Selasa, 03 Mei 2016

Apa Itu Ilmu?

Di era (post) modern sekarang ini, ilmu mendapat penghargaan yang sangat tinggi. Di mana-mana orang sepakat bahwa berilmu itu penting dan akhirnya berlomba-lomba masuk ke sekolah ataupun perguruan tinggi ternama. Dari itu pula banyak ahli-ahli bermuncul dengan beraneka ragam pemikirannya akan dunia, yang menjadikan bukti bagi semua bahwa ilmu itu istimewa. Sekalipun tidak semua beranggapan positif dengan yang namanya ilmu. Hmm… 


Mengapa ada yang tidak beranggapan positif? Hal itu dikarenakan tidak sedikit apa yang dikatakan ilmu itu dalam perkembangannya malah memunculkan sesuatu yang kurang baik untuk diapresiasi, misalnya bom nuklir dan atau kerusakan lingkungan dengan aneka bentuk polusinya. Apakah kemudian hal itu bukan ilmu? Tentu saja hal itu menjadi suatu pengetahuan tersendiri, sekalipun tidak membawa manfaat kepada manusia jika berada di tangan yang salah. Adakah tangan manusia yang benar-benar tidak akan bersalah? Entahlah… 

Kembali ke judul entri kali ini. Apa itu ilmu? Adakah yang tahu? Apakah dengan bersekolah ilmu itu didapat? Jadi adanya ilmu itu di sekolah (dan perguruan tinggi)? Tidak ada yang pasti, kekaburan terus menyelimuti kita. Apalagi dalam mengartikan sesuatu orang gampang sekali silang pendapat, karena ingin dianggap. Banyak paham muncul untuk mendefinisikan apa itu ilmu. Misalnya saja Francis Bacon (dalam Chalmers 1976) pada awal abad ke-17 mengatakan bahwa tujuan ilmu ialah memperbaiki nasib umat manusia di atas muka bumi ini. Jadi ilmu adalah suatu hasil observasi untuk memperbaiki nasib umat manusia. Di sini memang sangat relatif kalau bicara soal nasib manusia yang antara satu dan lainnya sangat rentan saling membunuh. Lalu apa sebenarnya ilmu itu, kalau mengacu kepada Islam? 

Islam merupakan agama yang sangat mementingkan ilmu. Banyak ayat dalam Al-Qur’an (maupun keterangan dalam hadis sahih) yang menyuruh menuntut ilmu, menyanjung para ahli ilmu dan mencela orang-orang yang bodoh. 

Jikalau merujuk kepada khazanah ke-Islam-an, Syahminan Zaini (1989) mengatakan bahwa ilmu dalam pandangan Islam merupakan pengenalan terhadap segala yang ada yakni Allah, manusia dan alam semesta. Dengan apa pengenalan itu didapat? Dengan ilmu Allah, yang ada pada diri-Nya yang lalu diberikan kepada manusia, yang mana ilmu-Nya itu ada di mana-mana semisal pada alam dan agama-Nya, dan melalui pancaindralah ilmu itu dapat diraih dan menciptakan suatu hubungan yang baik. 

Hubungan baik antar apa? Dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta. Itu semua demi terciptanya kedamaian jasmani maupun ruhani dan terhindarlah dari kerusakan maupun pengrusakan. Jadi apakah tetap harus sekolah dan kuliah? Itu merupakan jalan memaksimalkan penggunaan pancaindra, di luar itu, tentu sangat terbuka peluang menggunakan pancaindra jika saja berhendak dan ada kemauan untuk memikirkan segala sesuatu yang ada, yakni baik yang adanya mutlak (Allah yang Esa), ataupun yang adanya nisbi semisal kita dan alam semesta ini. 

Sedang bagiku, ilmu itu keberanian berpikir! 

[]

2 komentar:

  1. Bener juga kang ilmu itu keberanian untuk berfikir. menjaga hubungan baik antar manusia juga merupakan suatu ibadah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jalinan harus seimbang
      Vertikal dan horizontal :)

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire