Sabtu, 05 Maret 2016

Ingin Terus, Terus Puas?

Sudah sering kita mendapati satu petuah yang menarik, dimana dikatakan bahwa Tuhan selalu menyediakan apa yang kita butuhkan dan perlukan dalam kehidupan, tetapi kita selalu mengharapkan Tuhan mengabulkan apa yang kita inginkan. Dan perkara ingin itu, mengapa terus-menerus ada? Apakah dengan begitu kita akan...

Lantas puas? 


Kalau sudah puas, lantas apa? Ingin yang baru lagi, ingin yang lain lagi? Tidakkah kita terpikir bahwa lebih baik merasa cukup daripada ingin terus? Tidakkah dengan rasa ingin terus sesuatu yang sebenarnya cukup pun seolah-olah tidak pernah dirasa cukup?

Tentu saja kita tidak bisa menampak bahwa hidup tidak bisa hidup dengan sendiri, dalam artian kita butuh akan kerja, sebagaimana pesan Khrisna pada Arjuna dalam masanya. Bahwa usaha, atau upaya itu sesuatu yang tidak bisa tidak harus dilakukan, dan pada dasarnya beberapa hal akan terlalukan dengan sendirinya. Tinggal, apakah kita kemudian akan menjadi sosok yang bersyukur atau tidak?

Sebaik-baik manusia tentu saja yang memiliki kepekaan atas segala rezeki sehingga dirinya tidak lalai untuk selalu bersyukur kepada Tuhan. Dan tidak menjadikan dirinya serupa dalam mitos hantu penasaran yang tidak ada habisnya. Semisal rasa lapar, setiap hari yang baru, setiap itu pula rasa lapar datang. Sudahkah kita bersyukur setiap kali rasa lapar datang kita bisa siasati dengan rasa kenyang?

Sunatullah memang kita ingin terus, tetapi jangan sampai terus ingin itu menjadikan kita sosok yang takabur atas segala nikmat yang telah Tuhan sediakan dan berikan kepada kita.

[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire