Kamis, 14 April 2016

Beberapa Hal Menarik dari Si Lugu

Apa yang membuat sebuah buku menarik? Sampul! Ya, sekalipun ada pepatah yang menganjurkan jangan menilai sebuah buku dari sampulnya, menurutku, buku yang baik harus memperhatikan disain sampul yang menarik sehingga bisa mewakili isi dari buku tersebut. Lantas apa yang tampak dari buku Si Lugu tersebut? Tanpa harus kujelaskanpun, rasanya sudah tampak betul betapa menariknya suatu pandangan itu muncul!

Lantas, apa yang menarik dari Si Lugu?

Sebelum aku mencoba mengutarakan apa yang menarik dari Si Lugu sebagai judul maupun nama tokoh utama dari cerita tersebut. Perlu diketahui bahwa ini karya sastra terjemahan dari bahasa Prancis. Ditulis oleh Francois-Marie Arouet yang lebih dikenal dengan nama samarannya, Voltaire.

Ahli hukum yang kemudian lebih memilih menjadi penulis di masa tuanya ini sangat piawai menghasilkan karya sastra berupa dongeng yang banyak mengandung filsafat hidup, sindiran, kritik, yang kadang kala sulit ditangkap mengingat kita harus paham juga soal sosial budaya di mana penulis tersebut hidup. Dan tentu, sebagaimana pesan penerjemah, yakni Ida Sundari Husen, kita perlu kematangan berpikir dalam memahami suatu karya sastra yang tinggi semacam karya-karya Voltaire.

Aku merasa beruntung, walaupun kemudian merasa terlambat pula untuk membaca karya-karya Voltaire. Dan sebagai seorang yang kagak bisa bahasa Prancis (rasanya perlu belajar!), sangat berterima kasih karena menemukan buku-buku terjemahan yang berkualitas dari sastrawan-sastrawan di mancanegara.

Karya Voltaire ini sangat tipis, jadi bisa selesai baca tanpa harus menghabiskan waktu berhari-hari. Tapi ya itu tadi, kalau nggak benar-benar ingin menyelami, ceritanya ya seperti dongeng populer pada umumnya. Untung banget deh, apalagi aku kurang begitu suka dengan novel-novel yang banyak sambungannya! Jilid satu lah, jilid dualah... Kecuali, Pramoedya atau semisalnya! Hehehe...

Back to point. Jadi Si Lugu ini mengisahkan seorang pemuda pendatang dari luar Prancis, yang bertemu dengan seorang pastor dan keluarganya. Singkat cerita dikisahkan bahwa Si Lugu rupanya kemenakan mereka yang hilang. Gempar dan gembiralah.

Sampai kemudian, Si Lugu diajak, lebih tepatnya dipaksa untuk masuk agama Katolik karena pada masa itu di Prancis agama resminya adalah agama Katolik. Awalnya Si Lugu tidak mau karena baginya orang bebas menganut agama apapun, Sampai-sampai Si Lugu berkata, "Pokoknya saya menganut agama."

Karena banyak pertanyaan dan rupanya kebiasaan orang Prancis pada masa itu adalah banyak nanya! Si Lugu yang pendatang itu pun memberikan sindirannya, katanya, "Tuan-tuan, di negara saya orang berbicara bergiliran, satu demi satu." Lucu juga Si Lugu ini. Kepolosannya benar-benar menampar orang-orang Prancis.


Tidak hanya itu saja, dari Si Lugu ini aku pun jadi tahu bahwa sudah sejak dahulu kalau bangsa Prancis itu cukup chauvinisme utama dalam hal mengagungkan bahasa mereka, jadi tidak heran mengapa sekarang tetap banyak orang Prancis lebih memilih untuk berbahasa sendiri daripada harus berbahasa Inggris. Tentang chauvinisme ini pun dikritik oleh Si Lugu.

Singkat cerita, Si Lugu akhirnya bersedia untuk dibaptis jadi orang Katolik. Bergembiralah orang-orang dan keluarga yang baru dikenalnya itu. Maka sang pastor menyuruh Si Lugu untuk mempelajari kitab Injil, Pernjanjian Lama maupun Baru. Ketika ditanyakan ke Si Lugu rupanya dia baru mendengar buku berjudul Injil itu. Di sini aku senang juga bahwa memang cara terbaik mempelajari suatu agama tentu dari kitab sucinya. Sialnya, rupanya hal itu jadi bumerang. Mengapa?

Ternyata, Si Lugu, sekalipun polos, ia tetap semangat belajar dan cepat menangkap apa yang dibacanya. Dan masalah pun mulai muncul. Misalnya, sebelum dibaptis Si Lugu sudah siap-siap untuk disunat. Tetapi, apa kata sang pastor? Katanya, sunatan sudah tidak musim lagi jadi tidak perlu. Cukuplah dibaptis saja. Si Lugu awalnya aneh, mengapa di Injil yang dibacanya ada perintah itu, tetapi pada realitanya tidak perlu.

Tidak hanya soal itu, soal cara baptis pun Si Lugu ingin seperti yang diceritakan dalam injil, rupanya itu pun tidak berlaku di Prancis. Sampai kemudian pas pengakuan dosa, Si Lugu yakin seharusnya tidak satu arah, tetapi saling mengaku dosa. Hahaha... memang sangat kritis sekali Si Lugu itu, sampai membuat bingung para pemuka agama.

Singkat cerita, setelah ia dibaptis, rupanya Si Lugu jatuh cinta kepada perempuan yang menjadi ibu permandiannya saat dibaptis, kacaulah, karena hal itu dilarang, dan jika pun memaksa harus meminta izin kepada Paus, itu pun belum tentu diterima.

Itu hanya sebagian kecil dari konflik tokoh Si Lugu. Banyak hal lainnya, mulai dari kekasihnya masuk biara. Dirinya masuk penjara, dan se-sel dengan seorang kakek tua. Namun di sinilah justru Si Lugu mendapatkan pencerahan. Bahwa kemerdekaan itu hak setiap manusia, bahwa saat merdeka kita harus bersyukur dengan jalan belajar. Si Lugu dengan sang kakek banyak berdebat soal agama, sejarah, filsafat, sandiwara, dan lainnya termasuk soal kisah cintanya yang katanya bahasa begitu tidak sempurna kalau bicara soal cinta.... Anjaayyy! Sampai kemudian keduanya dapat dikatakan bijak menurutku.

Dan kisah pun berlanjut sampai kepada hal-hal politik yang menjijikkan. Di panggung politiklah, agamawan pun bisa begitu munafik apalagi para penguasa. Sampai kemudian kemalangan demi kemalangan bergantian untuk suatu hal. Ah, sebuah kisah yang singkat namun padat. Banyak hal, yang sudah berabad-abad itu ternyata masih sangat relevan di masa kita. Terima kasih Voltaire, dongeng tentang Si Lugu membuatku sadar akan pentingnya belajar, dan tidak ada kata terlambat, walaupun dalam hal ini membaca karyamu saja aku begitu telat alias baru sekarang.

Apakah Anda pernah membacanya pula, bagaimana menurut Anda?


[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire