Minggu, 27 Maret 2016

Menjelang Esok yang Tidak Ada

APA yang bisa dibayangkan ketika harapan hidup untuk menatap esok hari tidak hanya buram, tetapi begitu gelap dan pekat? Dan apa yang akan aku lakukan kalau hari ini aku menerima suratan bahwa harapan hidupku hanya tinggal delapan hari lagi, dan setelahnya tidak ada esok? Bagaimana aku menghadapinya?



Apa artinya dengan hidup yang hanya tinggal delapan hari lagi setelah hari ini? Apa hanya aku yang tidak akan lagi ada di dunia ini? Kematian. Sebuah keniscayaan yang menakutkan. Sekalipun hal itu merupakan satu-satunya perantaraan kita sampai ke alam akhirat menurut banyak keyakinan.

Entah aku akan waras atau tidak mendapatkan vonis itu. Tetapi, hidup ini serba mungkin, dan serba bisa diandaikan. Dan sebagaimana nasihat yang selalu sesuai zaman, manusia, kita ini, hanya bisa berencana, termasuk aku. Untuk itu, atas putusan waktu tersebut, mau tidak mau pasti membuat aku harus membuat plan. 

Insting dasarnya! Aku akan bertahan hidup! Menolak dan tidak percaya?! Apapun! Semuanya pasti akan mati, aku mati, kamu mati. Lantas apa yang penting? Tentu saja, cara kita mengisi hidup sampai kita mati itulah yang penting. 

Persiapannya? Aku agak bingung juga, tetapi kira-kira begini rancangan kasarnya...

Hari Pertama

Aku tidak yakin apa masih dapat menjalani hidup setelah kemarin mendapati vonis kalau masa aktif aku eksis di dunia ini tinggal delapan hari lagi. Dan hari pertama? Yang mungkin akan aku lakukan itu menenangkan diri. Aku akan memilih sendiri. Menyisih dari hiruk pikuk kehidupan. Di mana? Tidak penting, hanya saja di hari pertama ini aku pasti akan menghindarkan diri dari orang-orang. Aku benar-benar ingin sendiri bersama Tuhan. 

Hari Kedua, Ketiga, Keempat

Setelah aku sendiri dan berkeluh kesah kepada Tuhan. Aku memulai hari kedua dengan, ya nggak bisa dibilang tenang juga, setidaknya aku memulai hari ini serta dua hari berikutnya dengan kondisi yang agak tenangan. Dan aku mulai ingin bersama dengan keluargaku.  Di sini mungkin akan sangat baper. Aku akan banyak cerita. Sejujur-jujurnya, seapa-adanya... Aku akan ke kamar Ibu, aku akan ke rumah Ayah, aku akan ke tempat adikku, aku akan bercerita di ketiga tempat itu... Hari kedua bersama Ibu, hari ketiga dengan Ayah, dan hari keempat beserta Adikku. 

Hari Kelima

Di kesempatan ini, aku ingin membaca buku. Membaca buku-buku yang selama ini menurutku bagus dan serta seharusnya dibaca oleh semua orang. Aku ingin membaca karya-karya monumental dari Nawal El Saadawi, Susan Sontag, dan Susanne K. Langer. Tidak hanya itu, banyak puisi dari pelbagai penyair di dunia pun ingin kubaca, utamanya yang dari Indonesia yang sajak-sajaknya tidak kalah briliannya. Selain membaca, aku ingin mendengarkan komposisi musik terbaik dari John Cage yang membuatku percaya bahwa segalanya begitu berarti, dan aransemen lainnya. Aku ingin mendengar suara seruling dan kecapi Sunda, nyanyian para sinden, dan beberapa lagu pop lawas. Dan tentu, aku ingin menari. Menggerakan tubuh ini selagi dapat kugerakkan.

Hari Keenam

Aku ingin jalan-jalan. Benar-benar jalan-jalan, tidak sekadar pada tempat tamasyanya. Aku ingin menggunakan kakiku untuk benar-benar bergerak. Jalan-jalan dengan jalan kaki. Keliling kota, kampung, menyusuri jalanan, meresapi segala latar. Mencicipi beberapa jajanan yang ditemui di jalan. Dan aku pasti akan makin bergejolak, karena biasanya dalam situasi begini kenangan akan datang menyambut aku. Bagaimana tidak mengharukan, sebab setelah hari kedelapan aku akan menjadi kenangan bagi mereka yang harus kutinggalkan terlebih dahulu.

Hari Ketujuh

Sehari lagi, hari yang tersisa. Apa yang akan aku lakukan? Mungkin di kesempatan ini aku akan bersilaturahmi ke keluarga, kawan-kawan, dan mengucap perpisahan agar semuanya tidak ada beban. Akan sulit pastinya, tetapi mau bagaimana lagi. Ini kesempatan terbaik aku bisa bertemu dengan semuanya. Dan mencoba mengoreksi beberapa hal agar kenangan total tidak menjadi beban moral bagi yang nanti kutinggalkan. Pada hari ini, aku akan membuat posting terakhir di pelbagai sosial media semisal blog, facebook, twitter, path, dan instagram. Status di whatsapp dan LINE pun pasti kuperbaharui. Menulis apa? Aku akan menulis rasa terima kasih atas segalanya kepada segalanya.

Hari Kedelapan

Aku tidak bisa membayangkan, sekali lagi, tentang kenyataan bahwa sehabis hari kedelapan ini aku tidak akan ada lagi di dunia ini. Dan aku pun tidak bisa memastikan akan seperti apa mereka yang ada di sekitarku pada hari ini, ataupun setelah hari ini. Satu yang pasti, aku akan memulai seperti kebiasaanku, bangun, mandi, makan, dan ya laiknya hari biasanya. Dan... sesudah waktu Isya tiba, aku akan tidur lebih awal. Mungkin saja kematian seperti mimpi dan aku bagai daun di sebatang pohon yang dipetik oleh lembutnya angin. Aku pun akan membuat peta sebelum terlelap. Aku ingin mendekat sebelum menjauh. Aku ingin berbisik kepada pengatur terik. Aku ingin menyapa rembulan yang belum meninggi di langit malam. Bismillah...

Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhan dengan hati yang lapang

[]



8 komentar:

  1. Kematian selalu menakutkan untuk diingat. Siap atau tidak, sudah pasti akan datang. Semoga kita nanti "pergi" dalam keadaan baik. Aamiin.

    Salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Dikpa. Salam kenal kembali, ya. Semoga kita husnul khatimah.

      Hapus
  2. Waaah aku juga ikut GA nya mas :D
    Sukses buat para peserta yaaa

    BalasHapus
  3. percaya apa nggak percaya, manusia harus siap dengan kematian
    sukses utk GA nya ya
    salam kenal

    BalasHapus
  4. Terimakasih tulisannya, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire