Jumat, 18 Maret 2016

Rumah Tangga dan Negara

Dalam banyak ajaran di Asia Timur, selain membina diri, membina rumah tangga merupakan satu syarat bahwa seseorang itu layak membina negara atau tidak. Seperti yang marak belakangan ini, ketika seorang calon pejabat rumah tangganya rusak, maka dipertanyakan kemampuannya menjalankan rumah negara. Apakah penilaian tersebut adil?
Pada dasarnya, tidak asal menilai dan memhukum adalah landasan keadilan yang paling mendasar. Adapun perilaku seseorang dalam membangun rumah tangga tentu saja akan berdampak pada posisi di luar itu, sekalipun orang bisa sangat lihai mengkondisikan segala sesuatu.

Artinya? Tidak selalu, dan tidak mutlak bahwa seseorang yang gagal membina rumah tangga, atau belum sempat membina rumah tangga kemudian tidak bisa membangun suatu negara. Konteks keduanya jelas berbeda, sekalipun beberapa prinsip dasarnya sama.

Adapun yang menjadikan seseorang kurang pantas atau layak itu seringkali karena pandangan sosial belaka. Dan hal itu sangat dinamis dan mudah berubah sebagaimana budaya ataupun kebudayaan. Memilih fanatik? Risiko di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Demokrasi tidak mensyaratkan jenis kelamin ataupun status perkawinan. Semua berpeluang. Satu dan lainnya hanya kurang lebih, dan itu ada pada setiap orang.

[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire