Senin, 02 Mei 2016

Rahasia Pendidikan


Pada masanya, akses pendidikan yang didapatkan oleh masyarakat pribumi di negeri ini memang dilakukan secara rahasia, diam-diam karena memang jangan sampai kaum yang dijajah itu dapat bangkit karena memiliki senjata bernama pendidikan. Namun kali ini bukan soal rahasia semacam itu. Lalu, sesuatu yang macam apa?


Singkat cerita, aku pergi ke salah satu toko buku di kotaku. Dan mataku tertuju pada satu judul buku yang menarik minatku. Judulnya... Seorang guru lebih baik daripada dua buah buku... Menarik bukan? Apalagi kalau kita termasuk yang sepakat dengan kebanyakan kalangan sufi, bahwa siapa yang tidak memiliki guru, maka setanlah gurunya. Eits tapi kali ini lagi nggak kepengen ngomongin sufisme sih... (Lain kali boleh juga bahas hal itu, ah jadi inget Rabiyah Al Adawiyah ataupun Al Arabi... Apalagi Rumi...)

Pas aku ambil dan baca-baca isi buku tersebut, yang alhamdulillahnya memang ada yang sudah terbuka bungkus plastiknya, ternyata itu buku motivasi tentang pendidikan dan tenaga pendidik secara umum dari banyak pakar di pelbagai belahan dunia. Dan aku tercenung pada salah satu pernyataan dari Ralph W. Emerson, yang katanya:

Rahasia pendidikan 
adalah menghormati murid

What a wonderful word! Kalau melihat kepada kebiasaan bahwa murid harus menghormati gurunya, ini pernyataan betul-betul radikal jeung revolusioner. Jadi memang harusnya ada timbal balik, dan keteladanan. Jadi ingat Muhammad, yang begitu menaruh hormat kepada para sahabatnya. Jadi, harus seimbang? Jelas! Jangan sampai seorang guru malah gila hormat akan kiprahnya dan merasa sok pintar sehingga tidak ada itikad untuk belajar sepanjang hayat. Padahal, di hadapan alam semesta ini, bukankah kita semuanya ini murid?

Memang jitu, Emerson. Jadi jangan sampai ada kultus guru, ataupun kultus murid. Ibarat kata seperti belajar mengajarnya antara Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Tidak ada istilah guru utama ataupun murid abadi, semua saling memetik hikmah kebijaksanaan. Yakin, bahwa guru seru sekalian alam hanya Allah semata. Adapun profesi guru, hanyalah sebagian dari banyak mozaik profesi di dunia ini...

Yuks, mulai dari sekarang, utamanya yang memberi teladan, untuk saling menghormati. Bukan berarti menapikan suatu ganjaran baik ataupun buruk. Dan kenyataan bahwa seorang guru lebih baik dari dua buah buku. Pertanyaannya tentu, sudahkah menjadi lebih dari sekadar dua buah buku dalam artian menjadi satu buku bernama guru yang menarik minat baca para murid?

Seperti kata pepatah, budi bahasa dikenang jua. Semoga pendidikan di Indonesia lebih memanusiakan manusia. Darwin masih mending menggambarkan kera menjadi manusia. Janganlah kita kemudian justru menuju sebaliknya mengerakan kemanusiaan kita sendiri hanya karena nafsu hewani yang tidak terdidik.

[]

2 komentar:

  1. Bener juga tuh rahasia pendidikan adalah menghormati murid
    mau tanya nih arti peribahasa "budi bahasa di kenang jua" itu apa ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya
      Adapun maksud peribahasa itu, bahwa apa yang akan dikenang dari kita adalah hasil dari karya, perilaku, bahkan termasuk soal bahasa komunikasi kita... dan bukan soal sekadar "nama"

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire