Senin, 18 April 2016

Yang Cenderung Membuahkan Kebaikan

Tidak ada kebaikan yang terbuang percumaAesop


            SEMUA Agama pasti mengajarkan tentang kewajiban untuk berbuat baik kepada sesama. Akan tetapi, karena umumnya agama lebih berorientasi kepada akhirat, maka tugas yang diwajibkannya itu lebih mirip investasi jangka panjang—dalam artian baru dapat dirasakan buahnya setelah kita tiada di dunia ini, karena ia seperti bekal untuk membeli tiket masuk ke sorga.

            Sudah saatnya, para pemuka agama lebih realistis bahwa kewajiban berbuat baik itu akan membuahkan kebaikan secara langsung pada masa sekarang, jadi tidak perlu memetik buahnya di “hari esok”. Apalagi, sifat dasar kita cenderung abai atas masalah akhirat dan cenderung mengejar dunia. Karena itu, segala cara pun dilakukan—tidak peduli halal dan haram. Tentu akan lain kodisinya kalau kewajiban untuk berbuat baik sebagaimana dimaksud bisa membuahkan hasil tidak hanya di kehidupan mendatang tetapi juga di kehidupan yang sekarang.
            Kebaikan kepada orang lain cenderung membuahkan kebaikan lagi, baik bagi si penerima maupun untuk si pemberi. Bicara kebaikan tentu sangat luas, apalagi karakternya universal yakni bagi sesama manusia. Apa misalnya? Keramahan. Itu hanya satu contoh kebaikan dalam berelasi sosial, dan dampaknya, langsung terjadi pada saat itu juga, bukan? Sekalipun memang ada saja orang sudah kita bersikap ramah pun tetap saja dingin dan cenderung judes bin jutek. Nah, itu nggak usah dipikirin, yang penting kita tidak seperti itu. Yang penting kita cenderung berbuat baik, karena hal itu pasti akan berdampak kebaikan pula secara langsung—walau terkadang tangan waktu berperan dalam hal itu.
            Bukankah, Aesop berkata tidak ada kebaikan yang terbuang percuma? Lantas untuk apa ragu berbuat baik terhadap sesama? Meskipun begitu tidak mengapa kita tetap berlaku sesuai keadaan, dalam artian adanya pertimbangan akan menjadikan kita lebih bijak, adil dan tidak salah tempat. Tidak semua orang kebutuhannya sama, bukan?
            Ada yang lapar. Ada yang capek. Keduanya berbeda, yang satu butuh makan. Satunya butuh istirahat. Semoga kita bisa terus berbuat kebaikan dengan sebijak-bijaknya, agar benar-benar tidak ada yang percuma.


            []

8 komentar:

  1. semoga kita masuk dalam golongan orang-orang yang dapat berbuat kebaian dengan bijak

    BalasHapus
  2. kata yg bijak mas. semoga membuahkan hasil yg baik pula :) salam kenal

    BalasHapus
  3. kata yg bijak mas. semoga membuahkan hasil yg baik pula :) salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh makasih ya sampai dua kali begini komentarnya

      Hapus
  4. kata yg bijak mas. semoga membuahkan hasil yg baik pula :) salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. tiga kali rupanya. rekor banget nih hehehe
      nuhun ya...

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire