Kamis, 12 Mei 2016

Mencintai Muhammad yang Tidak Pernah Kulihat

Dan inilah sulitnya, sekaligus menariknya. Aku cukup tahu akan orang-orang besar yang pernah eksis di dunia ini melalui banyak litelatur yang mengisahkan mereka. Tetapi Muhammad, merupakan salah satu yang tidak terbersit seperti apakah rupanya. Berbeda dengan Buddha ataupun Yesus yang “diketahui gambaran rupanya”. 

Lalu bagaimana aku dapat mencintai, yang tidak pernah kulihat? 



Dan begitulah, bukan soal apa yang dapat kita lihat semata, tetapi apa yang kita dengar dari kisah-kisah. Aku pun membaca, dan jatuh cinta… Lagi pula, sekalipun kini kita hidup di tengah majunya dunia fotografi… itu hanya sekumpulan dokumentasi yang berbau "kematian", tidak hidup, berbeda dengan kata-kata, yang memiliki jiwa. 

Belum lagi, ada wacana, “foto bisa menipu,” Ah, itu memang sangat mungkin, dunia citra, dunia yang dipenuhi dengan hasrat yang mengharapkan ketelanjangan. Tidak ada habisnya. Tidak ada puasnya. Sekalipun, fotografi merupakan seni tersendiri. 

Meskipun kemudian aku jatuh cinta kepada Muhammad, rasa dan atau wujud cintaku belumlah dapat disepadankan atau memang tidak sama dengan mereka yang sekumpul dengan para habib di majelis-majelis. Entahlah, aku tidak terlalu suka pengkultusan. Dan tidak tertarik dengan peninggalan model para Santo di Gereja Vatikan. Seperti gigi Muhammad, Rambut Muhammad, Pedang Muhammad, dan lainnya. Bukan itu yang membuatku jatuh cinta… 

Lalu apa…? Bukankah yang telah mati hanya meninggalkan warisan? Tentu, dan memang itulah warisan satu-satunya, yang kemudian membuatku jatuh cinta. Apalagi kalau bukan Al-Qur’an—tetapi kemudian terpecah, ada yang menganggap bahwa bukan satu warisannya tetapi dua, dan yang keduanya pun terpecah, ada yang menganggap hadis-nya, ada yang menganggap ahlul baitnya

Aku mengambil Al-Qur’an saja yang utamanya dan satu-satunya yang bikin aku sangat jatuh cinta kepada Muhammad (tentu aku tidak menolak mentah-mentah hadis ataupun ahlul baitnya), dan berterima kasih atas totalitasnya dalam bertugas mengemban amanat-Nya. 

Duh, betapa sulitnya menceritakan tentang sosok manusia yang biasa namun sempurna ini. Hanya airmata yang mengalir dari kerendahan hati yang bisa menggambarkannya. Yaa Wajiihan ‘Indallaah, barangkali aku tidak seperti umatmu yang lain, yang begitu menyanjung tinggi engkau. Sungguh kesederhanaan dalam sikap hidupmu, membuatku terdiam dalam ketundukkan semesta kepada Allah yang Esa… 

Duhai pengajak kepada panduan-Nya yang bersahaja, aku mencintaimu dalam langkah, dalam perjalanan sebagai pembelajar yang tiada lelahnya… Mudah-mudahan ini termasuk salah satu jalan dari sekian banyak jalan dan caraAllahumma shalli ‘alaa Muhammad… 

[]

10 komentar:

  1. Semoga kelak kita termasuk dalam rombongan Rasullah SAW yang mendapat syafaat beliau.
    Aamiinn.

    BalasHapus
  2. Mudah-mudahan kita termasuk di jalannya :) jalan yang benar menuju surga yang telah kita damba-dambakan. aminn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja, ya Fen.
      Allah menilai setiap langkah...
      Dan kita bertanggung jawab atas langkah masing-masing...

      Hapus
  3. subhanallah semoga kelak kita termasuk ke dalam barisan umatnya Rosulullah ya, aamiin yra

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga kita termasuk yang berjumpa di telaga Muhammad Rasulullah...

      Hapus
  4. Muhammad pun mencintai umatnya bahkan sebelum kita hadir di dunia ini. semoga bisa meneladani kepatuhan beliau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin
      Hidup maksimal sesuai sunah rasulnya...

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire