Senin, 09 Mei 2016

Apakah Setiap Lesbian Ingin Seperti Irshad Manji?

Senin (9/5/2016), Irshad Manji mengabarkan kepada dunia melalui jejaring sosialnya, bahwa dirinya baru saja menikah dengan pasangannya yang bernama Laura J. Albano. Mereka melakukannya di Hawai. Boleh jadi di situ memang membolehkan tata nilai semacam itu. Mau bagaimana lagi? Itulah pilihan dari Irshad Manji atas perasaannya. Lalu bagaimana dengan perasaan lesbian di Indonesia, apakah mereka pun ingin seperti Irshad Manji?!


Dalam hal keberaniannya bersikap kritis, semua orang tentu harus mau dan mengapresiasi semangat juangnya Irshad Manji. Adapun soal apakah setiap lesbian di negeri ini ingin seperti dirinya yang bersuara, menjadi aktivitas yang mengatasnamakan kaumnya, dan menikah secara legal formal? Saya pun tidak tahu pasti, memang itu harus dilakukan survei tersendiri. Namun, jika berangkat dari pengalaman saya berkomunikasi dengan seorang lesbian, saya mendapati bahwa ada yang tidak sependapat dengan Irshad Manji.

Orang memang tidak harus selalu mengikuti tren mereka yang popularitasnya tinggi sekalipun orientasinya sama, bukan? Jadi, lesbian yang saya kenal itu, mengatakan bahwa, "orientasi tidak menuntut diakui dan diikat oleh suatu institusi secara formal (maksudnya pernikahan dan berumah tangga layaknya pasangan heteroseksual)." Saya kira, yang gay pun ada yang beranggapan seperti itu. Jadi, dirinya tidak dalam posisi ingin diakui, ataupun dilegalkan. 

Ia memilih mengalir saja, dan just be good sebagai manusia yang hidup dengan sesama. Serta cukup tahu diri sebagai bagian dari bagian yang lainnya. Padahal, dirinya kini tinggal di tempat, yang menurut saya terbuka untuk tata nilai semacam yang Irshad Manji lakukan dengan pasangannya itu.

Saya pun iseng bertanya, "Terus kamu tidak mau punya pasangan dong?"

Jawabnya, "Berapa banyak yang berpasangan, apapun orientasinya, tapi masih ngerasa sendiri dan sibuk mencari pelarian."

Duh!

Melajang suatu pilihan? Tentu saja. Namun memang, sekalipun melajang itu tidak bersifat merusak suatu tata nilai, tetap saja mereka yang memilih hal itu akan terus dituntut baik langsung maupun tidak langsung. Iya, semua pasti ada risikonya. Bahkan, sekalipun orientasinya tidak lesbian ataupun gay, kalau melajang atau belum menikah di usia yang dianggap seharusnya malah jadi digosipkan atau parahnya dibully sebagai gay ataupun lesbian. Nasib. 

Begitulah kita semua dalam tata dunia modern saat ini, sangat mengusung kemapanan di atas kertas. 

Semoga kita tidak mudah menghakimi dan menyamaratakan. 

Sebagai seorang muslimah, lesbian yang saya kenal itu tetap bertauhid dan berusaha menjalankan syariat Islam. Sekalipun, sama dengan kita, tidak mungkin semua amalan kita lakukan. 

Pada akhirnya, kebenaran itu memang sangat mudah untuk diketahui, soal bagaimana kemudian kita bersikap itu tergantung kehendak kita masing-masing, tentu tidak dapat lepas dari yang namanya risiko. Dan hanya Allah yang tahu kadar takwa seseorang.

Tidak ada paksaan, dan tidak boleh memaksa. Begitulah cinta, yang berbeda dengan yang namanya libido

Dan untuk Irshad Manji, semoga tidak bercerai di tengah jalan. Jangan sampai seperti Ricky Martin yang cerai dengan Carlos G. Abella. Bagaimana pun, saya tetap percaya, bahwa pernikahan itu bukan hal yang main-main! Walaupun cerai itu sesuatu yang boleh dan lumrah saja!

[]

5 komentar:

  1. semoga saya di jauhkan dari hal-hal seperti itu. nikah memang baik jika di lakukan tetapi sebaiknya nikah itu hanya sekali dan hindari perceraian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Fen.
      Seolah-olah pernikahan itu hukumnya wajib saja, padahal bisa makruh, mubah, bahkan haram sekalipun itu dilakukan oleh pasangan heteroseksual.
      Amin, sekalipun Allah tdk melarang perceraian, tetapi hal itu kurang dianjurkan-Nya. Jadi memang harus matang dan tidak main-main tentunya.

      Hapus
  2. waduh kang, khawatir salah komentar saya :)
    intinya nafsu harus dijaga dan dijauhkan dari yang haram itu saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semaksimal mungkin, itulah jihad sepanjang masa
      Melawan hawa nafsu :)

      Hapus
    2. Iya
      Dan itulah jihad paling besar dan sepanjang hayat
      Melawan hawa nafsu kita masing-masing :)

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire