Kamis, 05 Mei 2016

Berpikir Itu dengan Apa?

Suatu kali saya iseng wara-wiri di instagram, sampai kemudian terdampar di salah satu akun yang dikatakan oleh banyak pengikutnya merupakan seorang habib—saya sih tidak tahu pasti apakah memang yang bersangkutan habib atau bukan—akunnya bernama @hasan_jafar_assegaf. Lalu apa hubungannya dengan judul entri kali ini? 


Nah, setelah saya agak lama lihat-lihat, tarik-tarik ke bawah ke atas, klik ini dan klik itu pada postingan instagramnya itu, yang mana banyak dari foto maupun video yang dibagikannya itu benar-benar—menurut saya—terlalu menyanjung kepada benda-benda dan ritus-ritus belaka. Dan rupanya wajar kiranya mengapa terkesan tidak masuk diakal. Mengapa wajar? 

Karena saya mendapati salah satu komentar yang berbunyi: “jangan dipikirkan oleh otak, tapi pikirkan oleh hati,” begitu kata @fikri3563 

Saya tidak tahu, apakah karena yang bersangkutan membuat pernyataan dengan dengkul, ataukah saya yang masih tumpul dalam berpikir? 

Iya… iya… Sekalipun saya dibikin mengernyitkan dahi oleh komentarnya itu, tetapi di sisi lain menjadi satu bahan pemikiran pula, tentang fungsi otak maupun fungsi hati yang seolah dikotomis itu. 

Mungkin sudah saatnya otakku merenung, dan hatiku berpikir… akan segala yang ada baik yang mutlak maupun yang nisbi. 

[]

2 komentar:

  1. Ohh jadi berpikir itu harus dengan hati ya mas ? bisa juga lho berpikir itu dengan hati-hati :) tapi bener juga kalau dengan hati kita bisa rasakan dan renungkan dulu baik buruknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... saya sih nggak begitu percaya kalau kita berpikir itu dengan hati, tentu dengan otak. Dan tambahanmu benar, kudu hati-hati dengan akal pikiran ataupun hati nurani.

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire