Rabu, 09 Maret 2016

Mengapa Waktu Sekolah Aku Jarang Bertanya?

Seorang tokoh dunia pernah berkata bahwa kita sebaiknya menilai seseorang itu dari pertanyaannya bukan dari jawaban yang diberikannya. Bagaimana dengan di sekolah, di mana ujian itu dinilai dari jawaban yang diberikan oleh siswa bukan dari pertanyaan dari siswa itu sendiri. Apakah dengan begitu penilaiannya menjadi kurang bermakna?



Sebelum membahas soal itu. Aku pun teringat akan masa dahulu saat aku sekolah. Terus terang, sekalipun aku duduk tidak di bagian zona belakang, aku termasuk ke dalam kelompok yang jarang sekali bertanya kepada guru, sekalipun guru sebagaimana lazimnya setiap usai memberikan  materi pelajaran akan bertanya soal adakah yang hendak bertanya. Dan pada umumnya tidak ada.

Kenyataan yang telah lalu itu membuatku agak menyesal kini. Dan menurutku bukan soal mengapa murid jarang bertanya, tetapi mengapa guru tidak pernah memberi tahu kepada peserta didiknya bahwa bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu itu sangat baik, bahkan hal itu menjadi salah satu pintu yang paling berpeluang untuk menemukan hal baru di dunia ini. Mengapa? Apakah karena sistem penilaian peserta didik memang bukan ditekankan kepada pertanyaan tetapi jawaban?

Untung saja, aku tidak lantas terus seperti itu. Dalam artian kini aku tidak membiarkan diriku hanya dinilai dari jawaban-jawaban yang aku berikan kepada kehidupan, tetapi aku terus mulai bertanya dan mempertanyakan segalanya kepada kehidupan itu sendiri.

Bukankah akan sangat menarik, kalau ada ujian membuat pertanyaan atau mempertanyakan suatu materi pelajaran tertentu? Pasti kebiasaan mencontek akan hilang, sebab jawaban harus selalu benar, sedangkan pertanyaan pada dasarnya serba boleh. Sekalipun memang, di dunia ini kita tidak bisa lepas dari budaya tabu.

Bagaimana dengan rekan sekalian. Apakah waktu sekolah tipikal yang suka bertanya atau tidak? Bagaimana dengan sekarang, apakah masih suka bertanya atau tetap sama saja tidak suka atau jarang bertanya-tanya? Berbagi yuk!

[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire