Kamis, 03 Maret 2016

Manusia, Orang Utan, dan Perhatian Dunia

Beberapa waktu lalu, jagat dunia maya dihebohkan dengan foto dan berita tewas terbakarnya 3 ekor orang utan di Kalimantan Timur. Tentu saja hal itu merupakan berita yang memilukan hati, karena kita ketahui bahwa orang utan termasuk ke dalam sastwa langka yang harusnya dilindungi. Dan seyogyanya warga yang hendak membuka lahan pribadinya untuk perkebunan harus memastikan bahwa tidak ada satwa di wilayahnya. 

Kalau sudah begini, bagaimana? Jelas, kasus semacam ini menjadi perhatian dunia. Banyak media maya luar negeri yang memberitakan hal tersebut, dan tidak sedikit memberikan kesan negatif terhadap Indonesia. Apakah tewasnya ketiga orang utan karena ketersengajaan? Saya tidak tahu pasti, hanya saja saya menjadi berpikir tentang kita: manusia.

Apakah mata dunia akan cepat menoleh jika yang tewas adalah manusia? Kita ketahui bersama bahwa di kehidupan yang dikatakan sudah semakin maju ini, masih banyak peperangan yang menewaskan banyak jiwa, dan tidak sedikit itu dilakukan oleh negara di mana media asing yang memberitakan soal orang utan tersebut berada? Apakah media dapat berimbang dalam memandang?

Kita sendiri pun, bagaimaa rasa terhadap kemanusiaan? Ini bukan soal tidak peduli pada alam dan fauna di dalamnya. Hanya saja kadangkala kita ini benar-benar terbolak-balik dalam hal mengerti dan memahami. Di mana pada saat sekelompok orang menembak seorang di sebuah jalan di negara yang tengah kompliks, kadangkala tidak membangkitkan rasa kita, dibandingkan dengan kasus semisal di Kalimantan Timur tersebut.

Ironis memang. Apa yang salah dan apa yang seharusnya dilakukan? Tentu saja kita harus proporsional dalam memandang. Kita bisa memulai konsep hidup ramah lingkungan ekologis. Dan ini semua berfokus pada masalah sumber daya manusia. Bagaimana kita bisa menghadirkan manusia yang ramah tidak hanya terhadap alam fauna maupun flora, pun terhadap sesamanya yakni manusia?

Mungkinkah? Mungkin. Hanya saja prosesnya berat. Dan semoga kita yang berusaha untuk mencoba berpikir jernih, menjadi pioner. Setidaknya tidak bertambah manusia yang kurang ajar, yakni manusia yang hanya memikirkan keuntungan pribadi semata.

Dan tentunya. Semoga dunia tidak memandang sebelah mata, terhadap kasus kematian lainnya, utamanya soal manusia. 

[]

13 komentar:

  1. semoga kita tidak lagi mendengar adanya kebakaran hutan dan kematian orang utan, amin..

    BalasHapus
  2. harus imbang dan adil yach mas, sebagaimana kita care dengan flora dan fauna begitu juga kita memandang orang lain sama tinggi dengan kita.

    BalasHapus
  3. Sedih banget ya, manusia jadi makin kejam jaman sekarang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hasrat hewani manusia memang lebih dari para hewan itu sendiri...

      Hapus
  4. Betul juga ya... ketika muncul berita ada orang utan mati terbakar, dunia langsung bereaksi. Tapi ada pembantaian yang melibatkan banyak manusia, dunia bungkam seribu bahasa. Hanya gara-gara beda prinsip :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah, Mbak Nurul. Semoga kita bisa bijak dalam memandnag dan menyikapi pelbagai hal ya.

      Hapus
  5. iya ih, emang media tuh..kasian bgt orang utannya, gini nih kl rasa peduli sesama makhluk hidupnya kurang :(

    BalasHapus
  6. Pingin nangis kalo liat manusia jahat ke hewan

    Salam,
    Roza.

    BalasHapus
  7. kadang bingung kenapa ada orang jahat kayak gitu, ya Tuhaaan

    salam
    riby

    BalasHapus
  8. Aku mau peluk orang utannya :( mau mastiin ke dia, kalo dia gak sendiri. :(

    Salam,
    Rava.

    BalasHapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire