Rabu, 13 April 2016

Dengan Apa Memperindah Sekolah?

Apakah falsafah dasar dari belajar? MENYENANGKAN! Jadi, menurut Hernacki dan DePorter, belajar itu dapat menyenangkan dan harus menyenangkan, itulah prinsip dasar yang harus dipenuhi oleh setiap lembaga pendidikan, utamanya sekolah. Meskipun belajar itu sendiri merupakan kegiatan seumur hidup, bahkan dalam istilah Rasulullah, dari buaian sampai ke liang kuburan.

Lantas, bagaimana belajar itu bisa menyenangkan?
Ada beberapa syarat, dan salah satu yang akan dibahas di sini ialah syarat lingkungan fisik tempat belajar. Selain kondisi harus kondusif dan sarana serta prasarananya bagus mulai dari laboratorium yang lengkap dan fasilitas lainnya. Ada beberapa hal dapat dilakukan sebagai bentuk upaya memperindah sekolah sehingga lingkungan sekolah menjadi faktor peningkat semangat belajar dari para pesertanya.

Apa sajakah itu?

Pertama aspek suara. Pada dasarnya otak manusia itu sangat menyenangi bunyi-bunyian. Dari sini, musik ataupun suara yang dianggap relevan bisa menjadi pendukung lingkungan fisik sekolah yang semakin indah. Saya pernah pula suatu ketika ikut lomba di suatu sekolah, dan di tempat itu diputar musik klasik, sedikit banyak ngaruh juga pada proses berpikir! Tentu tidak semua suka. Ya, suaranya bisa didiskusikan bunyi-bunyian apa yang ingin disepakati. Termasuk bunyi suara dari guru yang mengajar intonasinya sebaiknya memang menarik minat peserta didik. (Untuk mereka yang agak anti dengan musik, bisa menggantinya dengan suara-suara bunyi alamiah, ataupun muratal dari kitab suci)

Kedua, hadirnya karya seni. Bukankah musik itu seni? Tentu. Hanya saja di sini lebih kepada karya seni yang menempati ruang dan waktu, semisal lukisan ataupun patung-patung tertentu yang dapat meningkatkan daya imajinasi serta kreativitas para peserta didik. (Untuk yang riskan dengan patung ataupun lukisan, bisa disesuaikan objeknya misalnya bukan makhluk hidup tetapi lebih kepada pepohonan dan semisalnya).

Ketiga, kalau keduanya itu bisa menjadi bahan perdebatan. Sekolah bisa menciptakan taman dengan tanaman-tanaman yang beraneka ragam jenis tumbuhan yang beraneka warna. Niscaya ini bisa membangkitkan semangat belajar. Kalau di sekolah saya dulu, mungkin hanya aspek tanaman saja yang banyak, mengingat tempatnya di kaki gunung. Alangkah baiknya bisa masuk ke dalam kelas-kelas.

Keempat, buku-buku! Ini sih wajib. Perpustakaan sekolah jangan hanya menyajikan buku wajib mata pelajaran ataupun suplemen pendukung, tetapi semua jenis buku harusnya ada di perpustakaan sekolah.

Ada lagi?

Mungkin pembaca ada saran. Hmmm... sulit memang untuk mewujudkan hal ini, mengingat untuk tersedianya gedung dengan fasilitas dasar saja kadang kita mesti nunggu bertahun-tahun, karena dana dari pemerintah seringkali dipotong di sana-sini dan sampai di pihak sekolahnya hanya sedikit. Semoga saja tidak terus begitu, ya!

Andai saya punya sekolah, pasti saya akan akan memperhatikan segi keindahaan sekolah, mengingat Allah yang Mahaindah, suka sekali akan keindahan.

[]


9 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Termasuk, bahkan itu sebagian dari iman, bukan? :D

      Hapus
  3. Setuju sekali, Bang dari poin-poin yang disebutkan di atas. Saya menyadari bahwa sekolah-sekolah di Indonesia kebanyakan gedung-gedungnya monoton kurang taste of art-nya gitu. Dan untuk makin indahnya ditanami tumbuhan-tumbuhan hijau sampai rindang, sudah indah plus sehat pula karena oksigennya banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan sialnya, tidak sedikit pengajarnya kurang membangkitkan feel maupun taste of art dari peserta didiknya, harusnya sekalipun gedungnya kurang memperhatikan aspek seni, guru harus memastikan bahwa para muridnya aware terhadap yang namanya seni.

      Hapus
  4. aminn.. semoga mas punya sekolah sendiri biar di atur segi keindahan nya :)

    BalasHapus
  5. aminn.. semoga mas punya sekolah sendiri biar di atur segi keindahan nya :)

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire