Selasa, 01 Maret 2016

Generasi Indonesia dalam Hashtag: Studi Kasus #RIPUus

SETIAP kali saya membuka akun twitter, saya selalu tertarik untuk melihat apa yang tengah nge-tren ditinjau dari segi hashtag. Dan beberapa waktu yang lalu, ada yang menarik minat saya, tentu saja bukan soal #IpulCabul, ataupun yang #Dahsyat ini itu. Tetapi #RIPUus. 


Awalnya saya kira itu hashtag simpatik karena seseorang yang bernama Uus meninggal dunia. Nyatanya? Ternyata itu semacam serbuan atas akun bernama Uus tersebut. Apa problemnya? Soal K-Pop. Lepas dari valid tidaknya pernyataan pemantik api dari akun bernama Uus yang kemudian menimbulkan #RIPUus, saya malah tertarik dengan respon dari mereka yang merasa tersinggung dan melancarkan serangan #RIPUus secara masif, membabi buta dan sebagainya. Tentu saja dalam satu dan lain hal pemilik akun Uus memang cukup prontal dalam hal pernyataan, tetapi itu pun memberikan gambaran tersendiri tentang kondisi generasi Indonesia khususnya yang menggunakan twitter.

Apa yang nampak? Emosional. Iya, tidak ada kata lain selain kata itu. Emosi yang meledak-ledak, tidak ada sanggahan yang bijak atau setidaknya cukup kritis. Yang nampak justru ledakan-ledakan. Sangat memperihatinkan. Mengapa seseorang yang mengidolakan sesuatu bisa sampai berbuat yang tidak semestinya? Bahkan dari segi kata-katanya selalu beremosi? Mengapa?

Apakah orangtua dan para guru gagal? Entahlah, mereka dengan sadarnya menyatakan jangan macam-macam, dan sampai bangga dengan kekejaman kata-kata. Anehnya, banyak dari tanggapan mereka itu sangat melenceng, seperti menjilat ludah sendiri. Memang sih, saya seperti tidak ada kerjaan, tetapi, entah bagaimana saya begitu tertarik juga menanggapi beberapa komentar, dan apa responnya? Tetap emosional dan keluar dari konteks. Susah memang dialog dengan orang mabok! 

Akhirul kata, kita seharusnya sadar, bahwa apa yang keluar dari mulut kita, adalah gambaran dari isi otak kita.

[]

4 komentar:

  1. Semoga para generasi muda kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk, tidak hanya mengandalkan emosi sesaat. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Mbak Nisa. Jadi jangan sampai taklid dengan yang dijadikan idola gitu ya

      Hapus
  2. sebenarnya mereka hanya sekedar idola, agak keterlaluan memang, tapi membandingkan wanita berhijab dengan wanita yang suka mab*k" an bukankah itu keterlaluan...
    Sangat lucu, tidak banyak orang yang tau bahwa orang" di korea selatan sendiri menghormati waita berhijab bahkan ada seorag member boyband yang memuji wanita berhijab karena mereka sangat menjaga aurat mereka. jadi mba bukan taklid atau ngikutin.
    kita jangan melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja,dan menurut saya uus harus mencontoh seniornya Raditya Dika yang mengatakan " Saya tipe orang yang menghargai karya, dari negri manapun" karena menurutnya Referensi= ilmu pengetahuan. sekedar meluruskan saja ya mba:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segalanya kini memang ke arah person. karya itu belakangan.

      Hapus

suatu kata merindukan kata lainnya

L'homme est libre au moment qu'il veut l'être ― Voltaire