Jumat, 13 Mei 2016

Perempuan dan Akses Internet di Rumah

Pada awalnya, sebagaimana kita ketahui dalam film Alan Turing, pengembangan komputer (dan kemudian internet) tujuan awalnya hanya satu, yakni untuk mendukung kinerja militer dari suatu negara dalam menghadapi musuh-musuhnya. Namun kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, komputer dan internet mulai digunakan secara umum dan dapat diakses oleh publik. 


Dunia kerja dan dunia rumah tangga, kini sudah tidak dapat lepas dari yang namanya komputer serta akses internet. Tetapi, namanya dunia kerja dan alam rumah tangga jelaslah berbeda, sekalipun sekarang sudah ada kesetaran dalam dunia kerja, siapa yang dapat menduga kesetaraan dalam sebuah rumah tangga?


Galibnya kita ketahui bersama bahwa teknologi dilahirkan dalam kondisi yang sangat netral, sampai kemudian karena faktor budaya lokal banyak yang memandang miring atau tetap ada kontrol kendali agar suatu kalangan tidak terikat secara mutlak dengan yang namanya teknologi. Misalnya saja, bos pada umumnya membatasi akses internet para karyawannya, ini barangkali bisa dimaklumi. Akan tetapi, tidak jarang, justru di rumah, suami membatasi akses internet bagi istrinya, dan sialnya kadang ibu (terlebih ayah) pun membatasi akses internet anak perempuannya. Hal itu menimbulkan ketidaksetaraan pada suatu teknologi yang pada dasarnya alat yang netral. 

Ini bukan mengada-ngada, banyak penelitian (Burke 2003, Leung 2005 dalam Triastuti 2013) yang menyebutkan bahwa perempuan yang berstatus sebagai istri ataupun ibu bagi anak-anaknya merasa bersalah jika mengakses internet di rumah (boleh jadi karena memang dilarang dan kalau menggunakan berarti melanggar aturan suami, bisa pula karena merasakan beban tersendiri sebab waktu bagi kerja domestiknya menjadi terbuang gara-gara gawai dengan komputernya). 

Tentu saja, bukan tidak mungkin seorang istri ataupun ibu benar-benar lupa diri gara-gara gawai dengan akses internetnya. Namun, hal itu tidak mutlak dan bersifat general. Ada pula yang justru di tengah aktivitas berselancarnya di dunia maya, pengguna perempuan yang berstatus istri maupun ibu tetap bisa dan tidak ada masalah dengan tugas domestiknya, malah, dalam rumah tangga yang demokratis, tugas domestik merupakan tugas berbagi antara istri dan suami. 

Agaknya, kekeliruan lainnya menyoal ketidaksetaraan dalam mengakses internet, perempuan seperti modal sendiri. Ini keliru, sebaiknya sih, kalau mau dan ada modal untuk itu, sebuah keluarga harus menyediakan akses wi-fi gratis yang dapat diakses oleh segenap keluarga, baik ayah, ibu, maupun anak-anak. Tentu dengan sandi yang hanya diketahui oleh seluruh anggota keluarga saja. Dan jangan sebaliknya, di mana masing-masing punya modem sendiri-sendiri. Kecuali untuk smartphone barangkali, itu kan memang bersifat personal, namun kalau mengakses internet menggunakan PC di rumah sebaiknya menggunakan wi-fi yang dapat diakses secara bersama, kapanpun. 

Mengapa seorang perempuan harus mendapatkan akses internet yang sama dengan laki-laki di rumah? Karena pada dasarnya, perempuan pun bisa mendapatkan manfaat maksimal dari akses internet sebagaimana dirasakan oleh kaum laki-lakinya. 

Untungnya, di Indonesia ini, sudah eksis yang namanya Blogger Perempuan, sebagai wadah untuk menampilkan gambaran maksimal bahwa akses internet oleh perempuan sangat positif dan hal itu tidak akan mengganggu tugas domestiknya. Lagi pula, tugas domestik bukan semata-mata beban tanggungan istri atau ibu belaka, bukan? 

[]

8 komentar:

  1. Bener juga tuh perempuan juga harus mendapatkan akses internet karena internet dapat memberikan manfaat juga untuk perempuan sebagaimana hal nya pada laki-laki :)

    BalasHapus
  2. Selama penggunaannya positif, saya sih nggak pernah melarang istri internetan. Justru kekuatiran lebih itu penggunaan internet oleh anak, takutnya nyasar ke tempat yg nggak-nggak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu sangat wajar, dan memang kebanyakan dari kejahatan di internet mengincar anak-anak. Jadi awarenya Mas Elangg atas hal itu sangat beralasan. Proteksi atas situs-situs yang jelas-jelas negatif? Langkah yang baik.

      Hapus
  3. hemm aku tanpa internet berarti gakbisa akses resep masak juga dong kang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan akses internet para ibu bisa menyajikan menu beragam dan belajar cooking ya :)

      Hapus
  4. alhamdulillah saya aman-aman aja di rumah, rasanya kalau saya dibatasi untuk mengembangkan diri (termasuk dalam hal penggunaan internet) oleh suami mending berontak deh *eh

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire