insting belaka. Kita menyadari fungsi dan adanya lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah, baik dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi yang kita kenal dengan perguruan itu. 

Pada dasarnya orangtua, sebagai guru pertama bagi anak manusia bisa juga mempraktikkan pola dasar pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru. Apalagi kini, orangtua bisa melakukan upaya pendidikan pra-sekolah. 

Apa sajakah 2 pola pembelajaran yang bisa digunakan oleh orang tua terhadap proses mendidik anak-anaknya itu?

Menurut Jean Piaget dalam Teori Belajar dan Pembelajaran, ada beberapa pola pembelajaran, dan yang 2 ini menurutku yang paling utama dan kerapkali dipraktekkan oleh para guru dalam proses belajar mengajarnya dan dapat diterapkan oleh para orang tua di rumah

Pertama Cognitive Development

Ini merupakan model pembelajaran di mana pengajar menekankan pada pelontaran pertanyaan kepada para murid agar terjadi tanya jawab dan learning by doing baik dari murid ke guru begitupun sebaliknya... Ini bisa digunakan orang tua misalnya dengan membiasakan selalu bertanya kepada anak-anak tentang proses belajar mereka atau tanyakan beberapa hal yang dapat memancing anak untuk mengeluarkan pendapatnya. Bagaimana pun, kemampuan untuk berpendapat dan berbicara itu perlu dilatih. Pasti, jika anak terbiasa tanya jawab dengan orang tua tanpa adanya jarak yang terlalu memisahkan, niscaya di luar rumah, anak akan lebih percaya diri.

Kedua, Social learning

Kalau ini, orang tua harus sedikit ekstra, di mana orang tua harus memberikan model sebagai sarana belajar. Apa kabarnya suri tauladan? Orang tua bisa menjadi agen menerapkan akhlak yang baik terhadap anak dengan menjadi uswatun bagi putra-putrinya. Itu tentu secara umum. Secara sempitnya, barangkali orang tua bisa menghadirkan praktikum sederhana untuk dapat dilakukan bersama dengan anak-anak. Bisa yang bersifat sains pun yang bersifat sosial, apalagi yang relijius.

Keduanya sangat mungkin dilakukan oleh orang tua. Apalagi di masa liburan semisal sekarang ini, anak jauh dari guru di sekolah, maka dekatkan ia dengan guru sejati di rumah, yakni orang tua.

[]

13 komentar:

  1. Intinya sebagai orang tua harus terus belajar supaya bisa mendidik lebih baik dan lebih baik lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul sekali Kak Ardiba. Tidak ada yang namanya berhenti belajar, baik bagi guru, pun bagi orang tua. Sekalipun sudah lulus ini itu secara legal forman, belajar dan jika pembelajar nggak ada habis. Kalau kata Muhammad Rasulullah, dari sejak buaian sampai ke liang kubur. :)

      Hapus
  2. bagus diterapkan buat pola pendidikan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, cukup baik untuk digunakan sebagai bentuk variasi dari model pembelajaran :)

      Hapus
  3. Kalau orang tua saya memakai pola pembelajaran keduanya deh mas karena kedua itu saya rasakan apalagi dalam hal mengeluarkan pendapat itu sering banget tuh adu argumen :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... good atuh, asalkan jangan debat kusir ya hihihi

      Hapus
  4. Anak-anak di kampung masih jauh dari pola ini kayanya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di kampung saya juga masih belum secara maksimal, malah seolah-olah sudah "disekolahkan" ini, alias tanggung jawab guru... Cuma palingan kalau ngebanta atau aneh-aneh malah kena damprat... Tetapi orang tua yang lebih lampau, polanya lebih dinamis lagi, melalui mantra-mantra...

      Hapus
  5. Orang tua memang guru pertama anak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, sebab madrasah pertama adalah rumah, dan sampai kapan pun :)

      Hapus
  6. kali ini setuju, orangtua emang guru pertama buat anak

    salam,
    kesya

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire