Jumat, 29 April 2016

(Beberapa) Sopir Angkutan Umum (dan Pribadi) di Bogor Memang Berengsek!

BOLEH dibilang, ini waktu habis kesabaranku, setelah sebelum-sebelumnya aku tidak angkat bicara, dan atas dasar kesadaran sebagai pengguna setia aku menuliskan hal ini. Bahwa sopir angkutan umum (dan Pribadi) di Bogor memang berengsek. Apakah semuanya? 




Baiklah, katakan saja beberapa, tetapi dengan segala kebijakan baru dari penataan lalu lintas di Bogor yang juga berdampak pada perilaku para sopir berimbas pada semakin berengseknya mereka dalam pelayanan kepada para penumpang. Padahal kita sebagai pengguna jasa pasti bayar pakai uang, mengapa para sopir tidak sedikit pun sadar untuk membayar kepada kita dengan waktu? 

Sebagai seorang penyuka jalan kaki, terkadang aku pun butuh cepat sampai di suatu tujuan, tidak mengapalah kalau telat sekian menit, ini mah malah bisa sampai lebih dari lima belas menit dan pernah sampai satu jam! Karena ketidaksadaran dan segala tektekbengek soal sewa atau penumpang dan sebagainya dijadikan alasan untuk lama ngetem dan berkali-kali ngetem. Titik kemacetan pun terjadi di mana-mana. Apa tidak berengsek itu namanya?

Ini mengingatkan aku pada suatu waktu pernah membuat status kalau kebanyakan dari sopir angkutan umum di Bogor itu ateis, sekalipun di KTP mereka banyak yang Islam. Mengapa? Iya bagaimana tidak, ngakunya iman bahwa rezeki di tangan Allah tetapi takut nggak dapet rezeki jadinya banyak ngetem. Padahal kalau berusaha masa sama sekali kagak dapet penumpang sih?

Walau begitu, teu maido memang kalau menurut orang di kampungku mah, zaman semakin berubah, banyak sewa punya kendaraan sendiri. Sedangkan semakin banyak angkutan umumnya. Jadi semakin berebut tiada tertata, dan ngetem menjadi salah satu cara mereka menggapai rezeki dari-Nya. Sulit dipercaya namun itu terjadi.

Dan itu semua, bikin banyak kemacetan dan ketelatan di mana-mana. Bukannya aku mengagungkan kecepatan semata-mata, hanya saja tidak baik juga kalau dibiasakan melama-lamakan begitu. Siapa yang benar-benar suka dengan angkutan umum yang ngetem?

Bogor ini memang semakin kacau saja, bukannya malah menjadi kota yang maju, malah semakin penuh dengan debu besi. Dipikirnya makin banyak yang punya mobil makin maju? Omong kosong! Kota maju ataupun lovely city itu kalau orang-orang (termasuk orang kaya sekalipun) lebih memilih naik angkutan umum daripada pribadi. Yang terjadi apa? 

Angkutan umum berperilaku berengsek, tidak jarang pengemudi mobil pribadi pun berbuat yang berengsek. Semakin lengkap sajalah penderitaan aku dan kita yang tidak punya kendaraan namun hidup dalam lingkaran itu semua!

Ngetem sembarangan. Lama ngetemnya. Parkir sembarangan. Main klakson kagak jelas. Banyak calo-calo bangsat. Duh benar-benar bikin rindu hujan yang dulu! Sekalipun sudah banyak tulisan tentang berlalu lintas, tetap saja malas membaca! Apakah SIM-nya memang didapatkan dengan jalan yang berengsek pula?

Lalu di manakah peran polisi lalu lintas ataupun DLLAJ itu? 

Menyebalkan!

[]


1 komentar:

  1. Sebenarnya kita bisa buka pikiran sih mas, kalo aja kita yang jadi para supir itu, dan dikasih target setoran sekian besar, intinya, meskipun kadang saya pun jengkel, tapi coba sabar dan berangkat lebih awal, mudah-mudahan tulisan ini pun bisa jadi acuan pemerintah Bogor untuk berbenah

    Salam,
    Ara

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire